Kisah-kisah Anak yang Dilacurkan (1)
Bergoyang-goyang di Mobil Roti
REMANG-REMANG: Kafe remang-remang sebagai salah satu tempat dunia kehidupan
malam di Kota Solo sering dijadikan arena menjajakan diri anak-anak yang
dilacurkan. (55) - SM/ YUsuf Gunawan
Kehidupan malam tak hanya milik kaum dewasa. Ada anak-anak (umur 18 tahun ke bawah) yang terlibat dalam aktivitas remang-remang, bergulat dengan asap rokok, minuman keras, dan seks. Jalanan, kafe, hotel, dan tempat hiburan lain menjadi arenanya. Hasil penelitian Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) UNS Solo dengan kerja sama Unicef dan Pemkot Surakarta pada 2004 menunjukkan, sedikitnya 117 anak yang dilacurkan beroperasi di Kota Bengawan. Bagaimana aktivitas mereka, berikut kisah-kisahnya. TENGAH malam hampir menjelang pagi, gadis bernama Mawar (nama samaran) menyetujui tawaran Rp 75.000 untuk kencan. Ajakan seorang awak armada penjualan roti kelilingan tersebut disambut anggukan ABG (anak baru gede) yang belum genap berusia 16 tahun itu. Berpikir praktis, keduanya pun "bergoyang" di dalam mobil roti yang diparkir di salah satu sudut Kota Solo.
"Karena kelelahan, dia (sang lelaki) tertidur. Beberapa roti di mobil saya makan, beberapa lainnya saya masukkan tas, lalu saya kabur. Yah, enak kan dapat bonus roti," kata Mawar sambil tertawa, saat menceritakan pengalamannya itu, di
sebuah kafe, di kawasan pusat kota Solo, pada suatu malam. Namun sesaat kemudian matanya menerawang. Sebatang rokok kretek yang terjepit di antara telunjuk dan jari tengahnya dihisap kuat-kuat. Di antara kepulan asap
yang mengudara, dia mengaku, sebenarnya ada rasa pahit di hati kecilnya. Di balik perilaku yang kadang cuek dan terkadang centil menggoda, dia merasa harus mencari uang, bukan untuk dirinya sendiri. Yah, sebagai anak sulung dia mengaku jadi tumpuan keluarganya di sebuah kampung di wilayah Sragen. Dua adiknya mengharap kiriman biaya untuk hidup dan sekolah. Sedangkan orang tuanya hanya dia sebut "tidak mampu", tanpa mau mengungkapkan
apa pekerjaannya. "Kalau sudah dituntut beban seperti itu, ya mau bagaimana lagi, Mas. Harapan
saya ya dapat banyak uang, untuk diri sendiri dan adik-adik," kata gadis belia bertubuh sintal itu.
Guna memudahkan aktivitasnya, dia tinggal pada sebuah rumah kos di Solo. Kadang order dia terima dari kenalannya, kadang melalui telepon selulernya. Terkadang pula dia mesti menjajakan diri di kawasan Monumen Perjuangan 45 Banjarsari Solo. Namun seperti dikatakan Kepala PPK UNS Ir Retno Setyowati Gito D MS, mobilitas
anak-anak yang dilacurkan itu sangat tinggi. Demikian pula Mawar, dalam tiga
bulan terakhir menjajaki pangsanya di Semarang. Tak ingin dibebani hal-hal
lain, dia pun bergerak sendiri dengan patokan tarif Rp 70.000-100.000 sekali
kencan.
Disusul Ibu
Nasib lebih pahit pernah dialami Bunga (juga nama samaran), sebelum diperistri
seseorang, sekitar enam bulan lalu. Perempuan berusia 18 tahun itu bahkan harus
bergulat menjadi seorang anak yang dilacurkan, demi mendapatkan uang. Hampir
sama dengan Mawar, dia juga biasa memasang tarif Rp 75.000 untuk sekali kencan.
