About Me

Foto saya
Bantaeng, Sul-sel, Indonesia
Yg jeLas Baikkk deCh...

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Surat dalam Hujan

Selalu demikian di bulan Nopember ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Sore. Ya, pukul empat lebih, hujan seperti pantulan manik-manik kaca menderas seketika dengan anggunnya. Aku menyesal, sumur di luar pasti akan keruh lagi airnya, mestinya diberi atap nanti. Hujan. Aku duduk di sini, dekat jendela kaca memerhatikan curahan air yang mengguyur serentak dari udara. Seperti apakah bunyinya? Di atas atap, di dedaunan, di tanah becek, bahkan di kolam ikan yang berderet nun di luar? Aku tak tahu. Sunyi. Kecuali gelegar petir yang menghantam bumi. Ya, hanya itu yang kurasakan. Aku ingat kamu. Aku suka hujan, aku suka suasananya yang begitu kontemplatif. Kurasakan ekstase tertentu jika hujan. Memberiku inspirasi untuk menulis puisi. Bahkan juga menulis surat untukmu dalam suasana hujan kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor yang ironis. Aku rindu suratmu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, simpel dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dengan kenyataan yang kuungkapkan dalam suratku yang barusan kukirimkan. Mungkin kamu kebingungan dan terpaksa bertanya pada orang yang kebetulan pernah bertemu denganku, entah Mas Herwan FR atau Agus Kresna, meski ada yang merasa tak berhak untuk mengatakan apa-apa karena aku sudah memintanya agar jangan dulu mengabarkan kehadiranku pada orang-orang untuk suatu alasan. Dan rentetan kemungkinan lainnya mengendap dalam benakku. Namun aku harap kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima realita dalam hidup yang penuh ketakterdugaan. Aku kesepian. Apa yang kulakukan. Duduk di kursi sembari mengangkat kaki, dan di rumah hanya ada aku sendiri. Aku membayangkan kamu. Sosok yang tak pernah kutemui. Hanya foto yang kamu kirimkan melengkapi imajinasi: seorang lelaki gondrong yang menarik, dan merasa dirinya secara psikologis sudah dewasa dalam usia 23 tahun. Heran, di luar belasan burung entah apa namanya berseliweran dalam guyuran hujan begini, apa yang mereka cari? Barangkali kamu lebih tahu ekologi dan mau berteori? Aku kedinginan. Aliran listrik padam. Barangkali segelas teh manis panas bisa menghangatkan tubuhku. Apakah di Bandung saat ini sedang hujan juga, dan kamu tengah bagaimana? Mengisap A Mild ditemani secangkir kopi panas? Menulis puisi, cerpen, esai, surat, atau tugas mata kuliah? Di kampus, di rumah, atau di suatu tempat entah? Membaca diktat, buku tertentu, karya sastra, atau komik? Di depan monitor komputer, mengobrol, atau nonton TV? Mendengarkan The Doors atau Ebiet G. Ade? Tidur atau makan? Salat Asar atau menggigil kehujanan? Atau mengguyur badan di kamar mandi? Atau tak melakukan apa-apa sama sekali? Cuma Tuhan yang tahu. Relasi yang aneh, katamu, karena lewat surat. Lalu kamu menyuruhku belajar internet biar bisa bikin e-mail dan tak perlu ke perpustakaan konvensional. Dan kamu janji akan mengajariku jika nanti bertemu. Bertemu. Aku juga ingin bertemu kamu. Namun untuk apa? Adakah makna dari pertemuan itu? Kubayangkan kamu sebagai Indra, temanku, yang membagi dunia lewat tangannya. Namun apa kamu bisa bahasa isyarat sederhana cara abjad? Kamu kecewa karena aku tuli? Apakah dalam surat pertamaku aku harus memberitahu siapa diriku secara mendetail? Aku telah mengambil risiko. Begitu pun kamu. Risiko untuk merelasi diri dan berinteraksi dengan orang asing. Sebuah silaturahmi yang kumulai, haruskah berakhir sia-sia? Aku berusaha menerima diriku sebagaimana adanya dan menjadi orang biasa, meski aku tahu orang-orang di sekitarku kecewa. Keluarga, teman-teman, sahabat dekat, sampai siapa saja yang memang merasa harus kecewa. Bertahun-tahun, ada belasan tahun mungkin, sejak usiaku 16 tahun sampai 25 tahun, kujalani hari dengan sunyi, sebuah dunia tanpa bunyi-bunyi. Bisakah kamu bayangkan? Ah, aku tak akan bisa mendengar permainan harmonikamu, lalu membandingkannya dengan permainan harmonika abangku. Atau denting gitarmu dengan Eric Clapton. Atau bagaimana suatu melodi tercipta dari puisi. Aku juga tak akan tahu warna suaramu saat memusikalisasikan puisi, berdeklamasi, menyanyi, tadarus, berperan dalam lakon teater, atau bicara biasa saja. Kamu masih ingat, dalam salah satu suratmu, kamu menulis: Setting: Kamar, 141000 - 21.20 WIB, Dewa 19 - Terbaik-terbaik. Gurun yang baik. Barangkali sekaranglah saatnya! Lalu kamu membiarkan selembar halaman kertas itu kosong. Aku mengerti artinya, kamu ingin aku memutar lagu tersebut, dan membiarkan Terbaik-terbaik bicara. Sesuatu yang tengah menggambarkan suasana hatimu saat itu? Sayang, aku tak bisa melakukannya. Kata teman-teman, lagu itu tentang cinta dan persahabatan. Kurasa aku harus bertanya pada Rie, Indra, atau Nana; apa ada yang punya teksnya? Ironis, bukan? Tampaknya kamu senang menulis dengan diiringi musik. Aku iri padamu. Karena aku ingin tahu juga seperti apa indahnya musik klasik itu, entah Mozart yang kata Indra melankolis; atau Chopin di masa silam, gumam Cecep Syamsul Hari dalam puisi Meja Kayu yang kembali muram-surealis, menulis lagu pedih tentang hujan2; atau tahu di mana letak jeniusnya Beethoven yang mencipta komposisi meski tuli; dan bisa mengerti mengapa ayahku sangat menyukai musik klasik selain country. Aku rindu bunyi gamelan, dan ingin kembali belajar menari. Entah jaipong Jugala, tari klasik Jawa, atau mungkin sendratari seperti yang sering kusaksikan di TVRI waktu kecil dulu. Aku ingin berperan sebagai Drupadi atau Srikandi, perpaduan antara kelembutan dan keperkasaan. Kamu lebih suka karakter Bima? Aku suka karakter Yudistira, ia satu-satunya yang (hampir) berhasil mencapai puncak Mahameru sementara saudara-saudaranya satu per satu berguguran. Kamu tahu artinya, kan? Aku lupa penggalan kisah ini dari komik wayang R.A. Kosasih atau majalah Ananda -- yang pernah kita baca waktu kanak-kanak dulu, meski mungkin dalam dimensi yang berbeda. Sudahlah, setidaknya aku bisa tahu minatmu, dan kamu tahu minatku. Aku tak tahu banyak tentang musik, padahal kamu pasti asyik sendiri dengan The Corrs, Dewa, Kubik, Jim Morrison, bahkan juga Jimi Hendrix. Mengapa sih dalam cerpenmu yang barusan dimuat koran, kamu menulis soal Jimi Hendrix dan Jim Morrison? Itu mengingatkanku pada Abuy teman SMU-ku yang sangat mengidolakan mereka dan senang cerita soal itu padaku, seolah merekalah yang bisa meluapkan kegelisahan terpendamnya yang liar menuju muara kebebasan. Lucu, adakah orang tuli yang begitu besar rasa ingin tahunya tentang sesuatu yang tak mungkin bisa dirasakan. Katakan aku aneh. Aku memang orang aneh. Namun aku juga berharap bisa tahu lebih banyak tentang Iqbal, Rumi, Camus, Dylan, Gibran, Cummings, Malna, sampai Rendra. Ya, itu jika kita bertemu. Mungkinkah itu? Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih menghantam ruang terdalam. Aku butuh kawan. Kamukah orangnya? Tidak, kamu mungkin sudah berharap agar aku jadi seseorang yang ke lima setelah kamu kecewa dengan sekian perempuan yang masuk dalam hidupmu, meski itu terlalu dini karena kita baru tiga kali saling menyurati. Semudah itukah hatimu terpaut, atau kamu cuma ingin mengujiku? Tidak. Aku tak berharap apa-apa darimu. Aku hanya ingin jadi kawanmu. Kawan biasa. Bukan pacar. Meski aku juga ingin punya pacar, sebagaimana perempuan kebanyakan. Seseorang yang membuatku jatuh cinta sungguhan. Seseorang yang mencintaiku apa adanya. Seseorang di mana bisa berbagi dunia. Naifkah? Hujan. Aku kembali memandang ke luar jendela kaca. Di sana gunung begitu dekat dengan latar pepohonan seperti hamparan permadani hijau kebiruan, dan kabut yang mengental; terasa beku dalam pelukan kegaiban-Nya. Ya Tuhan, barusan kulihat kilatan petir membelah langit desa di sebelah utara. Subhanallah, indah sekali bentuknya; kilatan warna perak yang abstrak dengan latar kelabu. Aku membayangkan bagaimana seandainya jika petir tiba-tiba menghajarku. Sudahlah, mungkin lebih baik aku membayangkan diriku sebagai Walter Spies atau Alain Compost; akan kuabadikan keindahan panorama hujan. Tidak. Aku bukan mereka. Aku cuma punya kata-kata. Bukan kuas atau kamera. Namun kata-kata yang berhamburan dari mulutku pasti tak akan kamu mengerti sepenuhnya jika kita berbicara. Kamu akan membutuhkan waktu untuk mengenali warna suaraku yang kacau intonasinya, seperti teman-teman dekatku. Mungkin cukup lama. Apakah kita akan bertemu dan bicara seolah kawan lama dengan akrabnya? Atau kaku lalu merasa sia-sia? Aku bukan May Ziadah, Elizabeth Whitcomb, Mabel Hubbard-Graham Bell, Marlee Matlin, atau Jane Mawar. Atau perpaduan perempuan mana yang pernah kau kenal.Hujan