Bagaimana perhatian orang tuanya. Jangan kaget. Perempuan berwajah manis itu
secara polos mengaku, bapak-ibunya sangat tahu "pekerjaannya". Bahkan dirinya
seperti bahan eksploitasi, karena sang ibu secara rutin meminta jatah uang
darinya.
"Ketika itu, dua minggu sekali ibu saya menyusul saya di kos-kosan. Dia selalu
minta uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga di Klaten," ungkap dia, yang sejak
enam bulan terakhir tinggal dengan suaminya di salah satu kawasan di Solo.
Dengan wilayah operasi di sekitar Monumen Perjuangan 45 Banjarsari, Bunga pun
sangat sadar atas risiko yang setiap saat harus dihadapi. Operasi pekat
(penyakit masyarakat) yang digelar gabungan jajaran kepolisian dan Pemkot
Surakarta, sewaktu-waktu dapat menjaringnya. Perlakuan kasar dari laki-laki
yang mengencaninya, juga sering dialami.
Sebagai seorang yang masih dikategorikan sebagai anak, semestinya Mawar dan
Bunga memang harus terproteksi dari pekerjaan untuk mencari uang, lebih-lebih
dengan cara-cara operasi prostitusi. Dalam UU No 23 Tahun 2002 tetang
Perlindungan Anak, disebutkan kategori anak-anak adalah mereka yang berusia 18
tahun ke bawah. Terhadap anak-anak itu, seharusnya diberikan perlindungan.
Setelah lepas dari usia 18 tahun, menurut peneliti Retno Setyowati, memang
tidak semua anak yang dilaporkan dapat terentas dengan sebuah pernikahan.
Banyak juga di antara mereka yang tetap bergelut dengan kegiatan pelacuran
dewasa. Bahkan, ada juga yang kemudian "naik jabatan" menjadi germo. Kembang,
misalnya, semula mengawali "karier" sebagai anak yang dilacurkan pada umur 16
tahun. Setelah itu jadi mucikari. (Setyo Wiyono
++++
http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/06/nas10.htm
Minggu, 06 Maret 2005NASIONAL
Kisah-Kisah Anak yang Dilacurkan (2-Habis)
Dari Perempatan ke Tante-tante
TOLE, bukan nama sebenarnya, hanya tersenyum saat ditanya berapa banyak orang
yang penah tidur dengannya. Anak lelaki berumur 16 tahun itu tak mau berterus
terang. Atau, mungkin juga lupa. Namun saat didesak terus, akhirnya dia mau
juga berucap meski singkat. "Banyak".
Yah, pelacur anak atau dalam istilah Unicef disebut anak yang dilacurkan,
ternyata tak hanya anak-anak perempuan, terutama di Kota Solo.
Dalam catatan hasil penelitian Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) UNS bekerja
sama dengan Unicef dan Pemkot Surakarta, ada 117 pelacur anak yang beraktivitas
di Solo. Tujuh di antara mereka adalah laki-laki atau sering dijuluki "lola"
(lonte laki-laki).
Mengejutkan? Bagi orang awam, bisa iya. Namun bagi kalangan yang paham dengan
komunitas kehidupan remang-remang, kondisi itu tidak mengejutkan. Bahkan
menurut Ir Retno Setyowati Gito D MS, Ketua PPK UNS, kenyataan itu merupakan
indikasi preferensi adanya perempuan yang hiperseksual.
"Meski kecil, itu bisa menjadi indikasi bahwa kecenderungan hiperseks bukan
hanya pada laki-laki," tuturnya.
Apa pun teorinya, yang jelas ada fakta. Segelas teh di hadapannya, mengepulkan
uap panas. Tole menatap dalam-dalam, sebelum mendongakkan kepalanya.
Sebatang rokok kretek filter dinyalakannya. Desah nafas panjang dia hembuskan,
sebelum dia mengawali cerita tentang dirinya, dari sebelum hingga menjadi
pelacur anak.
Ketika itu, dia masih duduk di kelas II salah satu SLTP di Solo. Namun sikap
dan perilakunya sudah liar, sama sekali tidak sama dengan gaya pergaulan
teman-teman sebayanya di sekolah. Hingga pada suatu saat, dia memberontak dari
rumah.