Menunggu Pelangi

“Pelangi!! Ayo kesini! Hujannya lumayan deras nihh! Nanti sakit loh!” teriakku sekencang – kencangnya ke arah Pelangi yang dari tadi mengincar air hujan yang berjatuhan. “ Bentar donk! Lagi seru main sama air nih! Lagian kalo disitu nanti kita ga bisa lihat pelangi tau!” balas pelangi dari kejauhan. Aku segera mendatanginya. “ Mana Ngi pelanginya?” tanyaku penasaran dengan kata–katanya barusan. Di situ aku pertama kali melihat pelangi yang indaaahh sekali bersama dengan sahabat setiaku, Pelangi.                        
Oh iya. Kenalkan namaku Tito. Aku sudah duduk di bangku kuliah. Semester 4. Aku sangat suka dengan dunia balap. Piala dan penghargaan prestasiku di dunia balap juga ga dikit lho. Cuplikan tadi hanya seberkas cerita kecilku bersama sahabatku Pelangi. Dan itu adalah kali pertama kita melihat pelangi bersama – sama dan akhirnya menjadi hobi kita setiap ada hujan.                          Hari ini, begitu indah untuk seluruh keluargaku. Ayah baru saja pulang dari Amerika. Kenangan indah masa kecilku bersama ayahku kembali lagi di benakku. Tami dan Hugo juga terlihat senang. Terutama si Tami, adikku yang paling kecil sekaligus paling manja dan cerewet ini seakan tak mau lepas dari pelukan ayahku. Mama juga memasakkan makanan kesukaan semua anggota keluarga hari ini.                          Tak lama, rintik – rintik hujan mulai berdatangan. Makin lama makin deras. Ikan – ikan dibelakang rumah membiarkan nuansa hening dan damai dari rintik – rintik hujan menambah volume air di habitat mereka. Tumbuhan – tumbuhan juga membiarkan tetesan air membasahi permukaan daun mereka.     Teringat kembali aku akan si Pelangi. Dia masih satu kampus denganku. Ku angkat telepon genggamku yang ada di atas sofa yang sedang kududuki sekarang ini. Aku mencari nomer telepon dari sahabat tercintaku itu. Setelah kutemukan, kutekan tombol berwarna hijau yang ada di antara beberapa tombol lain. Mulailah suara halus dan lembut menjawab panggilanku. Aku mulai berbincang dengan Pelangi dan mengajaknya pergi bersamaku untuk melihat pelangi di angkasa sebelum hujan reda.                            “ Hayo kak Tito janjian sama kak Pelangi yaaa......” tiba – tiba suara si Hugo menyadarkanku dari serunya pembicaraan dengan Pelangi. Segera kutarik kulit tangannya setelah aku menutup telponku dengan Pelangi. “ Apaan sih kamu itu! Masih SMP jangan ikut – ikutan! Kakak mau pergi sama kak Pelangi dulu. Ntar bilangin ke ayah sama mama oke?” aku bertutur kepada adik laki – lakiku yang rese’ ini. Seraya dia menjawab, “ Pake pajak dong kak!”. Aku tercengang. Si Hugo nyengar – nyengir ga karuan. Oke deh, aku kasih dia uang jajan.                            “ Hai! Udah lama ya? “ sapaku dengan menepuk pundak si Pelangi yang sudah menunggu beberapa menit. “ Eh? Oh, enggak kok. Baru 10 menit.” Jawabnya dengan lembut. “ Oh. Sorry ya udah buat nunggu.“ pintaku dengan penuh harap. “ Nggakpapa To. Santai aja deh.” Jawabnya dengan santai dan tulus. Pelangi langsung menunjuk ke langit yang sedang menurunkan air saat itu. Kami berdua langsung tersenyum bersamaan. Bangku taman yang kami duduki terasa hangat dan nyaman. Huft, seperti dulu lagi. Sangat indah saat ini.                           Sungguh romantis situasinya. Sempurna sekali dengan rencanaku yang sudah beberapa tahun kupendam. Aku merentangkan tanganku ke pundak Pelangi. Pelangi yang terkaget segera memandang wajahku. Dengan lirih aku menanyakan hal yang sangat sulit untuk ditanyakan dan dijawab. “Ngi. Ehm.., Pelangi. L, lo, lo mau ga…” aku berusaha bertanya dan mengeluarkan kata – kata. Pelangi menjawab tanyaku yang belum selesai kuucapkan “Mau apa To? Kalo bantuin lo, gue mau kok.”. “ Ituh, bukan. Bukan bantuin gue. Tapi lo mau ga… jadi.. jadi.. pa..” aku ga bisa mengeluarkan kata – kata dengan sempurna. “Huft.. ayo bicara Tito!” aku berbicara pada diriku sendiri dalam hati.                             Mobil Avanza berwarna silver menghampiri kita. “ Eh To. Ga terasa kita udah lama lho disini. Tuh kakak gue udah jemput. Ngomongnya besok dikampus ya. Oke friend??” seru Pelangi bergegas menghampiri mobil kakaknya. “ Eh, Ow. Oke deh. Bye..” aku menjawab seruan pelangi dengan kecewa karena aku ga bisa mengungkapkan rasa yang sudah lama ingin aku ungkapkan. Apa lagi, dia memanggilku ‘friend’, apa mudah buat aku nembak dia??                         Di kampus, aku memulai pelajaran bersama semua teman – temanku yang menambah ceria hari – hariku. Seperti awalnya, anak – anak GALGOBHIN atau pasnya genknya si Rico, anak terpintar,terbaik, dan tersopan di penjuru kampus sekaligus rivalku untuk mendapatkan Pelangi ini menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Pak Fardi yang adalah sang Master dari Matematika.                          Istirahat, aku menemui Pelangi duduk bersama Chika dan Tiwi di kantin. Aku meminta izin pada Chika dan Tiwi untuk berbicara sedikit dengan Pelangi. Dan aku diizinkan. Aku menarik tangan Pelangi ke depan pintu kantin.                              Dag dig dug makin terasa. Makin keras, keras, dan terasa jantung ini akan pecah. Mengapa? Karena aku berhasil dengan lancar menembak Pelangi. Sekarang aku tinggal menunggu jawaban. Kutatap matanya, ia juga menatap mataku. Dan jawaban apa yang kudapat? “Ehm, gimana yah? Oke deh. Tapi kita harus serius dan ga main-main oke?” Jelas saja kubalas “PASTI!!!”.                              Diriku serasa melayang bebas ke udara. Lalu kutemui bidadari di sana. Aku berdansa dengannya dengan disaksikan oleh keluarga dan sobat-sobatku disana. Siapa lagi bidadarinya kalau bukan Pelangi? Kita jadi sering banget jalan berdua. Dan sering juga melihat pelangi bersama-sama.                           
Setelah gossip jadiannya aku sama Pelangi tersebar, Rico and friends mendatangi aku. Aduh, dia pasti bakal ngelabrak aku habis – habisan nih. Aku bergegas pergi dari dudukku. Tapi anak buah Rico menarik tas hitamku. Aku jatuh ke lantai dan merasa ketakutan sekali. Apalagi Dido dan Rahman yang bergabung di genk itu adalah juara boxing antar kampus. Keringat dingin bercucur dari dahiku hingga ujung dagu. Perlahan – lahan Rico menjulurkan tangannya. Aku memejamkan mata dengan kuat dan berusaha melindungi kepalaku dengan lenganku. Tapi apa? “ Slamet ya. Ternyata lo yang ngedapetin Pelangi duluan” Itu yang Rico ucapakan. Hah? Bener? Waw. Aku ga nyangka banget ada orang yang baik sampe kaya gitu. Makin seneng deh.                               Besoknya, aku berangkat ke kampus kaya biasa. Naik sepeda motor sama boncengin Pelangi. Pelangi juga memberiku gantungan kunci benang berwarna – warni mulai dari merah dan berurut sampai ungu. Ditengahnya terdapat plastik bertuliskan ‘Rainbow’ dan sekarang kugunakan untuk menghias kunci sepeda motorku.                             
Pulangnya aku dikabarkan dengan kabar yang sangat tidak menggembirakanku. Ayahku masuk rumah sakit! Mengapa? Aku juga ga  tau. Intinya, mama meneleponku dan memberitahu kalau ayah masuk rumah sakit. Segera kulajukan dengan cepat Sportbikes menuju rumah sakit.                               Aku melihat mama, Tami dan Hugo terduduk lemas di ruang tunggu. Aku segera menghampiri mama. “ Mama! Gimana ayah?!” bermuka pucat mama menjawab, “Ayahmu kumat lagi To. Padahal sudah lama penyakit ayah tidak muncul.”                             
Aku terduduk lesu ke kursi di sebelah adikku Tami. Tami memandangi wajahku dengan raut wajahnya yang pucat dan berusaha menahan tangis. Aku mempersilahkan untuk meletakkan kepalanya di dadaku. Kupeluk erat badan mungilnya. Dengan isak tangis keluargaku benar -  benar dipenuhi haru hari ini,                             
Otakku berjalan lambat ke belakang dan membiarkan kotak di pojok otakku memutar kembali memori kita sekeluarga. Aku teringat beberapa minggu lalu saat ayah baru pulang dari Amerika. Keluargaku benar – benar senang dan bahagia. Hingga kutemui Pelangi dan kutembak dia. Saat ayah memberikan oleh – olehnya pada kami. Dan saat Hugo menggangguku ketika bertelepon dengan Pelangi. Oh betapa berbeda sekali dengan hari ini.                             
“Tito!!” panggil mama dan menyadarkan lamunanku akan memori beberapa minggu lalu. Mama memberi kertas berisi biaya yang harus dibayar untuk perawatan ayah. “ Segini banyak, Ma?” aku bertanya heran pada mama. Mama menganggukkan kepalanya pertanda kata – kata “ IYA”                          
Gimana cara mendapatkan uang sebanyak ini? Aduh… Pikiranku lebih kacau dan makin stress ketika Pelangi berkata ia akan pergi ke Australia. Ya ampun! Apa ada lagi cobaan yang akan menerkamku setelah ini? Ah! Terpaksa aku harus merelakan kepergian Pelangi ke Australia. Tapi kali ini lebih haru lagi yang kurasakan. Hatiku seakan dicabik – cabik. Aku berharap Pelangi bisa mengingatku di sana. Kuharap Pelangi juga akan menepati dan tidak mengingkari belasan janjinya padaku. Baiklah, aku masih punya gantungan kunci dari Pelangi. Aku harus memikirkan caraku mendapatkan uang untuk perawatan ayah. Tapi dimana?                                 Oh iya! Ada Paman Heru! Paman yang paling berjasa di dunia balapku. Aku pergi ke rumah Paman Heru saat itu juga. Aku lihat Paman Heru sedang bersantai di depan rumahnya sambil minum kopi. Aku menyapanya dan mulai berbincang beberapa lama.     “Kamu butuh uang berapa To?” Paman Heru bertanya sambil bersiap mengambil dompet kulit dari saku celananya. “Segini Paman” aku memberikan kertas yang diberikan mama saat di rumah sakit. “ Wah. Banyak nih To. Oke paman mau kasih. Tapi Cuma bisa seperempatnya aja. Sisanya cari sendiri oke?” sahut paman. “Oke deh paman.” Balasku sedikit kecewa. Paman Heru mengeluarkan hampir seluruh isi dompetnya. Ku raih uang itu. Aku mengucapkan terimakasih.                                 “ Ehm, paman. Cari sisanya dimana yah? Maaf ya paman kalo ngrepotin..” “ Aduh dimana ya? Paman Heru udah jarang banget ketemu event – event balap.” Jawab Paman Heru. “ Bener nih Paman? Ngga ada sama sekali?”  tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. “ Ada sih satu. Paman kemarin ketemu satu event. Hadiahnya lumayan gede juga” jawab paman sekali lagi. “Ya udah aku ikut.” Jawabku tanpa pikir panjang. “Tapi yang ngadain Komunitas Bali.” Ujar Paman. “Hah? Bali? Balap Liar paman?” tanyaku dengan  heran. “Iya. Kamu tau kan konsekuensinya?” “Emmmm, oke deh gapapa. Pokoknya ayah sembuh.”                            
Setelah kubicarakan hal ini dengan mama, Tami dan Hugo, tak ada yang menyetujui kesepakatanku kecuali Hugo. Hanya dia yang menyemangatiku saat itu. “ Udah To. Kalo ada barang yang bisa dijual, biar mama jual daripada kamu ikut balapan kaya gitu.” Mama melarangku. “ Iya kak. Biar nanti Tami jual gorengan atau apa gitu buat bayar biayanya ayah. Daripada kakak nanti kenapa – napa.” Tami yang masih di bangku SD itu juga berusaha melarang. Tapi keputusanku udah bulat. Aku akan tetap mengikuti balap ini.                             Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Sudah siap aku di atas motor balapku ini. Tak lupa ada gantungan kunci dari Pelangi yang menemaniku. Para cewek – cewek di depanku menarik bendera hitam putih di tangan mereka. Segera melaju kami semua. Urutan pertama ada rivalku si Joe. Tapi aku berusaha menyalipnya. Beberapa lap sudah kulewati. Tinggal satu lap lagi. Aku masih di urutan dua. Joe mengencangkan lagi gasnya. Aku juga tak mau kalah. Aku tancap gasku. Kini jarakku dengan Joe hanya beberapa cm! Kutancap lagi gasku! Garis finish sudah ada di depanku. Mataku mulai jeli memainkan trik. Kutancap gas hingga aku berada di depan Joe. Kuhalangi laju motor Joe dengan zig zag. Tinggal sedikit lagi.. Ya, ya, ya.. YESSS!!! Aku berhasil mencapai urutan pertama di garis finish.     Paman Heru berteriak menyemangatiku dari jauh. Para penonton menyoraki dan memberi tepuk tangan untukku. Sangat haru sekali. Sangat memuaskan. Tapi, polisi! Polisi! Polisi! Penonton berlarian kesana kemari. Para pembalap lain melaju kencang tak berarah. Paman Heru berteriak padaku “Tito!!!! Ayo pergi!!!! Paman ga mau kamu ditangkap polisi!!!” “Lhoh kenapa paman???!!!!! Aku kan belum dapat hadiahnya!!!!” teriakku membalas paman Heru. “Tito ini Balap Liar!!!!! Kamu lupa ya????!!!!!!”                              
Jregg. Oh iya!! Aku baru teringat. Kutancap gasku. Aku melaju tanpa arah. Tak kusangka segerombolan cewek centil berlari dengan histeris di depanku. Aku rem motorku dengan sangat mendadak dan dengan kecepatan yang melebihi normalnya. Keseimbanganku goyah. Aku terjatuh dari motorku!                               
Kaki kiriku tertindih body motorku. Sebelum kubebaskan kaki kiriku, kuraih dulu gantungan kunci dari Pelangi. Sedikit lagi…, yah! Aku berhasil membebaskan kakiku! Gantungan kunci dari Pelangi juga sudah kukantongi.                                 
Belum aku berdiri dari jatuhku, seorang pembalap dengan motor besarnya segera melindas kedua kakiku dengan kecepatan tinggi. Sakit sekali! Aku mengerang kesakitan. Benar – benar sakit. Lebih sakit daripada hatiku yang tercabik saat Pelangi pergi. Paman Heru datang menghampiriku. Belum sempat aku mendengar Paman Heru berbicara, pandangankupun gelap. Apa ini? Aku sudah mati? Oh aku sudah mati ya. Ternyata  aku sudah mati.                                
Perlahan – lahan aku membuka mataku. Rasanya sudah lama sekali aku tidur. Tapi ada mama di depanku. Tami dan Hugo juga ada. Baunya sama persis ketika aku melihat ayah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Oh? Aku sedang ada di rumah sakit?                            
Aku bangun dari tidurku. Kulihat anggota badanku. Ada yang hilang!! Kakiku!! Mana?? Dimana kedua kakiku? Tertanya peristiwa itu membuat aku kehilangan kedua kakiku. Harusnya aku menuruti nasehat mama dan Tami. Pasti tidak akan seperti ini jadinya. Ah! Tapi nasi telah menjadi bubur. Apa daya??                            “Kak, waktu kakak koma, kak Pelangi dating kesini lho.” Kata Tami saat aku berbaring di ranjang tidur. “ Oh ya? Terus terus? Kak Pelangi bilang apa aja?” tanyaku penasaran dan langsung bangkit dari tidurku. “Enggak bilang apa – apa. Cuma kesini pegang tangan kak Tito terus pulang.” Jelas Tami. “Cuma gitu? Dia ga nitip apa – apa?” aku heran. “ Emm, enggak kok.” Jawab Tami ragu. “oh. Ya udah deh”.                            Siang itu hujan turun. Aku sangat ingat pada Pelangi. Soalnya dia pernah buat janji tiap ada hujan turun dia akan balik buat liat pelangi sama – sama. Dengan bantuan dorongan Hugo, aku menelusuri lorong rumah sakit hingga ke lobby dengan kursi roda. Kutunggu terus hingga Hugo tertidur di atas sofa. Tapi hingga larut ia tak juga datang.                             Namun aku sangat menyesal menunggunya sejak aku melihat surat yang terletak di atas meja. Andai saja waktu Tami bercerita padaku, aku tau kalau di tangannya ada surat dari Pelangi. Surat itu berisi :  “Buat Tito sahabat gue sekaligus pacar gue yang paling  gue sayang. To, gue minta maaf. Gue ga bisa balik lagi buat liat pelangi sama – sama lagi kaya dulu. Soalnya di sini gue udah ketemu ama cowok yang gue pikir bisa dampingin hidup gue. Tolong titip gantungan kuncinya ya. Rawat yang baik oke?”       Itupun belum semua. Yang paling membuat aku menyesal menunggunya semalaman adalah kalimat terakhir dari suratnya. Yaitu: “Gue ga bisa hidup sama orang cacat kaya lo”                          
Kini kusadari, pelangi hanya terbentuk dari pembiasan yang tidak nyata. Namun bisa membuat satu cahaya putih menjadi bermacam – macam warna. Tetapi pelangi hanya sementara dan bila tak ada air dan cahaya pelangi hanya akan mengingkari janjinya untuk menyinari dunia.      Sama seperti si Pelangi. Pelangi memiliki ciri – ciri yang kuimpikan namun tidak nyata di hatinya. Ia bisa membuat hidupku berwarna dan ceria. Tapi hiburan itu hanya sementara untukku dan bila tidak ada diriku yang utuh seperti dulu, ia mengingkari janjinya dan berpaling.

Berpisah oh No

Air mata menetes ke bajunya setik demi setitik, dia hampir putus asa dengan semua kejadian ini, menyerah! Dia hilangkan sifat utusan Allah itu, setan seakan akan mengajaknya masuk ke jurangnya yang dalam . Terdiam Terdiamlah yang dilakukannya. Tiba tiba,”Hai friend how are you ?” Tanya temannya dengen logat sok inggris.”sok Inggris lo,” jawabnya “emang gue kayak bule” kata temannya lagi “iyabule, budaknya kale ya”katanya untuk menutupi kesedihannya “eh prend ngomong 2 how are you itu apa se?” Tanya temennya.Dia bicara”kamu itu gimana sih ngomong gak tau artinya dong dong lo!how are you itu apa ya ,eh kamu tau nggak kalo…”,”pertanyaan gue kan belum dijawab boba lo”kata temennya “apaan tuh”Tanya nya,temennya menjawab”bodoh bangethahahahahahaha ha”, “ah udah kamu gila kale ,frend Can I megang your batuk” katanya”eh aku nggak SGM ya!”cegah temannya.
Tiba tiba mereka diam, mereka melamun. Tiada suara yang mereka keluarkan dari mulutnya, Hening.Dan kau tahu Tiwi meneteskan air matanya lagi,” Kenapa sih lo itu” kata temennya si Mina.air matanya semakin deras mengucur di pipinya, lebih deras dari air hujan yang turun ke bumi.Mina merangkul Tiwi agar tenang.”Sudah kamu diam dulu baru kamu bicara ya!”kata temennya itu.Tiwi bernafas sejenak lalu dia berkata”kalo kita ditakdirin berpisah apa reaksimu”, “What ? berpisah !”Tanya temennya.”aku nggak bercanda aku serius tambah bisa jadi seratus rius”katnya.”kenapa kita berpisah apa yang bisa menyebabkan kita berpisah”,Tanya temennya”teman, kamu tahu ortu gue kan, dia orangnya kelewat batas, aku benci itu, sebenarnya dia itu harus mencerminkan perbuat an yang baik bukan seperti itu, dia itu orang apa iblis”katanya Temannya berkata”lha terus apa hubungannya denga perpisahan kita ini”.”orang tua gue tidak memperbolehkan aku bergaul ama kamu “ katanya, “kenapa” tenya temennya,”kamu itu dianggap orang penyebar perbuatan buruk, katanya gara gara kamu aku jadi bodoh, jadi anak kurang ajar lah, jadi anak yang durhakalah, dan mulai besuk aku akan dikawal dengan pengawal pribadiku”.”mungkin lebih baik begitu kitakan masih bias calling, ya,nggak” kata temennya dan pergi meninggalkan Tiwi, dia pergi ke kamar mandi ,menangislah yang ia lakukan,dia kenang masa masa indah bersama teman akrabnya itu,”kita sudah bersama sejak kecil,kenapa kita harus berpisah,hanya kamulah teman aku, hanya kamu kawan, aku harus cari cara, tapi…, yah aku harus cari cara.”katanya dengan nada kepastian.
Next morning,Mina berangkat pagi pagi untuk memastikan perkataan sahabat karibnya itu,dan ternyata,memang betul apa yang didengarnya itu,Tiwi diantar oleh pengawalnya yah istilahnya bodyguard gitu,apalagi si bodyguard itu mengantarkan Tiwi tidak hanya sampai pintu gerbang, tetapi di depan kelasnya,dan bodyguard itu juga menungguinya di tempat parkir, dan ini membuat hati Mina semakin benci ingin meremas remas saja tubuh ortunya Tiwi itu.
“Eh lihat tuh, Tiwi ada bodyguardnya seperti anak kecil aja hahahaha”, kata salah satu teman Tiwi,ternyata tidak hanya Mina yang jengkel dengan kelakuan ortu Tiwi tapi, juga Tiwi ,dia malu dengan teman temannya.
Hari demi hari pun berlalu,minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan,mereka berdua sudah tidak kuat dengan peristiwa ini,tiba tiba Mina mempunyai ide dan dia segera cepat menyambar Hp nya yang ada di meja,”halo, bisa bicara dengan Tiwi”tanyanya di telpon,”ya saya sendiri,Mina ya ada apa Min gimana kabarnya, maklum kita jarang komunikasi selama 5 bulan”jawab Tiwi dengan nada yang super cepat dan ingin tahu,”aku baik baik saja kamu jugakan”jawab Mina,Tiwi berkata,”Kata siapa gara gara ortuku kita berpisah, padahal apa sih salah kita, sebenarnya aku ingin mencari cara untuk keluar dari belenggu ini, I hate it”,”sok inggris lo ,eh prend kamu tahu nggak, kalo aku punya ide untuk bebas dari kutukan ini”kata Mina,”kutukan kata lo, aku nggak percaya, moga aja kamu cepat dibawa ke RSJ,amien”kata Tiwi.” Aku serius!, begini…….eh,jangan jangan kita bicara di taman aja ya”kata Mina,”aduh kamu kan tahu aku harus selalu bersama pengawalku itu”kata Tiwi,”dari dulu sampai sekarang kamu sama ya,sama sama boba”,cela Mina”aku beneran, aku nggak bias berpikir sekarang, udah dech ngomong aja bagaimana caranya, jangan basa basi, jangan jangan kamu juga tak tahu caranya”kata Tiwi ,” Kamu nggak bisa serius ya, kamu ajak pengawal lo ke taman, setelah agak lama, kamu ke kamar kecil, nah aku akan siap sedia di sana, gimana setuju nggak”,ide Mina,”oke “jawab Tiwi.
Sesampai Tiwi disana,dia mengajak pengawalnya untuk makan bakso, Tiwi cepat cepat makan,setelah ia selesai dia melakukan instruksi Mina tadi, sedangkan pengwalnya itu ketiduran karena kebanyakan makan.
“Hai Tiwi sini”,teriak Mina,”Hai, cepat katakan aku mau les piano nih,” kata Tiwi”oke, begini blablablablabla blablablabla,gimana setuju nggak”kata Mina,Tiwi kaget”apa ?aku kamu suruh minggat ”,”sut, rahasia, mau nggak”ajak Mina,”Demi sahabat aku mau dech”kata Tiwi.
Hari H pun tiba, ketika malam,Tiwi menyelinap keluar rumah dia ingin kabur, menghilang,dia lari jauh ke tempat yang telah direncanakan.
“Oh tidak Tiwi kabur, papaaaaaaaaaaaa, Tiwi tidak ada di kamarnya”jerit mama Tiwi dengan nada cemas,” tenang ma,papa akan telpon polisi”kata papanya.
Hari berganti hari, hilangnya Tiwi tersebar di sekolah nya begitu juga dengan Mina si pembuat perencana, Semau anak kaget sekaligus sedih dan mengira ini semua hanya karena ortunya yang sok disiplin, tetapi tidak bagi Mina, dia berpikir rencananya berhasil, dia tersenyum puas dan memberitahu Tiwi bahwa rencananya berhasil.
Salah satu teman Tiwi mengajak berunding untuk mengatakan kepada orang tua Tiwi terlalu keras dengan anaknya itu,dan keputusannya adalah Mina, Lintang, Ikal dan Maharlahlah yang akam menjadi wakil masalah ini.
“Assalamualaikum”ucap mereka serempak didepan rumah ortu Tiwi,”Waalaikum salam”jawab papa dam mama Tiwi.Setelah mereka dipersilahkan masuk mereka memberi jalan tentang permasalahan ini mereka sedikit menegur ortu Tiwi dengan sopan,sebenarnya papa dan mama Tiwi tidak mengijinkan Mina masuk dan ikut berbela sungkawa, tapi karena mereka mengotot untuk diperbolehkan, ortu Tiwi mengijinkan.Setela agak lama mereka menyampaikan berbagai masaalah dan ide, mereka mengambil keputusan agar memperbolehkan Tiwi bebas,dan bergaul dengan Mina.
Sampai keesokan harinya, polisi menyatakan bahwa Tiwi telah diketemukan, gembiralah hati orang orang disekitarnya. Dan mereka mengadakan syukuran, ortu Tiwi juga menyatakan Tiwi boleh berteman dengan Mina.
Selesai acara mereka berbincang bincang,“Akhirnya kita bisa brsahabat kembali tanpa ada gangguan lagi” kata Mina “ya iyalah”,kata Tiwi.”Teman apa kesimpulan kalian dari peristiwa ini”,Tanya salah satu temannya,”Kesimpulannya BERPISAH OH NO”jawab mereka berdua bersama sama.Dan mereka tertawa bersama sama sebagai tanda persahabatan

Memoar of Crazy

ADA YANG BERLARI DI SANA !Di balik lorong samar lembab dan tak nampak. Pergelanganku meregang. Bau pengap dan aneh tercium setiap aku menarik napas. Kupikir saat itu bumi sudah kehabisan oksigen. Tetapi lebih dari itu, aku merasa sesak saat semua mata memandang. Sebagian memandang seolah aku anak kecil. Tersenyum seolah aku sedang merengek. Aku bukannya merengek, aku meraung untuk dilepaskan.Pintu berwarna putih dengan bercak noda di sudut tertutup. Aku berjalan menuju jendela berjeruji penjara. Kupegangi jeruji dingin dan berkarat. Semua yang kukenal berubah pandang dengan mata berlimpah cairan. Kulihat mata mereka memerah. Itu kali terakhir kusaksikan kerabatku. Sekaligus kali pertama aku berada di antara orang-orang aneh yang hilang akal.   Aku menyisir rambut yang mulai kusut dan menipis. sudah lama aku melakukan ini di depan cermin. Sejak si Nyonya Cina berceloteh tentang anak cicitnya yang banyak hingga ia selesai boker. Bukannya aku ikut-ikutan hilang akal dengan sengaja memperlama menyisir rambut tipis ini. Melainkan memang rambutku tak sehalus sebelumnya.Seseorang datang. Meraih sisir. Mencoba merapikan rambutku dengan perlahan.“Kalau mau menyisir rambut kusut, lakukan dari sisi ujung rambut. Hal itu tidak akan membuat rambut berguguran.”Dokter muda itu baru saja diangkat sebagai dokter di sini. Ia berasal dari universitas ternama di ibu kota negeri. Dia ditempatkan di sini dan langsung menanganiku. Namanya .... ? Entah ? Aku lupa. Atau bisa saja aku tak mau tahu. Aku hanya tahu dia Dokter!“Suami saya datang, Dok ?”“Belum, Bu. Tapi...bukannya tadi keponakan Ibu datang? Dia kan menitipkan makanan untuk Ibu ? Dia bilang akan mengajak adik-adik Ibu ke sini.”“Siapa?”“Keluarga Ibu...”Aku memandangnya miris. Entah apa yang ada dalam benaknya. Ia bukan keluargaku. Ia orang asing. Kenapa ia sampai memvonis kalau ada beberapa keluargaku yang datang? Aku tahu ... aku tahu dia hanya menghibur. Tapi hiburannya malah membuat aku tambah hilang akal. Coba Kau pikir. Kalau tak ada satu pun keluargaku yang datang menjenguk, kenapa Dokter itu sengaja berbohong hanya karena ingin menghiburku? Aku begitu kenal dengan keluargaku sendiri.    Aku tahu...aku sudah hilang akal. Tak ada satu pun dari mereka yang dengan rela mengakui kalau aku masuk dalam garis keturunan mereka. Sebab aku sudah hilang akal. Mereka pasti malu. Tak akan mau menginjak hidupku lagi semenjak aku dituduh hilang akal. Hanya aku, Tuhan, dan setan yang tahu.  Ini semua manipulasi. Beberapa kebunku kini rusak. Dulu, semua tanah yang kupunya selalu tumbuh subur. Berbeda dengan milik mereka. Kini, setiap panen di kebun mereka selalu berlimpah ruah. Berbeda dengan milikku. Aku pikir itu hanya rahmat Tuhan yang diputar dariku ke mereka. Tak apalah. Toh untuk adik-adikku juga. Tapi, sekali lagi, hanya aku, Tuhan, dan setan yang tahu kalau malam itu kutemukan jarum yang tertanam di belakang dapur! Dokter itu kembali mengajakku bicara. Ia bertanya. Aku tahu ia memancing sebuah fakta dariku dengan pertanyaan kecilnya seperti menanyakan siapa-siapa orang yang sering aku sebut. Ia ingin tahu apa penyebab sebenarnya aku hilang akal. Aku tak mau mengatakan kalau aku menemukan jarum yang tertanam di belakang dapur. Itu malah akan semakin memebuat mereka mengira aku hilang akal. Biarkan saja dia berspekulasi macam-macam. Aku hanya ingin bersikap seperti biasa. Aku tak mau berontak atau apapun yang membuat semua orang resah. Aku sebenarnya sudah resah di sini di sekitar orang-orang yang hilang akal. Aku ingin pulang...aku ingin pulang...dengan sisa-sisa tanah dan harta yang kumiliki. Akan kugarap kembali seperti dari awal. Seperti ketika almarhum Ayah membagi hartanya.“Bu, ini ada roti. Makanlah. Badan Ibu semakin kurus...” kembali Dokter membangunkanku dari sejumlah pikiran waras yang tak pernah ia sadari.“Tidak, Dok. Saya tak mau. Kalau kawan-kawan saya di sini makan sup bening, kenapa saya harus makan roti?”Kulihat Dokter mengangguk seperti menyetujui idealismeku tadi. Rasakan! Kau harus tahu kalau kau menangani orang yang salah. Aku bukan sakit hilang akal! Ini hanya manipulasi!“Bu, ceritakanlah bagaimana hubungan Ibu dengan saudara-saudara Ibu. Saya pikir hal itu bisa membantu. Apalagi selama ini beberapa kerabat Ibu sudah banyak menceritakan soal Ibu. Mereka bilang Ibu pekerja keras dan ramah.”  Kupandangi wanita muda ini. Aku tahu dia hanya ingin menjalankan tugasnya dengan baik meskipun tak ada satu orang spesialis pun yang bisa memahami batas kenormalan seseorang. Termasuk dia. Dia tak pernah tahu kalau aku bukan hilang akal. “Nak, kalau memang benar mereka datang, tolong beri tahu saya. Saya ingin pulang...” “Ibu belum boleh pulang. Ibu masih sakit. Nanti yah...tunggu Ibu sudah sedikit lebih gemuk. Kalau kurus begini mana bisa saya pulangkan.”“Saya tidak sakit, Dok.”“Kalau tidak sakit kenapa kurus begini?”Aku terdiam. Ia benar. Tapi tetap saja aku tak mau makan.    Suamiku seorang yang memiliki otot regang yang kuat, dibalut kulit legam yang selalu berkeringat jika ia bekerja di luar rumah. Ia bertubuh kecil namun mampu memanjat pohon nyiur setinggi apapun. Ia juga orang desa sepertiku yang tak terbiasa duduk dihadapan komputer atau meja tulis. Kami terbiasa memunguti buah-buahan yang jatuh dari pohon untuk menjualnya daripada dimakan habis oleh musang atau kalong.               Oh iya, musang bukan pemakan buah. Aku lupa...tapi jangan mengira kelupaanku yang satu ini sebagai gejala aku hilang akal ! Kembali ke persoalan suamiku. Dia bernama Ahmad. Matanya kecil dan bibirnya selalu mengucapkan kata-kata baik. Ia menikahiku ketika aku sudah tak bisa lagi mendapatkan anak. Ia meninggalkan istri-istrinya dan hidup bersamaku. Kalian pasti berpikir kalau dia hanya mengincar hartaku. Bukan ! Dia seorang yang alim. Dia selalu ceramah ketika Jumatan. Dia juga sabar. Seluruh keluargaku juga mengatakan makhluk dunia paling sabar adalah dia! Tapi sayang, aku tak yakin dia menyayangiku seperti perempuan yang masih dipenuhi cairan dan mampu memberi keturunan.Aku punya seorang anak angkat yang kadang menyakiti perasaanku. Tapi aku tahu, dia hanya seorang anak. Dia hanya tak suka kalau aku cerewet di rumah. Dia anak yang pintar. Selalu rangking satu. Meski aku tak mau mengakui kepintarannya berasal dari darah keluarga asalnya. Dia pintar karena jasaku yang telah memberinya kebahagiaan lewat makanan bergizi dan barang-barang yang membuat dia senang, terhindar dari kesedihan dan rasa malu. Anakku itu tak cantik. Hampir seperti wajahku. Beberapa minggu sebelumnya, perhiasannya ditarik oleh kakak tirinya, anak suamiku. Ditarik ketika ia sedang tidur. Anakku itu hanya diam saja. Ia tak berani melapor. Kecuali ketika kulihat tak ada lagi kalung emas di lehernya. Dengan terbata-bata, ia mengaku kalau anak kandung suamiku yang mengambilnya. Aku juga mempunyai 6 saudara kandung. 3 laki-laki, 3 perempuan. Aku yang paling tua. Dari semuanya, hanya satu orang yang kurasa sangat menyayangiku. Nafiri. Dia lahir setelahku. Tinggal di kota dengan dua orang anak yang sudah kaya. Ia tak pernah melawan atau menyakitiku sejak dulu. Ia sayang dan lembut pada siapa pun. Aku memujinya bukan karena aku tak suka adik-adikku yang lain. Hanya saja mereka kadang suka membantah. Mungkin karena mereka merasa lebih muda. Aku memiliki banyak keponakan dan cucu. Beberapa keponakanku sempat kuasuh dulu. Kini ada yang sudah berumah tangga, ada yang sarjana, bahkan ada yang ke Jepang sebagai pemain Kabuki. Tapi masalahnya, tak satu pun dari puluhan keluargaku datang dan memberi senyuman padaku di sini. Tak satu pun!!!  Beberapa penghuni di ruangan ini menyenggol. Aku terbangun tepat ketika semuanya bersiap untuk sarapan di ruang makan. Aku tak mau. Meski mereka memaksa. Bahkan               si Nyonya Cina begitu sedih karena aku tak ikut makan. Para perawat sempat memaksa.“Tidak, Bu...saya sedang tidak ingin makan...” kataku ketika Dokter datang bertanya.Ia meraba kening. “Ibu sakit. Kalau begitu Ibu istirahat dulu,” katanya dengan wajah prihatin.Tak lama, aku memejamkan mata, ia datang membawa obat. Kumakan dengan baik semua obat yang ia berikan. Lalu aku melanjutkan tidur ayam. tidak sepenuhnya tidur. Dengan sedikit terjaga inilah, aku mendengar suara ricuh di luar. “Ibu...Ibu Nandung...ada keluarga Ibu nih?”Mungkin saja itu hanya mimpi.Hingga aku hampir kembali terlelap, aku dibagunkan oleh perawat dari luar jeruji. Aku terbangun dari lelap di lantai ubin yang dingin. Kulihat dua orang wanita berpakaian rapi dan terlihat sehat di luar jeruji. Aku bangkit. Kulihat mereka. Keduanya mencium punggung tanganku.“Apa kabar ?”“Bibi juga apa kabar?” tanya seorang yang lebih muda. Kulihat seorangnya lagi menghindar. Ada mata memerah yang ia punya. Matanya juga penuh dengan air. Bahunya berguncang. Seorang perawat menenangkannya. Kini seorang yang lebih muda bertanya padaku.“Bibi sudah makan ?”“Sudah,” jawabku. Kuberi mereka senyuman karena mereka telah rela menangis untukku. “Kenapa kalian menangis, Nak?” Dia tak bisa menjawab. Sungguh baik hati mereka. Menangisi aku, orang yang tak mereka kenali. Bahkan aku tahu kalau dua orang ini adalah orang lain yang dulu bahkan hanya datang minta air minum ke rumahku. Mereka bukan keluargaku. Mereka hanya menutup kedok agar kedatangan mereka sebagai ‘keluarga’ dapat membuat semua orang berpikir kalau aku tidak kekurangan kasih sayang.Tapi aku tahu Tuhan, aku tak pernah mengenali mereka. Tapi aku sangat senang kalau mereka merasakan perih melihat keadaanku yang ringkih dan dikelilingi orang-orang hilang akal.  Wanita yang lebih muda itu menatapku terus. Ia menatap sembari mencoba menahan sesak napas. Ia terlihat lebih kuat dari wanita yang satunya lagi. Hingga kemudian mereka diajak bicara oleh Dokter. Aku tak dapat melihat lagi apa yang mereka lakukan. Tapi ketika mereka datang, mereka bilang... “Bi, kami pulang dulu yah?”“Bibi ikut,” pintaku.“Nanti ya, Bi. Nanti saya jemput. Tapi saya pulang dulu. Bibi yang sehat saja di sini. Ada roti buat Bibi. Dimakan yah?”“Tidak, aku mau pulang. Aku tidak betah di sini.”Kembali kulihat ia menangis. Mereka jadi kebingungan. Kemudian aku hanya bisa pasrah karena aku tahu mereka tak mau membawaku pulang lagi. Pulang kemana ? Bukankah mereka bukan keluargaku ? Terserah, yang pasti keluar dari sini. Aku tahu kalau mereka tak akan mau membawa aku pergi sebab tugas mereka hanya sampai melihatku saja. Akhirnya aku hanya berbalik badan dan membiarkan mereka pergi. Jelas aku marah ! “Itu keponakan Ibu yah ?” tanya seorang yang hilang akal. Aku malas menyebut namanya.“Entah! Mungkin saja benar...”Meski mereka bukan keluargaku, tapi aku lebih menghargai mereka karena mau datang untuk melihat.         “Keluar!!! Keluar!!! Cepat!”Beberapa orang datang menyerbu ruangan. Mereka terlihat tegang. Tapi badanku semakin panas. Kepalaku pening dengan berat. Beberapa bunyi mendengung seperti beribu tawon terdengar. Aku menangis. Aku memekik menjerit. Beberapa dari mereka menenangkan. “Kalau kalian ingin selamat, pergilah. Biarkan aku pergi. Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi...”“Tenang, Bu...tenang, Bu...”“Kalian akan mati...kumohon percayalah! Aku sungguh-sungguh. Demi Allah...mereka akan datang membunuh kalian.” Langit di luar tampak gelap. Mendung. Sebentar lagi hujan dengan angin yang luar biasa besar. Aku tahu itu adalah tanda kalau penyakit akan datang pada orang-orang yang sudah berbaik hati ingin aku sembuh. Kasihan para dokter dan perawat yang tak tahu apa-apa. Mereka hanya menjalankan tugas dan kewajiban mereka sebagai seorang dokter. Tapi mereka akan terkena sakit yang merenggut maut.Aku harus berlari. Aku harus menemui kepala rumah sakit, mungkin dia sedikit lebih bisa memahami jiwa seseorang yang tidak sedang hilang akal. Mereka harus tahu kalau teluh yang dikirimnkan keluargaku akan membuat mereka mati. Aku berdiri dan berlari menuju pintu yang terbuka. Tapi mereka menangkapku.  “Lepaskan aku! Kalian akan mati!!! Kalian akan mati. Kumohon pergilah!!!”Tapi tak ada yang mau peduli. Mereka hanya menahan dan mengikatku ke ranjang dengan kain-kain putih kumal dengan erat. Aku sesak. Dadaku meluap-luap karena ketakutanku tak pernah mereka percaya. Aku berontak sekuat tenaga. Tetapi ikatan sungguh kuat. Bahkan kulihat mereka memberikanku cairan lewat mata jarum yang runcing. Aku mulai bisa melihat sekitar dengan jelas dan nyata. Tidak lagi kabur seperti sebelumnya. Suara-suara tawon semakin menjauh. Tapi malah aku bertetesan air mata.Dokter datang memelukku dengan hangat. “Ada apa, Bu ?” tanyanya menangis.“Percayalah padaku, Nak. Aku tak mau kau celaka. Kumohon percayalah...!”Ia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan dalam dan khidmat. “Iya, saya percaya. Ibu tenanglah. Kami semua ramai di sini. Kita akan saling menjaga...”“Sungguh?”Ia mengangguk pasti.Tuhan...aku bersyukur kali ini mereka memahami kebenaran yang sesungguhnya!     Gambaran kebun-kebun dan hutan lebat terlihat nyata. Aku yakin ini ilusi. Ilusi yang sengaja didatangkan untuk mengirimkan aku peringatan. Kebun-kebunku yang lebat dan rimbun sedang panen. Buahnya lebat. Di antara pohon-pohon rambutan dan lembabnya daun-daun kering di tanah basah, berdiri orang tanpa garis di bibir. Kami menyebutnya Orang Kebenaran. Mereka datang mengirimkan pesan.“Pergilah secepatnya. Apa kau mau mereka di sini mati semua karena telah dianggap ikut campur dalam urusanmu? Pergilah, demi keselamatan kalian semua. Sebentar lagi teluh itu akan dikirim. Dua orang yang datang menjengukmu telah mendapatkan rambut yang kau jatuhkan selama bersisir.”“Dari mana kau tahu ?”“Kau percaya pada misteri Tuhan? Tak perlu kau tanyakan dari mana aku tahu. Cukup selamatkan hidupmu. Hidup orang-orang yang tak berdosa ini.”Maka kubuka mata, kusaksikan dunia menjadi sepi dan senyap. Aku berada di atas tempat tidur tunggal di ruang bersih dan lebih sempit. Tak ada siapa pun, tak ada                si Nyonya Cina. Aku dipindahkan di ruangan lain karena telah mengamuk. Lihat kan? Betapa sadarnya aku telah mengamuk, juga tahu kalau ini ruang isolasi? Lalu kenapa orang sepertiku dianggap hilang akal?!      Aku pikir kau percaya, Dokter.Ia masih terus tersenyum memberi aku makan di ruang isolasi. Padahal aku tahu kalau ia bingung. Ia tak akan mungkin menyembuhkanku karena memang aku tak pernah sakit. Ia teguh dan sabar. Namun ia sama saja dengan yang lain, tak pernah percaya. Mereka semua makhluk perkotaan yang hilang kepercayaan pada teluh. Mereka tak tahu kalau teluh masih ada di muka bumi.Setan masih hidup nyata dengan manusia. Meski banyak manusia yang tak mau mengakui kehadiran teluh.“Saya akan lepaskan ikatan, tapi jangan marah lagi yah? Ibu sudah aman di sini.”“Tapi kenapa di sini sepi ?” tanyaku ketika dengan perlahan dia membuka ikatan.“Ibu di ruang isolasi.”Kan benar?!“Kenapa saya diisolasi?”“Karena Ibu mengamuk tadi malam. Pasti karena demam Ibu sangat tinggi. Makanya, sembuhlah. Saya ingin mendengar Ibu mengaji seperti yang dikatakan keponakan Ibu. Tapi jika Ibu sudah sembuh nanti.”Aku tersenyum miris dan sinis. Lagi-lagi dia percaya pada orang-orang hilang akal yang mengaku waras.Ikatan sudah terlepas semua. Aku mengambil piring drai tangannya. Kulahap makanan itu sendirian sebab tanganku tak lagi terkekang. Ia pindah duduk di belakang punggung. Ia mengikat rambutku agar tak tergerai seperti orang hilang akal. Ia ingin aku tetap terlihat segar.“Ibu mau mandi,” aku memintanya.“Jangan dulu, badan Ibu masih panas. Saya ambilkan lap basah yah ?”Aku mengangguk. Duhai anak yang baik. Kau akan masuk surga karena telah relah membersihkan tubuhku yang ringkih, berkeriput, dan kotor dengan tanganmu yang terbiasa bersih. Bahkan anakku saja tak pernah membersihkan keringat yang menetes di keningku saat kami sama-sama meraih panen buah-buahan.Aku diam. Pintu kamar terkunci setelah Dokter keluar mengambil handuk basah. Aku termenung memikirkan bagaimana caranya menyakinkan mereka kalau sebentar lagi mereka akan kehilangan nyawa kalau mereka tak membiarkan aku kembali pulang ke rumah. Mengambil jarum itu dan memusnahkannya sehingga teluh yang dikirimkan bisa terpatahkan.Dokter datang dan membuka pintu. Ia melihatku lagi dengan senyuman. Ia meletakkan ember bersii air segar. Diperasnya handuk kecil. Ia membasuh wajahku terlebih dulu dengan lap basa. Wajah kembali terasa segar dnegan sentuhan air. Hingga kemudian dia memberishkan setiap jengkal tuibuhku dari leher hingga buah dada.“Kepala Ibu masih pusing?” tanyanya.“Sudah tidak lagi. Dokter, saya mau tanya...”“Apa?”“Kalau dari sini ke rumah saya, jauh tidak ?”“Cukup jauh, Bu.”“Pakai Oplet apa?”“Mungkin oplet berwarna coklat, lalu abu-abu...”“Ongkosnya berapa?”“Dua ribu barangkali... Ibu tidak pernah naik oplet ke sini yah?”“Tidak pernah, Ibu serting pergi ke sini menjenguk Fatimah dengan motor air milik suami Ibu.”“Pasti menyenangkan mengarungi lautan dengan suami...”“Iya...kamu sudah menikah, Nak?”“Belum, Bu.”“Ibu peringatkan, hati-hati yah memilih pasnagan. Cari yang setia dan kalau perlu sedikit terus terang. Jangan terlalu manut dengan omongan kita. Karena orang seperti itu kita tak tahu bagaimana isi hatinya. Ia selalu berpura-pura menurut.”“Benar, Bu. Laki-laki harus lebih bisa memerintah istri. Bukan malah sebaliknya. Saya pun tak mau laki-laki yang lemah. Saya mau laki-laki yang mampu bilang tidak pada tindakan saya yang tidak benar.”“Bagus kalau kau berprinsip demikian...”“Ibu, saya bangga dengan Ibu. Ibu adalah pasien dengan kasus yang cukup berbeda. Ibu tak terlihat seperti pasian lainnya.”“Sudah berapa kali saya katakanb, saya bukan orang yang hilang akal.”“Yah, Ibu bahkan dapat melihat dengan tatapan normal...”“Karena memang saya orang normal!”Aku berdiri mendadak. Kusingkirkan ember berisi air yang menghalangi langkah. Aku berlari membuka pintu yang kuncinya tergantung dengan apiknya. Kudengar dokter itu berteriak memanggil. Ia seperti mengejar. Aku tak mau berpaling melihatnya lagi.Aku harus pergi dari sini.“Kejar Ibu itu...Satpam!!!” Kudengar suara alarm terdengar memekak. Telingaku sakit mendengarnya. Segera terdengar derap langkah orang mengejar. Aku tak mau menoleh ke arah manapun. Aku terus berjalan lurus ke arah yang menurutku pintu keluar. Hingga lorong tak lagi gelap, beberapa orang berada di depan mencoba menghadang. Aku berbelok ke arah lain, ke arah dengan cahaya terang di depannya.Kini suara tawon terdengar. Mereka pasti ikut menghalangiku untuk kabur dari tempat ini agar rencana mereka tertap berjalan lancar. Mereka mengejar. Baik mahkluk sempurna maupun makhluk jadi-jadian. Mereka semua mengejar. Telingaku penuh dengan suara. Napasku sengal dan lemas. Kakiku sudah gemetar. Dadaku sudah kempis dengan oksigen yang kurang. Tapi aku harus lari. Demi semua orang.Aku menoleh sejenak..Dokter berlari dengan wajah gusar. Aku tahu dia menagis dan sedih.Kakiku berlari lebih cepat dari biasa setelah aku meruntuhkan tempat sampah untuk menghalangi jalan mereka. Seorang di depanku hampir menyergap. Kupukul wajahnya dengan daun pintu yang kebetulan terbuka di antara kami, ia tetjatuh dan mungkin pingsan. Bahkan mungkin mati.Ya Tuhan...terima kasih...aku berada di luar. Di pinggir jalan raya. Kulihat lagi Dokter untuk terakhir kali. Sang perempuan muda yang baik hati dan memiliki cita-cita mulia untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Aku berbalik tepat ketika suara tawon semakin terdengar jelas. Bahkan wujudnya tampak di hadapanku.Aku berteriak.Berteriak hingga pita suaraku pun putus. Hingga suaraku terhenti!!!Terakhir kali kulihat...jemariku kejang!!!   “Maafkan kami...” kata mereka.Kami hanya bisa menerima apa yang mereka katakan sebagai kepasrahan. Toh mereka memang tidak tahu. Ini semua di luar kuasa. Ini memang sudah takdir. Meski ada kelalaian di balik insiden ini. Kami semua memandangi Bibi dengan mata kami yang lelah. Kami semua memandangnya dengan perih yang menjerit. Wanita itu sungguh penuh gejolak. Penuh misteri. Tapi kami semua menyayanginya.  “Kenapa Bibi samapai begini, Ma?” tanya seorang sepupuku yang lain. Ia sudah punya suami. Ia sedih kedua kalinya. Ia juga sedih saat kami datang menjenguk Bibi dua hari yang lalu.Bibiku, yang bernama Nafiri menangis sambil berdzikir.“Kami menyayangimu, Nandung...”Seorang Dokter muda datang. Dia menyentuh pundak pamanku, suami Bibiku yang tercinta. “Pak, beliau menitipkan pesan...kalau dia mencintai kalian semua. Meski ia marah karena ia tak pernah dijenguk...”“Kenapa dia sampai mengira tak pernah dijenguk oleh kami, Bu ?”“Ya, saya tahu, Pak, tak habis setiap saat kalian semua datang dan memberikan perhatian. Dia memang selalu menganggap tak ada satu orang pun dari keluarganya yang datang. Mungkin kami kurang pandai membuat dia bisa sadar akan kondisi yang sebenarnya...”Yah, Bibi...menyangka setiap hari orang yang menemuinya hanyalah orang kebenaran, atau teman satu pasien, atau orang asing! Ia memang sedang hilang akal. Tapi tak pernah aku sangka ketakutannya begitu besar hingga membuat ia kehilangan nyawa di bawah roda mobil mewah di jalan raya! “Kita pulang...Bibimu harus segera kita makamkan !” ajak Ayah.T A M A T

We Must Understand Each Other

Many times I must to broke up with my boy friend just because miss understanding. Many way I tried to keep my relationship, but as a woman I have no strong heart to stand with anger. Maybe because Im too young to know about love. The first time im falling in love, when I was 20 years old, he is older 5 years than me, his name is Carlo. For me he is so special for me in that time, we were together for a year. We broke up because we cant understand each other. When the first time we were stay together in one flat everything so perfect, just happiness that we had. After months and months everything changes, I felt that he have somebody else. And its hurting me when I knew it that he close with one girl in his school. I cant control my anger so I prefer broke up with him, and what he said to me is because he was bored with me, and what I said to him is fuck of from my face.First experience love for me its so importand, because I want to find boy friend who is care about me, love me, and the most importand is we understand each other. After Carlo my first love, Im looking new boy friend but cant find the best one for me.     Five years after my first love now Im become 25 years old, but I cant find my lover. Im so lonely I need some one beside me, but I don’t want get hurt anymore. I must chose carefully, and I don’t want have the same problem like before.Saturday night  usually I always hang out with my friends for get some fun, and this night its so different for me, I don’t know why I want to be feminine this night and my heart beating so fast. I don’t know what’s gonna happen. One my friend call my, “hey where are you? we are here in our favorite place.” “ok, I will be there in 15 minute.” I drive my motor and arrive in that place, my friends ordered my favorite drink. Im sitting in the bar, talking with them and enjoying jazz life music. Im feel the atmosfer in that place, I feel happy with them. We are loughing together, and talk bullshit about anything. I want to smoke, but Im forgot to bring lighter. Suddenly there is someone give me a lighter from behind me. I turn my body, and say thank you. My cigarette falling down after I look at him, my heart beating like a train, I cant blink my eyes, and he say “are you ok?” “yes, oh sorry” “this is your cigarette and this is the lighter.” “thank you so much.” My friends tease me with a joke and Im so shy in front of him. Then he say, “is it ok if I joint here?” “of course” my friends said that. One by one my friends was leave me a lone. Now just me and him. I don’t know what to say, so he start to ask me, “where are your friends going?” “I don’t know, usually we always go together, if you want I can call them to come back here.” “no, im just asking. If they want to leave its ok. What is your name?” “im Alice, and yours?” “Im Carlo” “what the hell?” “what did you say?” “nothing, forget it!” im just silent, his name is remind me of my first love, im so sad and I decide for going home. “I should go home” “why? Are you ok?” “yes, Im just tired” “ can we meet again sometimes?” “sure” “mm…may I know your phone number Alice if you don’t mind?” I tell him my phone number and I say bye to him. Im so disappointed this night, but I really like this guy, why his name must be the same?.One week, two week there is no news from him, I just though that he is not interested in me. I will forget it, and continue my life. This morning I woke up and ready go to work. Busy time to finish my document at work. I cant forget him, I miss him. This job make me tired, I want have smoke and drink coffee. I want to call him but I don’t know his number. What can I do is nothing. I continue doing my job till im finish around 9 pm. I go home, having shower and just want to sleep. My brain cant think anymore, to much thinking not good for me. I fall sleep so deep, till I cant hear my phone was ring. Next morning, im doing the same activity. Im forgot to bring my phone when I arrive in my work. “shit, where is my phone?aha silly Alice, how I can forget my thing?” I don’t care and I just work and work. Finish work, I want to buy dog food for my dog Jeny. Many toys for dog, I want buy one for Jeny. Im smiling because I imagine when I give this to Jeny, she will so happy. Arrived home, “Jeny, I have something for you” and she come to me. I gave the toy, and I go to my room, and check my phone. Who was called me 50 times? I don’t know this number, maybe its importand for me. I call back, “hi who is this?” “hi Alice its Carlo” “Carlo who?” “you don’t remember me?” “sorry , I have 2 Carlo friends” “we meet once in that place” “CARLO?? Is that you? really ? hey im sorry, I didn’t bring my phone at work because I was forget.” “its ok, do you have time now? Can we meet? After long time we didn’t meet” “yes, where?what time?” “now, in the same place.” “OK, I will get ready and go there.” “Ok then, see you soon.” Im so happy, get ready for meet my dream guy.We talk all night long, and this is happen many times. We meet when ever we want to meet. We become closer and closer. Not suspected we’re close for 6 months as a friend. One night at my friend home party, all of us was drunk including me and Carlo. I cant stop talking when im drunk, I didn’t realise im talking so loud, and I saying something that make my friends surprise and also Carlo. I am saying, “ I love You Carlo from the first time we met” The music stop, and my friends and Carlo looking at me. Carlo come to me and ask me, “what did you say Alice?” “what did I say? Is nothing” “please I want to know” “I don’t understand what are you talking about” “you said, you loved me” I shocked, and cant speak anymore.I open my eyes in the morning, “where am i?” “your home” “why,you are here?” “because you were drunk last night” “thanks for take care of me” “ok then I should go home” “ok” “before I go, may I ask you something?” “yes” “is it true, do you loved me?” “what the hell you are talking about?” “oh so you just drunk, ok then never mind” “wait Carlo, don’t miss understanding” “you already answear my quation, so I was wrong.” “wait! Can we drink coffee and talk?” “yes” I cant help my feeling anymore, I say about my feeling to him also I tell the story about my first lover. He give smile to me, and im so happy when he said that he have the same feeling with me.Many years we always together, now im 50 years old. Carlo my husband,my childrens  are Tomy, Christine, and Jo made me to be happy person in this world

Dilarang Jatuh Cinta

Wah! Semua mata terbelalak -- berpusat kepada laki-laki yang berdiri persis di atas atap gedung berlantai 33, siap untuk bunuh diri. Sejumlah polisi sibuk mengamankan lokasi yang dipenuhi orang-orang yang ingin menyaksikan peristiwa tragis itu secara langsung, dengan berbagai ekspresi yang tak kalah seru. Ada yang bergidik, ada yang terbelalak histeris, ada juga yang terkagum-kagum. Situasi heboh itu melumpuhkan lalulintas. Beberapa polisi sibuk berdebat dan stres -- mencari solusi bagaimana mencegah orang sableng itu agar tidak mewujudkan kegilaannya. Ada juga polisi yang langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulans. Mengapa ada yang ingin bunuh diri?Silakan tanya kepada para penduduk di sebuah negeri yang sedang dilanda cinta, atau kepada seorang laki-laki muda yang tampan, yang kini berdiri gagah dan tenang di bibir gedung pencakar langit, dan siap terjun bebas. Padahal, embun masih terjun ke bawah ketika polisi yang memanjat baru mencapai setengah gedung. Orang-orang pun berteriak histeris. Dan, lihatlah, seperti tubuh yang bunuh diri pertama, wanita itu juga melayang-layang ke bawah. Dari tubuhnya, satu per satu tumbuh bunga-bunga yang mekar. Dan, begitu tiba di tanah, tubuhnya telah menjelma sebatang pohon bunga beraneka rupa. Di pucuk bunga terselip kertas yang bertulis, ''Kubuktikan cinta dengan kepasrahan!'' Belum habis keterkejutan orang-orang, kembali terdengar teriakan seseorang, ''Lihat! Di atas gedung bertingkar 52 sana juga ada yang hendak bunuh diri!''Semua terperangah, berteriak ngeri. ''Kegilaan apa lagi ini?!''''Lihat! Di gedung 67 tingkat itu juga!''''Lihat! Di gedung warna kelabu ungu bertingkat 73 itu juga!''''Lihat! Di atas menara pahlawan itu juga!'' Semua menggigil seputih kapas di ujung ilalang. Bahkan angin pun beringsut ketakutan. Sebab, hari itu lebih sepuluh orang melakukan bunuh diri dengan cara yang sama (melompat dari atas gedung bertingkat) dan motif yang sama atau hampir sama. Mungkinkah cinta yang menciptakan semua tragedi yang mencemaskan ini? Peristiwa itu mencengangkan semua orang, sekaligus menimbulkan rasa takut dan khawatir yang hebat. Dan peristiwa ini menjadi topik utama di mana-mana, dari kedai kopi, kafe hingga hotel berbintang, terutama menjadi headline koran-koran terkemuka. Berbagai kalangan pengamat memberi komentar dan tanggapan, dari psikolog hingga pengamat sepakbola. Ternyata, hari demi hari, peristiwa bunuh diri itu tiada henti, terus-menerus terjadi. Sehingga, semakin panjang daftar orang yang mati bunuh diri dengan melompat dari atas gedung. Bahkan menjadi ancaman, melebihi wabah penyakit menular. Bunuh diri itu sudah melanda semua orang, dari jompo hingga anak-anak, dengan teknik yang semakin aneh. Sableng bin edan! Ada yang berpakaian Pangeran, Ratu, Pendekar, Batman, Superman. Ada yang bersalto, jumpalitan di udara, berselancar. Ada pula yang terjun sambil baca puisi. Penduduk negeri itu semakin dicekam rasa takut dan waswas yang luar biasa. Semua mengkhawatirkan sanak keluarganya dan dirinya akan ikut bunuh diri suatu waktu. Sebab, penyakit bunuh diri itu dengan cepat menyebar dan menjangkiti siapa saja. ''Bila tidak segera dihentikan, anak-anak kita, saudara kita, bahkan kita sendiri akan terpengaruh, dan melakukan tindakan bunuh diri itu.''''Ya. Ini harus kita hentikan!''''Bagaimana caranya? Adakah cara jitu yang kamu pikirkan?'' ''Ah. Ayo, kalangan intelektual, berpikir dan bertindaklah segera. Jangan cuma ngoceh ke sana ke mari!'' teriak orang-orang, kehilangan arah.Penduduk semakin panik, saling bertanya satu sama lain. Tetapi, semua menggeleng. Semua angkat bahu. Semua jadi buntu jadi batu. Apa lagi yang dapat dilakukan? Maka, tanpa dikomando, semua tekun berdoa dan samadi agar wabah penyakit bunuh diri itu segera berakhir. Sayangnya, ketika doa-doa meluncur di udara, burung-burung gagak berebutan menyerbu dan mencabik-cabiknya sehingga tidak pernah sampai di meja kerja Tuhan. Jika pun ada yang sampai, cuma berupa sisa atau percah. Tentu Tuhan tidak sudi mendengarnya. Apalagi Tuhan semakin sibuk menata surga -- sambil mendengarkan musik klasik -- karena kiamat sudah dekat. Disengat kepasrahan yang mencekam itu, tiba-tiba Maharaja menemukan gagasan, ''Kita bikin pengumuman!'' teriaknya pasti.Seketika semua melongong. ''Pengumuman? Untuk apa?''''Di setiap tempat, kita buat pengumuman: Dilarang Jatuh Cinta!''Semua kurang menanggapi. ''Apakah mungkin efektif untuk mengatasi maut yang mengancam di depan mata kita?'' Maharaja angkat bahu. ''Coba dulu, baru tahu hasilnya,'' jawab Maharaja. ''Masalah utamanya sudah jelas, akibat cinta. Setiap orang yang terjerat cinta, entah mengapa jadi ingin bunuh diri. Satu-satunya cara, ya, kita larang orang-orang jatuh cinta. Siapa pun tak boleh jatuh cinta agar hidup terjamin.'' ''Wah, mana mungkin. Jatuh cinta itu manusiawi. Beradab dan berbudaya. Berasal dari hati. Kata hati. Muncul begitu saja -- tanpa diundang. Apalagi, cinta kan pemberian Tuhan,'' protes orang-orang, tak dapat menerima pendapat Maharaja yang dinilai ngawur. ''Terserah. Jika ingin selamat, menjauhlah dari cinta. Kalian jangan pernah jatuh cinta. Mengerti?! Tetapi jika sudah bosan hidup, ya, silakan jatuh cinta!'' tegas Maharaja. ''Sekarang, mari kita pasang pengumuman itu sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya!'' Meski dijerat tali ketidakmengertian yang luar biasa, pengumuman akhirnya dibuat juga. Dipancangkan dan ditempelkan di mana-mana, termasuk di bandara. Maharaja bahkan melakukan siaran langsung di seluruh televisi: ''Saudara-saudari sekalian yang saya benci. Sebab, mulai sekarang, saya tak ingin mencintai, agar berumur panjang. Saya harus benar-benar dipenuhi kebencian. Seperti kita saksikan bersama-sama, cinta telah menyebabkan banyak orang bunuh diri. Cinta telah membutakan mata. Cinta telah merenggut nyawa sanak keluarga kita. Cinta mengancam kita. Maka, dengan ini, kepada semua yang mendengarkan pengumuman ini, saya tegaskan: dilarang jatuh cinta! Kita harus melawan cinta. Kita tegas-tegas menolak cinta. Cinta tidak memberi apa-apa yang berharga bagi kita, cuma kematian. Mengerikan, bukan? Mulai sekarang, kita proklamirkan semboyan baru kita: hidup sehat tanpa cinta. Hiduplah dengan saling membenci, bercuriga, menghasut, dan sebagainya. Jangan pernah mencintai!'' Aneh. Penduduk bertepuk sorak menyambut pengumuman itu. Bahkan, untuk selanjutnya, banyak yang memuji kebijaksanaan Maharaja sebagai sikap brilian. Mereka merasa telah menemukan solusi jitu memberantas wabah penyakit bunuh diri itu. Hidup tanpa cinta, tidak terlalu buruk demi hari depan yang lebih baik. Dengan saling membenci, esok yang lebih cerah dan terjamin siapa tahu segera tercapai. Hari masih terlalu subuh. Ayam dan burung-burung masih ngorok. Tetapi keributan orang-orang dan kesibukan polisi telah merobek cadar ketenangan. Apalagi wartawan-wartawan sibuk meliput dan melaporkan -- blizt dan lampu kamera televisi berpantulan. Apa yang sedang terjadi. Wah. Sungguh mengejutkan dan mencengangkan! Betapa tidak, di depan gedung istana Maharaja berlantai 113 yang mencuat menusuk langit kelam, Maharaja dengan masih memakai piyama sedang berdiri di atasnya bersiap-siap bunuh diri. Orang-orang menahan napas dan terbelalak ngeri menyaksikan tragedi ini. Sementara, istrinya, Maharani menyorot api kebencian, ''Biarkan ia menikmati kesempurnaan cintanya!'' Maharaja mengembangkan tangan. ''Ah. Ternyata cinta itu indah. Kita tak dapat hidup tanpa cinta. Cinta itu anugerah. Berdosalah orang-orang yang tak memiliki cinta!'' teriak Maharaja, lalu melompat ke bawah. Tubuhnya melayang dan ditumbuhi bunga-bunga mekar. Tiba-tiba menyusul sesosok tubuh wanita muda yang sintal, melompat sembari bersenandung lagu cinta. Tubuhnya juga melayang, seperti menari -- dan ditumbuhi bunga-bunga mekar. Begitu tiba di tanah, bunga-bunga itu pelahan merambat dan menyatu, lalu membesar dan menjadi belukar yang menjalari dinding-dinding istana dan rumah tangga-rumah tangga. Semua melotot heran. ''Mengapa Maharaja bisa segila itu?''''Selingkuh. Ia selingkuh dengan sekretarisnya!'' cibir Maharani sambil meludah ke tengah belukar itu. Akibat ludah itu, tiba-tiba belukar itu bergerak-gerak liar sepenuh nafsu kelabu, membelit kedua kaki Maharani, dan menariknya, ''Cintakah?!''

Kutunggu di Shimokitazawa

Lampu-lampu sudah dinyalakan. Layar bioskop mungil berpenonton maksimal 20 orang itu sebentar lagi ditutup. Namun Café yang tak kalah mungilnya disebelah bioskop itu masih menyisakan kehidupan. Pengunjung terakhir Bioskop Shimokitazawa keluar dari pintu samping sambil berangkulan dan berbisik-bisik mesra. Mungkin masih terkesan dengan film romantis yang baru saja mereka tonton.
“Dasar anak muda!” gerutu tuan Hiroshi, lelaki berwajah tirus itu pemilik sekaligus pegawai bioskop dan café itu selama 30 tahun!Sepasang anak muda usia belasan tahun itu menyeruak masuk ke dalam Café, memesan Ocha hangat dan Takomiyaki.Ini bukan kunjungan pertama mereka. Wajah Tuan Hiroshi tak asing lagi bagi mereka. Tak lama kemudian mereka bertiga sudah terlibat dalam obrolan ringan.
“Tahukah kalian, dulu ada seorang pelanggan Bioskop Shimokitazawa bernama Tuan Keitaro. Umurnya kurang lebih seusia denganku. Keitaro menjadi pengunjung tetap Shimokitazawa. Sejak ia masih muda. Keitaro muda datang ke bioskop tidak sendiri. Dia selalu datang degan kekasihnya Kinanti. Seorang gadis Indonesia yang cantik jelita.”
“Mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.” Anak laki-laki bernama Aidan itu tertawa. Bukan kebetulan ia juga orang Indonesia. Ia terdampar di negeri Oshin itu sebagai utusan negaranya dalam program pertukaran pelajar antar Negara.“Haruskah cerita ini kuteruskan?” Tanya Tuan Hiroshi.“Teruskan! Teruskan, Tuan Hiroshi!” seru Kyoko kekasih Aidan yang blasteran Jepang-Philippines antusias. Matanya yang indah berkedap-kedip menanti kalimat yang akan diucapkan Tuan Hiroshi berikutnya. “Dia memang selalu tertarik dengan cerita-cerita romantis!” goda Aidan lagi.“Aidan!” sungut Kyoko seolah menyuruh kekasihnya itu diam.
“Seorang lelaki tua yang malang!” Tuan Hiroshi menghembuskan nafas beratnya, Kinanti yang sangat dicintainya, pergi meniggalkannya di Bioskop Shimokitazawa. Ia berbisik denganku dengan berlinang air mata.     Ia mencintai  Keitaro tapi ia akan dinikahkan orang tuanya di Indonesia. Setiap  saat  aku ingin mengucapkan kata-kata terakhir yang dikatakan Kinanti pada Tuan Keitaro, setiap kali itu  juga lidahku menjadi kelu. Tuan Keitaro terus mengunjungi Shaimokitazawa berharap kekasih hatinya kembali. Namun Kinanti tidak pernah kembali. Beberapa kali pula ia mengunjungi Indonesia tapi ia kembali dengan hampa. Sampai suatu  malam di puncak musim dingin yang  membeku, Tuan Keitaro datang dengan gontai tapi bibir tuanya tersenyum. Dia bilang padaku, kalau hari itu  akan datang. Kupikir dia sudah gila. Ketika film sudah berakhir , semua penonton sudah meninggalkan Shimokitazawa, tinggal Tuan Keitaro duduk menatap layar dalam diam. Kutepuk punggungnya, dia tidak bergeming. Kupanggil namanya, ia tak menyahut. Tak bergerak dan tak bersuara. Kuraba tangannya, dingin seperti salju diluar. Tahulah aku dia pergi untuk selama-lamanya. Ia pergi dengan tersenyum. Ia telah bertemu dengan kekasihnya.”
Aidan menyeka bulir-bulir bening disudut mata Kyoko. Hati gadis Jepang itu mudah tersentuh dengan cerita mustahil sekalipun. Aidan menggenggam jemarinya,m emberi nya kekuatan.“"Cerita yang sangat romantis.” Kyoko mencoba tersenyum.Kalau kamu meninggalkanku disini, aku tak akan segila Tuan Keitaro. Aku akan bertemu gadis lain, jatuh cinta dengannya.” Aidan mencoba bercanda, sepertinya usahanya gagal. Mata Kyoko membulat“OK…..OK, aku akan menunggu hingga kulitku keriput dan jenggotku memutih.””Aidan, kamu lucu!” kyoko memukul bahu Aidan manja. Tawa merdunya terdengar nyaring, namun jauh didasar hatinya ada ketakutan, cerita Tuan Hiroshi seolah menyadarkannya akan kehadiran Aidan dan cintanya.
”Aidan pria asing. Dia akan pulang kenegaranya dan melupakanmu.” Ken memperingatkan Kyoko. Kyoko pikir Ken hanya cemburu karena Kyoko telah memilih Aidan, anak baru dari negeri asing daripada Ken yang telah mengenalnya sejak kanak-kanak.    ”Apa kau tak belajar pada apa yang menimpa ibumu? Merana dan menderita ditinggal pergi suami yang dicintainya pulang ke Philippina?”"Ken, cukup!” Tangan Kyoko terangkat ke udara. Nyaris ia melayangkan tangannya ke wajah Ken. Begitu muak ia mendengar kata demi kata yang Ken ucapkan.”Kyoko, apa yang kau pikirkan?” kejut Aidan berusaha mencari jawaban dimanik mata Kyoko yang resah.”Aidan , kau sungguh-sungguh mencintaiku?””Perlukah kata-kata itu kuucapkan?”Kyoko menatap Aidan penuh pengharapan.”Baiklah, aku mencintaimu Kyoko.” bisiknya lembut,”Sangat mencintaimu.”Angin malam di Tokyo sanggup membuat Aidan menggigil, namun tatapan Kyoko membuatnya hangat, menyelusup hingga kerelung hatinya.Mereka berpisah malam itu di depan pintu apartemen Kyoko.
Sepeninggal Aidan, Kyoko mendapati Okasan tergopoh-gopoh mendatanginya dengan wajah pucat. Ia berusaha berkata-kata. Suaranya tidak begitu jelas,”Kyo-chan, Shin....Shinobu meninggal! Bunuh diri!””Apa! Shinobu bunuh diri!” jerit Kyoko tak percaya! Lututnya terasa lemas seketika.Ibunya baru saja memberi tahukan.”Kyoko terduduk dengan pandangan kosong.”Kyo-chan, pagi tadi sebelum ditemukan bunuh dri, Shinobu kemari. Dia meitipkan ini.” Okasan megangsurkan sebuah surat dengan tangan gemetar.Kyoko membaca surat Shinobu dengan kerongkongan seakan tercekat.
Kyoko sahabatku.Aku mencoba mencarimu. Tapi kau tak juga kutemukan. Kutulis surat ini dengan hati hancur. Tak ada guna lagi hidup ini. Mike meninggalkanku.      Dia kembali ke Amerika, kukira ia punya pacar baru. Hidupku berakhir bersama kepergiannya. Kukira punya pacar orang asing adalah kebanggaan, ternyata aku salah. Kuharap kamu menyadarinya, sebelum terlambat. Aidan hanya bayang-bayang Kyoko. Dia semu. Kenlah kenyataan. Putuskan sebelum kamu terluka lebih dalam seperti diriku.                                                                      Sahabatmu                                                                       Shinobu                                          
Pendar-pendar sinar matahari senja masih tersisa diawal musim gugur. Anginnya terasa menggigit. Kyoko merapatkan tubuhnya kelengan Aidan yang kokoh. Daun-daun pepohonan yang mulai  menguning memberi sensasi tersendiri dihati Kyoko sekaligus kesedihan. Kesedihan yang sulit ia terjemahkan. Dengan sudut matanya ditelusurinya setiap lekuk wajah berkulit sawo matang itu, seolah ia berusaha merekam sosok terkasih dalam benaknya hingga tak mungkin terhapus oleh waktu.Mereka tiba di Shimokitazawa sesaat film akan diputar. Tuan Hiroshi menyambut mereka ramah,”Kusisakan dua kursi paling belakang untuk kalian.” katanya sambil tersenyum penuh arti.AAidan begitu menikmati film yang diputar. Kyoko tidak. Nampaknya ia menonton film yang ada dalam pikirannya sendiri. Ditengah-tengah pertunjukkan Kyoko berdiri,”Aku mau ke restroom.” bisiknya pada Aidan, seraya mengecup lembut kening kekasihnya.Kaki Kyoko seolah bermagnet. Setiap kali ia melangkah, sepatunya seolah lengket ke lantai, dengan susah payah ia menemukan pintu keluar. Cuaca  musim gugur yang tak menentu menyergapnya. Menenggelamkannya dalam kebekuan. Ingin ia berbalik kedalam Shimokitazawa, mendamba kehangatan cinta Aidan.”Kyoko!” seru sebuah suara. Tuan Hiroshi menangkap bayangannya. Kyoko tak menyahut. Ia pergi tanpa suara hanya deraian air matanya menjelaskan lebih dari sekedar kata-kata.Ketika seorang lelaki muda bernama Aidan keluar dari Shimokitazawa kebingungan, berteriak-teriak memanggil Kyoko. Tuan Hiroshi menjawab dengan dingin dan lirih,”Dia sudah pergi!”                                    
Tiga  tahun kemudian.Aidan bukan lagi siswa SMU yang sedang menjalani pertukaran pelajar ke Jepang. Ia sudah mahasiswa . Ia kembali mendapatkan kesempatan ke Jepang setelah memenangkan full scholarship di Universitas Tokyo.Kembali ke Tokyo, seakan kembali pada kenangannya tentang Shimokitazawa. Semakin ia menghindari tempat itu, semakin kuat hasratnya pergi kesana.Shimokitazawa adalah kenangan sekaligus kesedihan baginya. Hingga disuatu malam Aidan menguatkan hatinya menyusuri jalan yang sangat dikenalnya. Menuju suatu tempat bernama Shimokitazawa, dimana cintanya bersemi, disitu pula cintanya layu.spotlight, masih sama. Tapi gedung itu, Shimokitazawa? Aidan menajamkan matanya, memastikan penglihatannya tidak salah. Tak ada gedung tua, sebuah bar baru  dan tempat karaoke. Aidan terduduk sembari mengusap wajahnya. Ia merasakan dirinya seperti Tuan Keitaro yang menunggu kekasihnya di Shimokitazawa, namun bangunan itu sudah runtuh begitu pula cintanya, terkubur bersamanya. Aidan berjalan dengan gontai meninggalkan tempat itu dengan perasaan hampa.Tanpadisadarinya, sepasang mata menatapnya sedih. Seorang pemuda Jepang menarik tangannya menjauh dari tempat itu, ”Kyoko, cepat kita pergi dari sini!” 

Kisahku

Selama ini aku memang belum menyatakan perasaanku padanya. Tapi, gak ada salahnya kalau aku pengen jadi sahabatnya aja. Dia memang gak tau kalau aku suka selalu mmemperhatikan gerak-geriknya, mungkin dimatanya aku hanya sahabat bbaik yang gak special buatnya. Padahal selama ini hhatiku tertutup untuk cowok lain. Pertemuan pertamaku dengannya terjadi disekolah.Saat itu aku kesiangan, karena tadi malam aku tidur terlalu larut. Aku pergi sekolah dengan tergesa-gesa, sesampainya disekolah aku tetap berlari karena kelasku bberada diujung koridor sekolah. Aku terus berlari tanpa memperhatikan sekelilingku. Lalu “Brukk”. Aku sadar telah menabrak seseorang yang membuatku terkejut. Belum habis kebinggunganku seorang cowok mendatangiku dan membantu aku berdiri. Saat aku melihat wajahnya, dalam hati aku berkata “ya, ALLAH.. cowok ini cool banget, matanya yang bisa dibilang sipit, senyumnya, lesung pipinya, dan rambutnya yang jabrik”. Tetapi aku langsung teringat kalu hari ini pelajaran fisika yang gurunya killer abis. Lalu, ku tingalkan dia dengan tanda Tanya yang besar. Sesampainya dikelas aku langsung mengambil tempat duduk. Dalam diamku, aku mengigat hal yang terjadi tadi. “DOORRR” kaget marella. Marella adalah sahabatku sajak SD, Kami selalu satu sekolah. “ngapain kamu melamun???” Tanya Marella. “ah, gag apa-apa ko La. Q cuma” belum habis jawabanku Pak Dika keburu masuk dan pelajaran pun akhirnya dimulai.Saat istirahat, aku dan marella pergi kekantin karena perut kami sudah keroncongan. “La, siapa tuh cowok yang duduk itu??” sikutku. “yang tinggi itu” “iyah…” “hmm, namanya Ryan dia anak 2 ipa 1, temen kakakku waktu SMP. Tumben nanya-nanya, hayo ada apah ni???” jawab Marella dengan senyum menggoda. “Haiii, Ryan kesini !!!” teriak Marella. Aku terkejut, “gila, apa lagi niey ulah Marella” tanyaku dalam hati. Saat Ryan datang gag tahu kenapa jantungku berdebar-debar dan saat itu aku meras benar-benar gerogi.

Emak Mendadak Dangdut

Elisa Audrey “ Emak....Ara pergi dulu, nanti aye pu...” Ara belum menyelesaikan omongannya, matanya terbelalak melihat emaknya yang baru keluar dari kamar “ Emak, aye kagak sale liat nih, kok rambut emak jadi coklat kayak gitu, abis bejemur dimane mak? Cie ileh, peke lipstik ame bedak tebel bener, mau ngelenong dimane?” Tanya Ara heren melihat perubahan emak yang tidak biasanya “ Yeh, bisenye ngeledek aje, emak diwarnain eni rambut biar kayak Inul Daratista yang di tivi entuh, pan cakep tuh biar kayak orang bule gitu, oh iya ‘Ra sini emak kasih tahu, ade yang mau emak bicarain” Ajak emak ke ruang tengah “ Ape mo kayak Inul? Oh iya mak jangan lame-lame nyomongnye, aye kudu sekolah nih, nanti aye terlambat lagi” “ Mak mo ikutan kopestisi dangdut, yang ade di tivi-tivi entu, biar emak ngetop” Ucap emak “ Yeh, ileh ngomong aje ampe belepotan gitu mak, yang bener tuh, kompetisi bukan kopestisi, ade-ade aje mak, mo ikutan kayak gituan!!, kagak saleh? Emak mendadak dangdut nih ceritanye? Yang kagak-kagak aye emak ini, duh mendingan emak masak aje dah, masakan emak entuh kan enak, buke warung dah, tar orang-orang pade beli masakan emak, entar orang-orang pada bilang nasi uduk emak Idah, ngetop deh kayak ibu Suharti entu yang punya ayam goreng, seantero jagat nusantara tahu ayam goreng Suharti. “ Ogah ah, pokoknya emak mo ikutan entu kopestisi, eh salah, ape entuh?” Ucap emak bingung “ Kompetisi” “ Iya Kompertisi” “ Kompetisi” Ujar Ara sekali lagi “ Ya ilah suseh bener ngomongnye, bagaimane mo nyanyi” lanjut Ara “ Udeh ah, Ara panit dulu mo sekolah ya mak, assalammualaikum” “ Walaikumsalam” Jawab emak                                                   ***
“ ‘Ra kok diem sih, orang gue ngomong, eh lo malah diemin” “ Duh ‘An gue lagi BT!! Nih sama Emak gue” “ Kenapa lagi nyokap lo?” “ Emak gue tuh sekarang lagi aneh, masa die mo ikutan kompetisi dangdut, udeh gitu emak gue pake acara di warnain gitu rambutnye, katenye biar kayak rambut Inul Daratista gitu deh ” Jelas Ara panjang lebar “ Wah keren dong, pasti emak lo jadi tambah cantik dah?” “ Yeh, lo malah ngeledek lagi” Ucap Ara kesal “ Kenapa lo yang jadi pusing, lo kan seharusnya seneng kalau nyokap lo jadi terkenal nantinye? Jangan-jangan ape lo iri ya, takut kesaing?” Ledek Anie -sahabat Ara- “ YEH... gak mungkin gue iri lagi, gue entuh yang paling yahut dibandingin nyokap gue tahu!!!” Jawab Ara sambil tertawa “ Emak gue mendadak dangdut gitu? Padahal dulu die paling kagak demen dangdut, eh sekarang malah pingin jadi penyanyi dangdut. “ Pasti ade ape-ape nih, sampai emak gue begitu serius mo ikutan kompetisi entu, gue harus selidiki” lanjut Ara “ Iye dah, gue dukung usaha lo, ape yang bisa gue bantu buat lo?” Ucap Anie menawarkan jasa “ Gampang nanti aje gue kasih tahu lo, sekarang gue pulang dulu yeh, takut emak ngue nyariin gue, assalammualaikum” “ Walaikumsalam”
                                             **** Bukan anak muda saja yang ingin mengalami perubahan dalam penampilah, tak terkecuali emak Idah, seorang anak Betawi yang di selama belasan tahun hidup di daerah Condet, emak Idah hanya memiliki seorang anak perempuan berumur 15 tahun bernama Ara. Orang tua dan anak ini memiliki sifat yang sangat berbeda, dua karekter yang saling bertolak belakang, sehingga berbagai macam konflik hampir mewarnai hari-hari mereka yang hanya berdua. “ Assalammualaikum, emak..... aye udeh pulang nih, laper banget nih mak..” Ujar Ara sambil berteriak “ Emak” Lanjutnya, sambil mencari emak ke segala ruang di dalam rumah “ Ya ilah, ini emak kemane sih, pake acara ilang lagi, mane emak enggak masak, laperkan aye, dasar emak enggak sayang ama anak” Gerutu Ara seorang diri Pukul 21.00 WIB, emak Idah belum juga pulang, rasa cemas merasuki pikiran Ara akan keadaan Ibunya, dengan cepat Ara mencari ponselnya yang ia letakan di atas meja belajar, bergegas ia mencari nomer yang ingin dituju “ Halo, ‘An” Ucap Ara ketika telephonenya tersambung “ Iye, ade ape malem-malem lo telepone gue?” “ Duh ‘An, emak gue belom pulang, duh ini orang kemane lagi, enggak ade pesen die mo kemane, duh ape yang harus gue lakuin nih?” Kata Ara panik “ Iye udeh lo tenang aje, saran gue, lo tunggu dulu ampe satu jam lagi, trus kalo masih enggak ade kabar baru dah lo telepone polisi, biar bantu nyari emak lo, bagaimane?” Saran Anie di sebrang sana “ Iye, gue ikutin saran lo dah, doain biar emak gue cepet pulang yeh, ya udeh kalau begitu gue panit dulu, assalammualaikum” Ucap Ara lemas “ Walaikumsalam” Rasa cemas yang menghinggapi Ara membuatnya memutari seiri suang tamu sambil melihat kearah luar, dengan harapan ibunya akan segera datang, 25 menit kemudian tampak dari jauh terlihat seseorang yang hendak menghampiri rumanya, dengan cepat Ara berlari keluar untuk membukakan pintu. “ Emak!!!!!, kemane aje, Ara cemas tungguin emak, mane pergi enggak bilang-bilang, emak kemane sih, ?” Ucapku bertubi-tubi “ Duh eni anak cerewet, bener, emak capek nih” “ Selamat malam, anda anak di Ibu Idah ini?” Tanya seorang pria yang bersama dengan emak “ Iye saya anaknya, ade ape ya pak dengan emak aye?” Tanya Ara penasaran “ Ibu ini tadi tersesat, saya bertemu dengan ibu Idah di halte, karena rumah saya dekat daerah ini, dan saya mengajak ibu untuk pulang bersama dengan saya” Ucap pria perbadan tegap dengan rambutnya yang bergaya spaike, kulitnya yang putih ditambah dengan hidungnya yang mancung, matanya yang berwarna coklat, membuatnya begitu tampan “ Duh terima kasih atas bantuannya telah membantu emak aye, aye binggung kemane aye mo cari emak malem-malem begini, terima kasih sekali lagi ya” “ Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu, mari” “ Oh..iye aye Ara, nama anda siape?” tanya Ara “ Robby” Jawab pria itu “ Oh....Pak Robby, terima kasih yeh” kata Ara “ Panggil saja saya Robby” “ Oh iya... maaf...pak Robby, eh, maksud aye Robby” “ Masuk dulu nak Robby, nanti emak buatkan minuman” Ucap emak mulai bersuara “ Terima kasih banyak atas tawarannya bu, karena sudah malam saya permisi pulang dulu” “ Oh....ya sudah, tapi laen kali dateng ye mampir kerumah emak, nanti emak masakin makanan yang enak-enak” Pinta emak “ Iya terima kasih bu, lain kali saja, kalau begitu saya pamit dulu, mari” “ Hati-hati ya nak Robby” “ Duh emak ini, kemane aje sih, pergi bilang-bilang dong mak, kan aye jadi cemas” Tanya Ara “ Kalo emak bilang yang ade nanti elo ngelarang lagi” Jawab Ara “ Emang kemane sih mak?” Tanya Ara kembali “ Sebenarnye emak pergi untuk ikut entu kopertisi dangdut” “ Kompetisi” “ Iye maksud emak yang entu” “ Trus bagaimane hasilnye? “ Gagal total....taltal.....” Jawab emak cepat “ Makannye mak, kagak useh neko-neko, emang jadi artis entu gampang? Emangnye emak bisa nyanyi?” “ Enggak” “ Loh, kalo enggakl bisa nyanyi buat ape mak ikutan kompetisi entu?” Tanya Ara bingung “ Kate orang, kalo mo jadi artis kudu cantik, nah walau emak udeh punya anak atu, pan emak masih cantik, jadinye emak bisa jadi artis?” Jawab emak santai “ Yeh, entu untuk anak-anak mude kaya Ara mak, bukan orang tue, kalo emak ikutan kompetisi entu kudu bisa nyanyi, bukan modal tampang aje.” “ Udeh mak, kagak usah neko-neko, orang emak kagak suke dangdut, malah ikutan kompetisi dangdut, jadi mendadak dangdut nih emak?” kata Ara sambil tersenyum “ Iye, karena emak mo ikutan kopertisi entu aje, emak jadi belajar musik dangdut, tapi lame-lame, emak jadi demen musik dangdut.” “ Walaupun emak kagak jadi artis, emak paling ngetop deh antero daerah Condet ini, karena nasi uduk emak yang enak, aye bangga punya emak yang sayang sama Ara, yang ngerawat Ara dari bayi ampe sekarang eni, pokoknye emak paling yahut dah, Ara sayang sama emak, jangan buat Ara panik lagi ye mak, pergi tanpa kasih tahu Ara?” Ucap Ara memeluk emak “ Iye, maafin emak ye, emak kagak mau lagi dah, ikutan kopertisi ape aje, yang ade cuma bikin emak cape aje, emak kapok dah” “ Walau kagak jadi artis, yang penting emak mo punya pacar yang ganteng kayak nak Robby yang tadi entu, kire-kire bapaknya duda kagak ye?” “ Yeh dasar emak genit” “ Yang ade tuh, Robby buat Ara mak” “ Kagak boleh, lo belom boleh pacaran, lo masih kecil” kata emak melarang “ Ye udeh Ara Backstreet aje, dah ah Ara ngantuk mo tidur dulu” “ Ra ape tadi bekstet!!!, entu artinya ape Ra....Ra....Ra?”

Edisi Spesial Radioppidunia

Gema takbir datang menyelinap disetiap pembuluh-pembuluh darah yang penuh dengan nafas-nafas kalimat tuhan yang getarannya terasa memenuhi rongga dada. Sanak famili datang silih berganti, bertukar makanan, bertukar kata, bertuka sms dan mms, bertukar rasa, dan juga bertukar asa yang sudah terlalu lama tak terasah oleh kabut-kabut rasa. Gema takbir masih tetap menyeringai dan tetap mematri suasana idul fitri yang selalu penuh suka cita dan kebahagian yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Tak terasa linangan air mata tumpah membasahi pipi mengingat dosa yang telah diperbuat baik sengaja ataupun tidak sengaja kepada orang-orang dekat maupun jauh. Aneka makanan siap disajikan di atas meja, makanan silih berganti keluar dari dapur yang nampak seperti pabrik makanan untuk manusia sedunia. Permen, coklat, dan manisan-manisan berjejer tersusun rapih di atas meja. Gelas-gelas, piring-piring, karpet-karpet yang hanya dipakai setahun sekali, kini nampak tersusun dan terpajang bak toko-toko di tanah abang yang selalu dipenuhi para pelanggan. Suara-suara petasan terdengar dari berbagai sudut kampung. Anak-anak kecil berkeliling mengunjungi tetangga disekitar rumah, membawa dompet kosong dengan harapan akan terisi penuh dengan THR yang diidam-idamkanya dari rumah ke rumah.

Di lain sisi, bagian “barat” bumi, menunjukan suasana yang sangat kontras. Tak ada bunyi bedug, gema takbir, lantunan kalimat-kalimat allah yang semakin menambah suasana idul fitri menjadi syahdu dan penuh makna. Tak ada orang yang datang silih berganti masuk ke rumah. Tak terasa suara-suara toa dari masjid menyentuh setiap dedaunan yang ada di sekitar. Semua tampak mati dan sedih. Teringat sanak famili yang tengah bergembira. Suasanya berbeda....tak ada kacang-kacang yang terjajar dan tersusun rapih di atasa meja, tak ada suara anak-anak kecil berlarian membawa sarung yang diselempangkan di pundaknya, tak ada wanita-wanita muslimah “jelmaan” yang tiba-tiba berselendang di hari yang fitri. Tak ada iklan-iklan di televisi yang membawa gambar ketupat. Di dapur tak ditemui lontong, opor ayam, rendang, bawang goreng, apalagi kerupuk-kerupuk renyah yang bunyinya kriuk-kriuk ketika tersentuh kuah ketupat...Yummmmmm....Yang ada hanya internet dan radio yang menemani kesepian para mahasiswa di pelbagai belahan dunia dalam rangka memperkaya isi otak mereka demi masa depan yang cerah – mencari ilmu.

Terdengar sayup-sayup suara radioppidunia mengisi ruang dengar dengan lagu-lagu bernafas religi. Tak ada satu penyiar pun yang terdengar, hanya lagu-lagu yang tak henti-hentinya berputar silih berganti. Tetap berputar dari satu artis ke artis yang lain. Tak lama berselang... sebuah suara keluar dari radio komunitas ini. Para pendengar mulai mengalihkan perhatian pada radio yang terdengar mulai mati semenjak beberapa menit terakhir, tapi kematian itu hanya sejenak dan kembali mengudara melalui jaringan-jaringan internet yang tetap menjadi penopang utama radio persatuan mahasiswa indonesia sedunia ini.

“Lam lekommmmmmmmmm....... sobatradioppidunia”, suaranya agak sedikit kemayu-kemayu yang nampak mulai timbul tenggelam. Getaran suaranya menggema dan menggaungkan hari kemenangan bagi umat muslim di seluruh dunia. Masih tetap menggema dan menggema....

“Halo ketemu lagi disini bareng aga yah.....aga akan nemenin kamu semua satu harian penuh dengan lagu-lagu yang oks banget tentunya....”, sambug dj aga yang masih berdomisili di new zealand sana karena tidak di bolehkan pulang oleh orang tuanya disebabkan alasan ongkos lebih berharga daripada kehadiran sang aga di keluarga.

“Apa kabar juga nih para sobat radioppi dunia ? Pastinya semuanya pada bersuka ria donk merayakan lebaran...?”, sambung dj patma yang juga ingin menyumbangkan suaranya langsung dari Rusia. Patma merasa kesepian di tula, tempat dj patma berdomisili, karena tidak ada satu pun warga Indonesia yang dapat ditemuinya kecuali kalau dia mau berjalan sekitar 60 km dari dimana dj patma kini bertengger, itupun hanya ada 2 orang mahasiwa jomblo tulen.

“Bagaimana sih rasanya berpuasa di rusia sana ?”, tanya dj aga yang lagi siaran bareng dengan dj patma sambil menguyah-nguyah kulit kiwi.

“Wah...kalau di Tula sepertinya dead abizzzz deh”, jawab dj patma yang baru saja balik dari moscow hanya untuk sekedar melakukan sholat I'd bersama masyarakat Indonesia lainya.

“Kalau di New Zealand sana ?”, tanya dj patma kembali pada dj aga.
“Kalau disini lumayan sih yah....adalah dikit-dikit rasanya lebaran kayak di indo karena ada orang indo-nya juga walaupun sedikit....yah lumayan lah buat nemenin makan-makan goreng pisang ”, dj aga yang dari tadi sebelum siaran tak habis-habisnya menyeka air matanya karena teringat keluarga-nya yang nampak telah membuang dirinya ke pulau kecil ini.

“Halo sobattttt....................!!”, sambung dj wonny yang tiba-tiba juga menyelinap dari jerman sana dan ikut nimbrung siaran bareng. Dj aga yang memang sudah ada perasaan “ngga jelas” dengan dj wonny tidak mau menyia-nyiakan momen seperti ini -siaran bareng- untuk memberikan sedikit perhatian dan pertanyaan.

“Halo wonny...kamu apa kabar ? Coba mungkin bisa diceritain ke aga bagaimana suasana lebaran di jerman sana?”

“Di jerman ini tentuya cukup meriah banget yah terutama kalau di Berlin...karena banyak orang indonesia nya lo ...wuihhhh...ketupat gituh lo”, jawab dj wonny yang ngga peduli denga perasaan dj aga yang sudah seperti ketupat di rebus diatas kompor dengan api biru.

“Kok lebaran di korea ngga ditanyain sih ?”, tanya dj andy yang rupanya sedari tadi juga nimbrung di acara siaran bareng edisi spesial radioppidunia.
Dj andy spontan membuka mulut karena udah ngga tahan mau menceritakan bagaimana suasana lebaran di korea. “Lebaran di korea walaupun rada sepi..tapi kita tetep meriah lo...”, yang nampak makin narsis persis seperti tata rias yang pertama kali merias penganten kelas atas.

“Iya aku juga ngga ditanya sih......iihhh”, suara dj mela yang serak-serak banjir menggetarkan speaker para pendengar radioppidunia. Rupaya sedari tadi juga ada dalam siaran bareng. Dj aga semakin nampak egoisnya dan terlalu memberikan perhatian kepada dj wonny.

“Oh ya...gimana lebaran disana mela ? Kita kan juga ingin tahu lo..”, tanya dj aga spontan agar tidak terlau nampak akal bejatnya.

“Oh iya dunk...di Malaysia ini orang-orang pada datang ke sanak famili, tak ubahnya seperti budaya-budaya indonesia juga...mereka juga makan lemang dan rendang lo....”, imbuh dj mela yang semakin ngga tahan ingin memuncahkan seluruh kata-kata yang ada dalam dirinya tentang berlebaran di Kuala Lumpur sana.

“Assalamualaikum.......”, suaranya kental dan berat.

“Hasbiiiiiiiiii...................”, spontan langsung dj mela yang amat hafal sekali setiap hentakan-hentakan yang ada di tenggorokan dj yang berdomisili di mesir ini. Dj patma merasa kebakaran jenggot mendengar dj mela yang semakin agresif dan gesit menyapa dj hasbi.

“Hasbi apa kabar ..? patma mau juga dunk denger cerita-cerita berlebaran di mesir sana..”, potong dj patma yang tak mau kalah dengan dj mela.

“hmhm..hmhm...suasana berlebaran di mesir memang terasa benar-benar khidmat dan kami merasa seperti satu tubuh antara sesama muslim, tidak peduli darimana dia berasal dan apa warna kulitnya”, jawab dj hasbi yang semakin nampak jiwa syaikh nya sambil mengelus-ngelus janggut yang agak sedikit lebat, selebat hutan kalimantan.

“Hasbi...memangnya apa sih sebenarnya hakikat dari I'dul Fitri itu, mungkin perlu berbagi nih kayaknya dengan para sobat radioppidunia ?”,tanya dj ipon yang kini sudah ada di berlin setelah melakukan pindah-pindahan barang dari bremen, sebuah kota yang pernah menjadi aliansi kota-kota pusat perdagangan disekitar abad 13-17 masehi dan terletak di sebelah barat daya jerman.

“Idul fitri secara bahasa artinya adalah kembali kepada fitrah”, jawab dj hasbi yang singkat dan masih menyisakan pertanyaan dan perlu penjelasan. Dj mela dan dj patma ingin bertanya duluan, helaan nafasnya sudah mulai terdengar jelas. Tapi dj aga masuk bertanya sebelum mereka ber dua berkelahi hanya karena gara-gara pria ber-KTP cirebon ini. “Maksudnya “fitrah” itu apa sich bi...?”

“Fitrah dalam islam adalah kecondongan atau bertendensi untuk berbuat baik dan menjadi putih bersih belum ternoda sewaktu kita pertama kali dilahirkan. Jadinya ketika manusia kembali kepada fitrah, manusia itu diharapkan agar hati mereka kembali lagi menjadi putih bersih bebas dari dosa dan terlepas dari berbagai penyakit hati”, jawab dj hasbi yang makin nampak seperti seorang kyia yag sedang memberikan wejangan kepada para santrinya.

“Hasbiiiii.....mela mau tanya boleh ngga.....emangnya kenapa sich kok berlebaran itu adanya di akhir ramadhan...bukan di awal ramadhan ?”, tanya dj mela yang suaranya dibuat agak sedikit manja-manja di depan dj hasbi.

“Berpuasa pada hakikatnya adalah sebuah training center (pusat pelatihan) untuk penyujian hati manusia yang selalu dikotori oleh perbuatanya sendiri yang lebih sering di dorong oleh rasa tamak dan hawa nafsu yang menggila....oleh karena itu... setelah manusia masuk dalam sebuah training center selama kurang lebih satu bulan...maka manusia itu dianggap menggapai sebuah kemenangan atau kita sebut sebagai hari kemenangan- i'dul fitri- atas keberhasilanya menjalani masa-masa pelatihan yang penuh dengan berbagai halangan dan rintangan tentunya”, jawab dj hasbi.

“Aku boleeeeehhh nanya lagi ngga ??”, tanya dj mela yang mulai mencari perhatian lebih.

“Nggaaaa bolehhh....sekarang giliran patma !!!”, suara dj patma yang tiba-tiba memotong dan menunjukan kalau diantara mereka ada sebuah persaingan psikologi untuk mendapatkan pria penggemar tahu gejrot ini.

“Mas hasbi...patma mau tanya yah....memangnya apa implikasi setelah kita lulus dari training center itu tadi ? Dan terlebih ketika kita telah selesai melakukan idul fitri ?”, sebuah pertanyaan melayang dari dj patma yang agak sedikit malu-malu beruang putih seperti sedang dikasih kacang tojin.

“Setelah melatih diri dalam training center tersebut manusia diharapkan dalam 11 bulan kedepan tetap konsisten untuk menjalankan segala perbuatan-perbuatan baik yang telah mereka lakukan selama di bulan ramadhan, baik itu secara perilaku maupun segala hal yang bersifat abstrak dan hanya diketahui oleh individu itu sendiri seperti tidak berprasangka buruk, tidak mudah marah, cepat tersinggung, bersikap sabar dan lain-lainya.....Karena esensi dari apakah kita benar-benar lulus dari training center itu adalah bagaimana nantinya kita menjalani 11 bulan ke depan apakah perilaku dan akhlak kita bisa lebih baik, jika tidak...maka kita hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga”, jawab dj hasbi yang tiba-tiba hampir tidak konsentrasi karena bayang-bayang wajah dj patma selalu lekat dalam otaknya setelah seharian penuh memelototi foto-foto nya di facebook.

“Bisa kasih contoh yang lebih konkrit ustadz hasbi ??”, pinta dj ipon dan dj andy.

“Hmm..ok... manusia selalu ingin mendapatkan segala sesuatu yang mereka inginkan, dan untuk mendapatkan hal itu terkadang manusia tidak peduli dengan lingkungan dan juga bagaimana hubungannya dengan orang lain baik sesama muslim atau muslimah ataupun juga dengan non-muslim....Contoh konkritnya, jika ada dua orang wanita yang menginginkan satu orang laki-laki yang sama-sama mereka sukai, maka akan besar kemungkinanya dan sering terjadi bahwa dua orang wanita itu bisa saling menjelekan antara yang satu dan yang lainnya. Dan tentunya, hal seperti ini sangat dilarang di dalam islam....Sifat-sifat buruk semacam ini adalah hal yang harus selalu diredam selama bulan ramadhan. Oleh karena itu, jika sifat buruk ini dapat diredam selama bulan ramadhan maka diharapkan persaingan yang dapat menimbulkan sifat-sifat buruk sekaligus dapat menghancurkan hubungan sesama muslim diharapkan tidak ada lagi dalam 11 bulan ke depan”, dj hasbi memberikan contoh yang konkrit sambil mencoba mendamaikan secara tidak langsung “perang dingin” antara Rusia dan Malaysia (dj patma dan dj mela). Ke duanya merasa malu dan hanya manggut-manggut saja.

“Ok...sobat radioppidunia...ini adalah edisi siaran spesial dari radioppidunia karena belum pernah banget selama radio ini berdiri.....radio ini disiarkan dengan 7 dj langsung bersamaan dari tempat yang berbeda.....”, sambung dj aga yang belum habis-habisnya siaran, sambil menjilat-jilat kulit kiwi yang warnanya kini sudah mulai pudar.

“Sobatradioppidunia....kayaknya kita sudah hampir 6 jam yah menemani sobat... di acara spesialnya lebaran radioppidunia....oleh karena itu, kita mau pamit dan undur diri dulu dari ruang dengar sobat radioppidunia semua...”, suara dj aga sudah semakin nampak loyo persis seperti mobil tua yang sudah kehabisan aki dan ngga bisa di charge lagi.

“Akhir kata....kami ATAS NAMA SELURUH PENYIAR RADIOPPIDUNIA ingin mengucapkan kepada seluruh sobatradioppidunia di berbagai pelosok belahan dunia... SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H ....MINAL AIDZIN WALFAIDZIN....MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN....”, suara dj ipon, dj andy, dj aga, dj wonny, dj mella, dj patma, dj hasbi gegap gempita menggetarkan seluruh langit di berbagai belahan dunia. Semakin menambah aroma-aroma ketupat berseliweran di langit biru yang terpantul ke riak-riak air di sungai, tergulung ombak-ombak kecil di muara, bersatu padu di bawa angin, meyelinap diantara batasan-batasan pelangi yang melintang di langit biru.

LOVE