"Aku ngomong nggak suka sekolah lagi, tapi dimarahi bapak. Ya sudah, aku pergi
dari rumah, lalu tidur di emperan toko," ucapnya.
Sadar butuh uang untuk makan-minum, pakaian, rokok, dan minuman keras, dia lalu
bergabung dengan komunitas anak-anak jalanan yang biasa mangkal di seputar
perempatan Panggung, Jebres. Tanpa disadarinya, seluruh perilaku dan sikapnya
pun cocok dengan teman-teman barunya di komunitas itu.
"Tapi duit yang didapat dari ngamen hanya sedikit. Lalu aku bersama seorang
teman coba-coba mencari tante-tante di sekitar Terminal Tirtonadi," katanya.
Konsumsi Jamu
Iseng itu ternyata bersambut. Ada satu-dua ibu-ibu atau tante-tante berusia
sekitar 35-40 tahun yang menginginkan dirinya sebagai teman tidur.
Dengan berusaha semaksimal mungkin memuaskan penggunanya yang sebagian besar
dari sekitar Solo dan Yogyakarta, keuangan Tole pun membaik.
Untuk menjaga kebugaran tubuh, dia selalu mengonsumsi berbagai minuman seperti
jamu kuat, telur ayam, dan madu.
Sekali kencan, Rp 75-100 ribu dia terima. Bahkan kalau pelanggannya puas, uang
yang diterimanya bisa lebih. Kini dia tinggal di sebuah rumah kos dengan uang
sewa Rp 35 ribu per bulan di kawasan Banjarsari.
"Sekarang pelangganku ada yang menyampaikan pesan lewat teman atau kontak
telepon langsung ke aku," ujarnya sembari tersenyum.
Yah, mengamen dan terlibat dalam kehidupan anak jalanan, merupakan komunitas
yang berisiko tinggi atas merebaknya anak-anak yang dilacurkan. Tak hanya Tole,
si Nang (nama samaran) pun demikian.
Dia pun mengikuti rute dari perempatan ke pelukan tante-tante. Lelaki berumur
17 tahun itu tercebur dalam lingkaran anak jalanan terlebih dulu sebelum
menjadi "lola".
Sikap nakal dan sering bolos, membuat si Nang drop out dari bangku SMP di
dearah Sragen.
Dia pun bergabung dengan anak-anak jalanan. Awalnya, dia mengamen di bus-bus.
Ketika bosan di atas bus, dia lalu mangkal bersama kelompok anak jalanan di
salah satu perempatan di wilayah Solo. Kisahnya pun hampir sama dengan Tole,
"lola" berkulit putih bertubuh pendek itu lalu coba-coba mencari uang lebih
dengan menjajakan dirinya untuk "konsumsi" tante-tante di kawasan seputar
Terminal Induk Tirtonadi Solo.
"Kalau ngamen, dapat uangnya cuma sedikit. Tapi kalau melayani tante-tante,
bisa Rp 75 ribu sekali kencan hingga Rp 150 ribu fulltime atau semalam. Kamar
sudah dibayari, sehingga tak perlu tidur di pinggir jalan lagi," selorohnya.
Lain lagi yang dikisahkan Kacung, nama samaran "lola" yang tinggal di rumah kos
di kawasan Banjarsari. Sebelum menekuni pekerjaan sebagai gigolo yang juga
berawal dari komunitas anak jalanan, dia mengaku sudah mengenal seks. Pada umur
15 tahun, keperjakaannya hilang di dekapan WTS yang beroperasi di daerah Randu
Alas, kawasan prostitusi liar di sebelah utara Terminal Tirtonadi.
"Nah, maka setelah mengamen dan ingin mencari uang yang lebih banyak dengan
berkencan dengan perempuan, saya tak kikuk lagi melakukannya. Ya, senang-senang
saja," kata dia yang sudah dua tahun terakhir hidup berpisah dengan
bapak-ibunya itu.(Setyo Wiyono-78m)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar