About Me

Foto saya
Bantaeng, Sul-sel, Indonesia
Yg jeLas Baikkk deCh...

Kutunggu di Shimokitazawa

Lampu-lampu sudah dinyalakan. Layar bioskop mungil berpenonton maksimal 20 orang itu sebentar lagi ditutup. Namun Café yang tak kalah mungilnya disebelah bioskop itu masih menyisakan kehidupan. Pengunjung terakhir Bioskop Shimokitazawa keluar dari pintu samping sambil berangkulan dan berbisik-bisik mesra. Mungkin masih terkesan dengan film romantis yang baru saja mereka tonton.
“Dasar anak muda!” gerutu tuan Hiroshi, lelaki berwajah tirus itu pemilik sekaligus pegawai bioskop dan café itu selama 30 tahun!Sepasang anak muda usia belasan tahun itu menyeruak masuk ke dalam Café, memesan Ocha hangat dan Takomiyaki.Ini bukan kunjungan pertama mereka. Wajah Tuan Hiroshi tak asing lagi bagi mereka. Tak lama kemudian mereka bertiga sudah terlibat dalam obrolan ringan.
“Tahukah kalian, dulu ada seorang pelanggan Bioskop Shimokitazawa bernama Tuan Keitaro. Umurnya kurang lebih seusia denganku. Keitaro menjadi pengunjung tetap Shimokitazawa. Sejak ia masih muda. Keitaro muda datang ke bioskop tidak sendiri. Dia selalu datang degan kekasihnya Kinanti. Seorang gadis Indonesia yang cantik jelita.”
“Mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.” Anak laki-laki bernama Aidan itu tertawa. Bukan kebetulan ia juga orang Indonesia. Ia terdampar di negeri Oshin itu sebagai utusan negaranya dalam program pertukaran pelajar antar Negara.“Haruskah cerita ini kuteruskan?” Tanya Tuan Hiroshi.“Teruskan! Teruskan, Tuan Hiroshi!” seru Kyoko kekasih Aidan yang blasteran Jepang-Philippines antusias. Matanya yang indah berkedap-kedip menanti kalimat yang akan diucapkan Tuan Hiroshi berikutnya. “Dia memang selalu tertarik dengan cerita-cerita romantis!” goda Aidan lagi.“Aidan!” sungut Kyoko seolah menyuruh kekasihnya itu diam.
“Seorang lelaki tua yang malang!” Tuan Hiroshi menghembuskan nafas beratnya, Kinanti yang sangat dicintainya, pergi meniggalkannya di Bioskop Shimokitazawa. Ia berbisik denganku dengan berlinang air mata.     Ia mencintai  Keitaro tapi ia akan dinikahkan orang tuanya di Indonesia. Setiap  saat  aku ingin mengucapkan kata-kata terakhir yang dikatakan Kinanti pada Tuan Keitaro, setiap kali itu  juga lidahku menjadi kelu. Tuan Keitaro terus mengunjungi Shaimokitazawa berharap kekasih hatinya kembali. Namun Kinanti tidak pernah kembali. Beberapa kali pula ia mengunjungi Indonesia tapi ia kembali dengan hampa. Sampai suatu  malam di puncak musim dingin yang  membeku, Tuan Keitaro datang dengan gontai tapi bibir tuanya tersenyum. Dia bilang padaku, kalau hari itu  akan datang. Kupikir dia sudah gila. Ketika film sudah berakhir , semua penonton sudah meninggalkan Shimokitazawa, tinggal Tuan Keitaro duduk menatap layar dalam diam. Kutepuk punggungnya, dia tidak bergeming. Kupanggil namanya, ia tak menyahut. Tak bergerak dan tak bersuara. Kuraba tangannya, dingin seperti salju diluar. Tahulah aku dia pergi untuk selama-lamanya. Ia pergi dengan tersenyum. Ia telah bertemu dengan kekasihnya.”
Aidan menyeka bulir-bulir bening disudut mata Kyoko. Hati gadis Jepang itu mudah tersentuh dengan cerita mustahil sekalipun. Aidan menggenggam jemarinya,m emberi nya kekuatan.“"Cerita yang sangat romantis.” Kyoko mencoba tersenyum.Kalau kamu meninggalkanku disini, aku tak akan segila Tuan Keitaro. Aku akan bertemu gadis lain, jatuh cinta dengannya.” Aidan mencoba bercanda, sepertinya usahanya gagal. Mata Kyoko membulat“OK…..OK, aku akan menunggu hingga kulitku keriput dan jenggotku memutih.””Aidan, kamu lucu!” kyoko memukul bahu Aidan manja. Tawa merdunya terdengar nyaring, namun jauh didasar hatinya ada ketakutan, cerita Tuan Hiroshi seolah menyadarkannya akan kehadiran Aidan dan cintanya.
”Aidan pria asing. Dia akan pulang kenegaranya dan melupakanmu.” Ken memperingatkan Kyoko. Kyoko pikir Ken hanya cemburu karena Kyoko telah memilih Aidan, anak baru dari negeri asing daripada Ken yang telah mengenalnya sejak kanak-kanak.    ”Apa kau tak belajar pada apa yang menimpa ibumu? Merana dan menderita ditinggal pergi suami yang dicintainya pulang ke Philippina?”"Ken, cukup!” Tangan Kyoko terangkat ke udara. Nyaris ia melayangkan tangannya ke wajah Ken. Begitu muak ia mendengar kata demi kata yang Ken ucapkan.”Kyoko, apa yang kau pikirkan?” kejut Aidan berusaha mencari jawaban dimanik mata Kyoko yang resah.”Aidan , kau sungguh-sungguh mencintaiku?””Perlukah kata-kata itu kuucapkan?”Kyoko menatap Aidan penuh pengharapan.”Baiklah, aku mencintaimu Kyoko.” bisiknya lembut,”Sangat mencintaimu.”Angin malam di Tokyo sanggup membuat Aidan menggigil, namun tatapan Kyoko membuatnya hangat, menyelusup hingga kerelung hatinya.Mereka berpisah malam itu di depan pintu apartemen Kyoko.
Sepeninggal Aidan, Kyoko mendapati Okasan tergopoh-gopoh mendatanginya dengan wajah pucat. Ia berusaha berkata-kata. Suaranya tidak begitu jelas,”Kyo-chan, Shin....Shinobu meninggal! Bunuh diri!””Apa! Shinobu bunuh diri!” jerit Kyoko tak percaya! Lututnya terasa lemas seketika.Ibunya baru saja memberi tahukan.”Kyoko terduduk dengan pandangan kosong.”Kyo-chan, pagi tadi sebelum ditemukan bunuh dri, Shinobu kemari. Dia meitipkan ini.” Okasan megangsurkan sebuah surat dengan tangan gemetar.Kyoko membaca surat Shinobu dengan kerongkongan seakan tercekat.
Kyoko sahabatku.Aku mencoba mencarimu. Tapi kau tak juga kutemukan. Kutulis surat ini dengan hati hancur. Tak ada guna lagi hidup ini. Mike meninggalkanku.      Dia kembali ke Amerika, kukira ia punya pacar baru. Hidupku berakhir bersama kepergiannya. Kukira punya pacar orang asing adalah kebanggaan, ternyata aku salah. Kuharap kamu menyadarinya, sebelum terlambat. Aidan hanya bayang-bayang Kyoko. Dia semu. Kenlah kenyataan. Putuskan sebelum kamu terluka lebih dalam seperti diriku.                                                                      Sahabatmu                                                                       Shinobu                                          
Pendar-pendar sinar matahari senja masih tersisa diawal musim gugur. Anginnya terasa menggigit. Kyoko merapatkan tubuhnya kelengan Aidan yang kokoh. Daun-daun pepohonan yang mulai  menguning memberi sensasi tersendiri dihati Kyoko sekaligus kesedihan. Kesedihan yang sulit ia terjemahkan. Dengan sudut matanya ditelusurinya setiap lekuk wajah berkulit sawo matang itu, seolah ia berusaha merekam sosok terkasih dalam benaknya hingga tak mungkin terhapus oleh waktu.Mereka tiba di Shimokitazawa sesaat film akan diputar. Tuan Hiroshi menyambut mereka ramah,”Kusisakan dua kursi paling belakang untuk kalian.” katanya sambil tersenyum penuh arti.AAidan begitu menikmati film yang diputar. Kyoko tidak. Nampaknya ia menonton film yang ada dalam pikirannya sendiri. Ditengah-tengah pertunjukkan Kyoko berdiri,”Aku mau ke restroom.” bisiknya pada Aidan, seraya mengecup lembut kening kekasihnya.Kaki Kyoko seolah bermagnet. Setiap kali ia melangkah, sepatunya seolah lengket ke lantai, dengan susah payah ia menemukan pintu keluar. Cuaca  musim gugur yang tak menentu menyergapnya. Menenggelamkannya dalam kebekuan. Ingin ia berbalik kedalam Shimokitazawa, mendamba kehangatan cinta Aidan.”Kyoko!” seru sebuah suara. Tuan Hiroshi menangkap bayangannya. Kyoko tak menyahut. Ia pergi tanpa suara hanya deraian air matanya menjelaskan lebih dari sekedar kata-kata.Ketika seorang lelaki muda bernama Aidan keluar dari Shimokitazawa kebingungan, berteriak-teriak memanggil Kyoko. Tuan Hiroshi menjawab dengan dingin dan lirih,”Dia sudah pergi!”                                    
Tiga  tahun kemudian.Aidan bukan lagi siswa SMU yang sedang menjalani pertukaran pelajar ke Jepang. Ia sudah mahasiswa . Ia kembali mendapatkan kesempatan ke Jepang setelah memenangkan full scholarship di Universitas Tokyo.Kembali ke Tokyo, seakan kembali pada kenangannya tentang Shimokitazawa. Semakin ia menghindari tempat itu, semakin kuat hasratnya pergi kesana.Shimokitazawa adalah kenangan sekaligus kesedihan baginya. Hingga disuatu malam Aidan menguatkan hatinya menyusuri jalan yang sangat dikenalnya. Menuju suatu tempat bernama Shimokitazawa, dimana cintanya bersemi, disitu pula cintanya layu.spotlight, masih sama. Tapi gedung itu, Shimokitazawa? Aidan menajamkan matanya, memastikan penglihatannya tidak salah. Tak ada gedung tua, sebuah bar baru  dan tempat karaoke. Aidan terduduk sembari mengusap wajahnya. Ia merasakan dirinya seperti Tuan Keitaro yang menunggu kekasihnya di Shimokitazawa, namun bangunan itu sudah runtuh begitu pula cintanya, terkubur bersamanya. Aidan berjalan dengan gontai meninggalkan tempat itu dengan perasaan hampa.Tanpadisadarinya, sepasang mata menatapnya sedih. Seorang pemuda Jepang menarik tangannya menjauh dari tempat itu, ”Kyoko, cepat kita pergi dari sini!” 

Kisahku

Selama ini aku memang belum menyatakan perasaanku padanya. Tapi, gak ada salahnya kalau aku pengen jadi sahabatnya aja. Dia memang gak tau kalau aku suka selalu mmemperhatikan gerak-geriknya, mungkin dimatanya aku hanya sahabat bbaik yang gak special buatnya. Padahal selama ini hhatiku tertutup untuk cowok lain. Pertemuan pertamaku dengannya terjadi disekolah.Saat itu aku kesiangan, karena tadi malam aku tidur terlalu larut. Aku pergi sekolah dengan tergesa-gesa, sesampainya disekolah aku tetap berlari karena kelasku bberada diujung koridor sekolah. Aku terus berlari tanpa memperhatikan sekelilingku. Lalu “Brukk”. Aku sadar telah menabrak seseorang yang membuatku terkejut. Belum habis kebinggunganku seorang cowok mendatangiku dan membantu aku berdiri. Saat aku melihat wajahnya, dalam hati aku berkata “ya, ALLAH.. cowok ini cool banget, matanya yang bisa dibilang sipit, senyumnya, lesung pipinya, dan rambutnya yang jabrik”. Tetapi aku langsung teringat kalu hari ini pelajaran fisika yang gurunya killer abis. Lalu, ku tingalkan dia dengan tanda Tanya yang besar. Sesampainya dikelas aku langsung mengambil tempat duduk. Dalam diamku, aku mengigat hal yang terjadi tadi. “DOORRR” kaget marella. Marella adalah sahabatku sajak SD, Kami selalu satu sekolah. “ngapain kamu melamun???” Tanya Marella. “ah, gag apa-apa ko La. Q cuma” belum habis jawabanku Pak Dika keburu masuk dan pelajaran pun akhirnya dimulai.Saat istirahat, aku dan marella pergi kekantin karena perut kami sudah keroncongan. “La, siapa tuh cowok yang duduk itu??” sikutku. “yang tinggi itu” “iyah…” “hmm, namanya Ryan dia anak 2 ipa 1, temen kakakku waktu SMP. Tumben nanya-nanya, hayo ada apah ni???” jawab Marella dengan senyum menggoda. “Haiii, Ryan kesini !!!” teriak Marella. Aku terkejut, “gila, apa lagi niey ulah Marella” tanyaku dalam hati. Saat Ryan datang gag tahu kenapa jantungku berdebar-debar dan saat itu aku meras benar-benar gerogi.

Emak Mendadak Dangdut

Elisa Audrey “ Emak....Ara pergi dulu, nanti aye pu...” Ara belum menyelesaikan omongannya, matanya terbelalak melihat emaknya yang baru keluar dari kamar “ Emak, aye kagak sale liat nih, kok rambut emak jadi coklat kayak gitu, abis bejemur dimane mak? Cie ileh, peke lipstik ame bedak tebel bener, mau ngelenong dimane?” Tanya Ara heren melihat perubahan emak yang tidak biasanya “ Yeh, bisenye ngeledek aje, emak diwarnain eni rambut biar kayak Inul Daratista yang di tivi entuh, pan cakep tuh biar kayak orang bule gitu, oh iya ‘Ra sini emak kasih tahu, ade yang mau emak bicarain” Ajak emak ke ruang tengah “ Ape mo kayak Inul? Oh iya mak jangan lame-lame nyomongnye, aye kudu sekolah nih, nanti aye terlambat lagi” “ Mak mo ikutan kopestisi dangdut, yang ade di tivi-tivi entu, biar emak ngetop” Ucap emak “ Yeh, ileh ngomong aje ampe belepotan gitu mak, yang bener tuh, kompetisi bukan kopestisi, ade-ade aje mak, mo ikutan kayak gituan!!, kagak saleh? Emak mendadak dangdut nih ceritanye? Yang kagak-kagak aye emak ini, duh mendingan emak masak aje dah, masakan emak entuh kan enak, buke warung dah, tar orang-orang pade beli masakan emak, entar orang-orang pada bilang nasi uduk emak Idah, ngetop deh kayak ibu Suharti entu yang punya ayam goreng, seantero jagat nusantara tahu ayam goreng Suharti. “ Ogah ah, pokoknya emak mo ikutan entu kopestisi, eh salah, ape entuh?” Ucap emak bingung “ Kompetisi” “ Iya Kompertisi” “ Kompetisi” Ujar Ara sekali lagi “ Ya ilah suseh bener ngomongnye, bagaimane mo nyanyi” lanjut Ara “ Udeh ah, Ara panit dulu mo sekolah ya mak, assalammualaikum” “ Walaikumsalam” Jawab emak                                                   ***
“ ‘Ra kok diem sih, orang gue ngomong, eh lo malah diemin” “ Duh ‘An gue lagi BT!! Nih sama Emak gue” “ Kenapa lagi nyokap lo?” “ Emak gue tuh sekarang lagi aneh, masa die mo ikutan kompetisi dangdut, udeh gitu emak gue pake acara di warnain gitu rambutnye, katenye biar kayak rambut Inul Daratista gitu deh ” Jelas Ara panjang lebar “ Wah keren dong, pasti emak lo jadi tambah cantik dah?” “ Yeh, lo malah ngeledek lagi” Ucap Ara kesal “ Kenapa lo yang jadi pusing, lo kan seharusnya seneng kalau nyokap lo jadi terkenal nantinye? Jangan-jangan ape lo iri ya, takut kesaing?” Ledek Anie -sahabat Ara- “ YEH... gak mungkin gue iri lagi, gue entuh yang paling yahut dibandingin nyokap gue tahu!!!” Jawab Ara sambil tertawa “ Emak gue mendadak dangdut gitu? Padahal dulu die paling kagak demen dangdut, eh sekarang malah pingin jadi penyanyi dangdut. “ Pasti ade ape-ape nih, sampai emak gue begitu serius mo ikutan kompetisi entu, gue harus selidiki” lanjut Ara “ Iye dah, gue dukung usaha lo, ape yang bisa gue bantu buat lo?” Ucap Anie menawarkan jasa “ Gampang nanti aje gue kasih tahu lo, sekarang gue pulang dulu yeh, takut emak ngue nyariin gue, assalammualaikum” “ Walaikumsalam”
                                             **** Bukan anak muda saja yang ingin mengalami perubahan dalam penampilah, tak terkecuali emak Idah, seorang anak Betawi yang di selama belasan tahun hidup di daerah Condet, emak Idah hanya memiliki seorang anak perempuan berumur 15 tahun bernama Ara. Orang tua dan anak ini memiliki sifat yang sangat berbeda, dua karekter yang saling bertolak belakang, sehingga berbagai macam konflik hampir mewarnai hari-hari mereka yang hanya berdua. “ Assalammualaikum, emak..... aye udeh pulang nih, laper banget nih mak..” Ujar Ara sambil berteriak “ Emak” Lanjutnya, sambil mencari emak ke segala ruang di dalam rumah “ Ya ilah, ini emak kemane sih, pake acara ilang lagi, mane emak enggak masak, laperkan aye, dasar emak enggak sayang ama anak” Gerutu Ara seorang diri Pukul 21.00 WIB, emak Idah belum juga pulang, rasa cemas merasuki pikiran Ara akan keadaan Ibunya, dengan cepat Ara mencari ponselnya yang ia letakan di atas meja belajar, bergegas ia mencari nomer yang ingin dituju “ Halo, ‘An” Ucap Ara ketika telephonenya tersambung “ Iye, ade ape malem-malem lo telepone gue?” “ Duh ‘An, emak gue belom pulang, duh ini orang kemane lagi, enggak ade pesen die mo kemane, duh ape yang harus gue lakuin nih?” Kata Ara panik “ Iye udeh lo tenang aje, saran gue, lo tunggu dulu ampe satu jam lagi, trus kalo masih enggak ade kabar baru dah lo telepone polisi, biar bantu nyari emak lo, bagaimane?” Saran Anie di sebrang sana “ Iye, gue ikutin saran lo dah, doain biar emak gue cepet pulang yeh, ya udeh kalau begitu gue panit dulu, assalammualaikum” Ucap Ara lemas “ Walaikumsalam” Rasa cemas yang menghinggapi Ara membuatnya memutari seiri suang tamu sambil melihat kearah luar, dengan harapan ibunya akan segera datang, 25 menit kemudian tampak dari jauh terlihat seseorang yang hendak menghampiri rumanya, dengan cepat Ara berlari keluar untuk membukakan pintu. “ Emak!!!!!, kemane aje, Ara cemas tungguin emak, mane pergi enggak bilang-bilang, emak kemane sih, ?” Ucapku bertubi-tubi “ Duh eni anak cerewet, bener, emak capek nih” “ Selamat malam, anda anak di Ibu Idah ini?” Tanya seorang pria yang bersama dengan emak “ Iye saya anaknya, ade ape ya pak dengan emak aye?” Tanya Ara penasaran “ Ibu ini tadi tersesat, saya bertemu dengan ibu Idah di halte, karena rumah saya dekat daerah ini, dan saya mengajak ibu untuk pulang bersama dengan saya” Ucap pria perbadan tegap dengan rambutnya yang bergaya spaike, kulitnya yang putih ditambah dengan hidungnya yang mancung, matanya yang berwarna coklat, membuatnya begitu tampan “ Duh terima kasih atas bantuannya telah membantu emak aye, aye binggung kemane aye mo cari emak malem-malem begini, terima kasih sekali lagi ya” “ Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu, mari” “ Oh..iye aye Ara, nama anda siape?” tanya Ara “ Robby” Jawab pria itu “ Oh....Pak Robby, terima kasih yeh” kata Ara “ Panggil saja saya Robby” “ Oh iya... maaf...pak Robby, eh, maksud aye Robby” “ Masuk dulu nak Robby, nanti emak buatkan minuman” Ucap emak mulai bersuara “ Terima kasih banyak atas tawarannya bu, karena sudah malam saya permisi pulang dulu” “ Oh....ya sudah, tapi laen kali dateng ye mampir kerumah emak, nanti emak masakin makanan yang enak-enak” Pinta emak “ Iya terima kasih bu, lain kali saja, kalau begitu saya pamit dulu, mari” “ Hati-hati ya nak Robby” “ Duh emak ini, kemane aje sih, pergi bilang-bilang dong mak, kan aye jadi cemas” Tanya Ara “ Kalo emak bilang yang ade nanti elo ngelarang lagi” Jawab Ara “ Emang kemane sih mak?” Tanya Ara kembali “ Sebenarnye emak pergi untuk ikut entu kopertisi dangdut” “ Kompetisi” “ Iye maksud emak yang entu” “ Trus bagaimane hasilnye? “ Gagal total....taltal.....” Jawab emak cepat “ Makannye mak, kagak useh neko-neko, emang jadi artis entu gampang? Emangnye emak bisa nyanyi?” “ Enggak” “ Loh, kalo enggakl bisa nyanyi buat ape mak ikutan kompetisi entu?” Tanya Ara bingung “ Kate orang, kalo mo jadi artis kudu cantik, nah walau emak udeh punya anak atu, pan emak masih cantik, jadinye emak bisa jadi artis?” Jawab emak santai “ Yeh, entu untuk anak-anak mude kaya Ara mak, bukan orang tue, kalo emak ikutan kompetisi entu kudu bisa nyanyi, bukan modal tampang aje.” “ Udeh mak, kagak usah neko-neko, orang emak kagak suke dangdut, malah ikutan kompetisi dangdut, jadi mendadak dangdut nih emak?” kata Ara sambil tersenyum “ Iye, karena emak mo ikutan kopertisi entu aje, emak jadi belajar musik dangdut, tapi lame-lame, emak jadi demen musik dangdut.” “ Walaupun emak kagak jadi artis, emak paling ngetop deh antero daerah Condet ini, karena nasi uduk emak yang enak, aye bangga punya emak yang sayang sama Ara, yang ngerawat Ara dari bayi ampe sekarang eni, pokoknye emak paling yahut dah, Ara sayang sama emak, jangan buat Ara panik lagi ye mak, pergi tanpa kasih tahu Ara?” Ucap Ara memeluk emak “ Iye, maafin emak ye, emak kagak mau lagi dah, ikutan kopertisi ape aje, yang ade cuma bikin emak cape aje, emak kapok dah” “ Walau kagak jadi artis, yang penting emak mo punya pacar yang ganteng kayak nak Robby yang tadi entu, kire-kire bapaknya duda kagak ye?” “ Yeh dasar emak genit” “ Yang ade tuh, Robby buat Ara mak” “ Kagak boleh, lo belom boleh pacaran, lo masih kecil” kata emak melarang “ Ye udeh Ara Backstreet aje, dah ah Ara ngantuk mo tidur dulu” “ Ra ape tadi bekstet!!!, entu artinya ape Ra....Ra....Ra?”

Edisi Spesial Radioppidunia

Gema takbir datang menyelinap disetiap pembuluh-pembuluh darah yang penuh dengan nafas-nafas kalimat tuhan yang getarannya terasa memenuhi rongga dada. Sanak famili datang silih berganti, bertukar makanan, bertukar kata, bertuka sms dan mms, bertukar rasa, dan juga bertukar asa yang sudah terlalu lama tak terasah oleh kabut-kabut rasa. Gema takbir masih tetap menyeringai dan tetap mematri suasana idul fitri yang selalu penuh suka cita dan kebahagian yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Tak terasa linangan air mata tumpah membasahi pipi mengingat dosa yang telah diperbuat baik sengaja ataupun tidak sengaja kepada orang-orang dekat maupun jauh. Aneka makanan siap disajikan di atas meja, makanan silih berganti keluar dari dapur yang nampak seperti pabrik makanan untuk manusia sedunia. Permen, coklat, dan manisan-manisan berjejer tersusun rapih di atas meja. Gelas-gelas, piring-piring, karpet-karpet yang hanya dipakai setahun sekali, kini nampak tersusun dan terpajang bak toko-toko di tanah abang yang selalu dipenuhi para pelanggan. Suara-suara petasan terdengar dari berbagai sudut kampung. Anak-anak kecil berkeliling mengunjungi tetangga disekitar rumah, membawa dompet kosong dengan harapan akan terisi penuh dengan THR yang diidam-idamkanya dari rumah ke rumah.

Di lain sisi, bagian “barat” bumi, menunjukan suasana yang sangat kontras. Tak ada bunyi bedug, gema takbir, lantunan kalimat-kalimat allah yang semakin menambah suasana idul fitri menjadi syahdu dan penuh makna. Tak ada orang yang datang silih berganti masuk ke rumah. Tak terasa suara-suara toa dari masjid menyentuh setiap dedaunan yang ada di sekitar. Semua tampak mati dan sedih. Teringat sanak famili yang tengah bergembira. Suasanya berbeda....tak ada kacang-kacang yang terjajar dan tersusun rapih di atasa meja, tak ada suara anak-anak kecil berlarian membawa sarung yang diselempangkan di pundaknya, tak ada wanita-wanita muslimah “jelmaan” yang tiba-tiba berselendang di hari yang fitri. Tak ada iklan-iklan di televisi yang membawa gambar ketupat. Di dapur tak ditemui lontong, opor ayam, rendang, bawang goreng, apalagi kerupuk-kerupuk renyah yang bunyinya kriuk-kriuk ketika tersentuh kuah ketupat...Yummmmmm....Yang ada hanya internet dan radio yang menemani kesepian para mahasiswa di pelbagai belahan dunia dalam rangka memperkaya isi otak mereka demi masa depan yang cerah – mencari ilmu.

Terdengar sayup-sayup suara radioppidunia mengisi ruang dengar dengan lagu-lagu bernafas religi. Tak ada satu penyiar pun yang terdengar, hanya lagu-lagu yang tak henti-hentinya berputar silih berganti. Tetap berputar dari satu artis ke artis yang lain. Tak lama berselang... sebuah suara keluar dari radio komunitas ini. Para pendengar mulai mengalihkan perhatian pada radio yang terdengar mulai mati semenjak beberapa menit terakhir, tapi kematian itu hanya sejenak dan kembali mengudara melalui jaringan-jaringan internet yang tetap menjadi penopang utama radio persatuan mahasiswa indonesia sedunia ini.

“Lam lekommmmmmmmmm....... sobatradioppidunia”, suaranya agak sedikit kemayu-kemayu yang nampak mulai timbul tenggelam. Getaran suaranya menggema dan menggaungkan hari kemenangan bagi umat muslim di seluruh dunia. Masih tetap menggema dan menggema....

“Halo ketemu lagi disini bareng aga yah.....aga akan nemenin kamu semua satu harian penuh dengan lagu-lagu yang oks banget tentunya....”, sambug dj aga yang masih berdomisili di new zealand sana karena tidak di bolehkan pulang oleh orang tuanya disebabkan alasan ongkos lebih berharga daripada kehadiran sang aga di keluarga.

“Apa kabar juga nih para sobat radioppi dunia ? Pastinya semuanya pada bersuka ria donk merayakan lebaran...?”, sambung dj patma yang juga ingin menyumbangkan suaranya langsung dari Rusia. Patma merasa kesepian di tula, tempat dj patma berdomisili, karena tidak ada satu pun warga Indonesia yang dapat ditemuinya kecuali kalau dia mau berjalan sekitar 60 km dari dimana dj patma kini bertengger, itupun hanya ada 2 orang mahasiwa jomblo tulen.

“Bagaimana sih rasanya berpuasa di rusia sana ?”, tanya dj aga yang lagi siaran bareng dengan dj patma sambil menguyah-nguyah kulit kiwi.

“Wah...kalau di Tula sepertinya dead abizzzz deh”, jawab dj patma yang baru saja balik dari moscow hanya untuk sekedar melakukan sholat I'd bersama masyarakat Indonesia lainya.

“Kalau di New Zealand sana ?”, tanya dj patma kembali pada dj aga.
“Kalau disini lumayan sih yah....adalah dikit-dikit rasanya lebaran kayak di indo karena ada orang indo-nya juga walaupun sedikit....yah lumayan lah buat nemenin makan-makan goreng pisang ”, dj aga yang dari tadi sebelum siaran tak habis-habisnya menyeka air matanya karena teringat keluarga-nya yang nampak telah membuang dirinya ke pulau kecil ini.

“Halo sobattttt....................!!”, sambung dj wonny yang tiba-tiba juga menyelinap dari jerman sana dan ikut nimbrung siaran bareng. Dj aga yang memang sudah ada perasaan “ngga jelas” dengan dj wonny tidak mau menyia-nyiakan momen seperti ini -siaran bareng- untuk memberikan sedikit perhatian dan pertanyaan.

“Halo wonny...kamu apa kabar ? Coba mungkin bisa diceritain ke aga bagaimana suasana lebaran di jerman sana?”

“Di jerman ini tentuya cukup meriah banget yah terutama kalau di Berlin...karena banyak orang indonesia nya lo ...wuihhhh...ketupat gituh lo”, jawab dj wonny yang ngga peduli denga perasaan dj aga yang sudah seperti ketupat di rebus diatas kompor dengan api biru.

“Kok lebaran di korea ngga ditanyain sih ?”, tanya dj andy yang rupanya sedari tadi juga nimbrung di acara siaran bareng edisi spesial radioppidunia.
Dj andy spontan membuka mulut karena udah ngga tahan mau menceritakan bagaimana suasana lebaran di korea. “Lebaran di korea walaupun rada sepi..tapi kita tetep meriah lo...”, yang nampak makin narsis persis seperti tata rias yang pertama kali merias penganten kelas atas.

“Iya aku juga ngga ditanya sih......iihhh”, suara dj mela yang serak-serak banjir menggetarkan speaker para pendengar radioppidunia. Rupaya sedari tadi juga ada dalam siaran bareng. Dj aga semakin nampak egoisnya dan terlalu memberikan perhatian kepada dj wonny.

“Oh ya...gimana lebaran disana mela ? Kita kan juga ingin tahu lo..”, tanya dj aga spontan agar tidak terlau nampak akal bejatnya.

“Oh iya dunk...di Malaysia ini orang-orang pada datang ke sanak famili, tak ubahnya seperti budaya-budaya indonesia juga...mereka juga makan lemang dan rendang lo....”, imbuh dj mela yang semakin ngga tahan ingin memuncahkan seluruh kata-kata yang ada dalam dirinya tentang berlebaran di Kuala Lumpur sana.

“Assalamualaikum.......”, suaranya kental dan berat.

“Hasbiiiiiiiiii...................”, spontan langsung dj mela yang amat hafal sekali setiap hentakan-hentakan yang ada di tenggorokan dj yang berdomisili di mesir ini. Dj patma merasa kebakaran jenggot mendengar dj mela yang semakin agresif dan gesit menyapa dj hasbi.

“Hasbi apa kabar ..? patma mau juga dunk denger cerita-cerita berlebaran di mesir sana..”, potong dj patma yang tak mau kalah dengan dj mela.

“hmhm..hmhm...suasana berlebaran di mesir memang terasa benar-benar khidmat dan kami merasa seperti satu tubuh antara sesama muslim, tidak peduli darimana dia berasal dan apa warna kulitnya”, jawab dj hasbi yang semakin nampak jiwa syaikh nya sambil mengelus-ngelus janggut yang agak sedikit lebat, selebat hutan kalimantan.

“Hasbi...memangnya apa sih sebenarnya hakikat dari I'dul Fitri itu, mungkin perlu berbagi nih kayaknya dengan para sobat radioppidunia ?”,tanya dj ipon yang kini sudah ada di berlin setelah melakukan pindah-pindahan barang dari bremen, sebuah kota yang pernah menjadi aliansi kota-kota pusat perdagangan disekitar abad 13-17 masehi dan terletak di sebelah barat daya jerman.

“Idul fitri secara bahasa artinya adalah kembali kepada fitrah”, jawab dj hasbi yang singkat dan masih menyisakan pertanyaan dan perlu penjelasan. Dj mela dan dj patma ingin bertanya duluan, helaan nafasnya sudah mulai terdengar jelas. Tapi dj aga masuk bertanya sebelum mereka ber dua berkelahi hanya karena gara-gara pria ber-KTP cirebon ini. “Maksudnya “fitrah” itu apa sich bi...?”

“Fitrah dalam islam adalah kecondongan atau bertendensi untuk berbuat baik dan menjadi putih bersih belum ternoda sewaktu kita pertama kali dilahirkan. Jadinya ketika manusia kembali kepada fitrah, manusia itu diharapkan agar hati mereka kembali lagi menjadi putih bersih bebas dari dosa dan terlepas dari berbagai penyakit hati”, jawab dj hasbi yang makin nampak seperti seorang kyia yag sedang memberikan wejangan kepada para santrinya.

“Hasbiiiii.....mela mau tanya boleh ngga.....emangnya kenapa sich kok berlebaran itu adanya di akhir ramadhan...bukan di awal ramadhan ?”, tanya dj mela yang suaranya dibuat agak sedikit manja-manja di depan dj hasbi.

“Berpuasa pada hakikatnya adalah sebuah training center (pusat pelatihan) untuk penyujian hati manusia yang selalu dikotori oleh perbuatanya sendiri yang lebih sering di dorong oleh rasa tamak dan hawa nafsu yang menggila....oleh karena itu... setelah manusia masuk dalam sebuah training center selama kurang lebih satu bulan...maka manusia itu dianggap menggapai sebuah kemenangan atau kita sebut sebagai hari kemenangan- i'dul fitri- atas keberhasilanya menjalani masa-masa pelatihan yang penuh dengan berbagai halangan dan rintangan tentunya”, jawab dj hasbi.

“Aku boleeeeehhh nanya lagi ngga ??”, tanya dj mela yang mulai mencari perhatian lebih.

“Nggaaaa bolehhh....sekarang giliran patma !!!”, suara dj patma yang tiba-tiba memotong dan menunjukan kalau diantara mereka ada sebuah persaingan psikologi untuk mendapatkan pria penggemar tahu gejrot ini.

“Mas hasbi...patma mau tanya yah....memangnya apa implikasi setelah kita lulus dari training center itu tadi ? Dan terlebih ketika kita telah selesai melakukan idul fitri ?”, sebuah pertanyaan melayang dari dj patma yang agak sedikit malu-malu beruang putih seperti sedang dikasih kacang tojin.

“Setelah melatih diri dalam training center tersebut manusia diharapkan dalam 11 bulan kedepan tetap konsisten untuk menjalankan segala perbuatan-perbuatan baik yang telah mereka lakukan selama di bulan ramadhan, baik itu secara perilaku maupun segala hal yang bersifat abstrak dan hanya diketahui oleh individu itu sendiri seperti tidak berprasangka buruk, tidak mudah marah, cepat tersinggung, bersikap sabar dan lain-lainya.....Karena esensi dari apakah kita benar-benar lulus dari training center itu adalah bagaimana nantinya kita menjalani 11 bulan ke depan apakah perilaku dan akhlak kita bisa lebih baik, jika tidak...maka kita hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga”, jawab dj hasbi yang tiba-tiba hampir tidak konsentrasi karena bayang-bayang wajah dj patma selalu lekat dalam otaknya setelah seharian penuh memelototi foto-foto nya di facebook.

“Bisa kasih contoh yang lebih konkrit ustadz hasbi ??”, pinta dj ipon dan dj andy.

“Hmm..ok... manusia selalu ingin mendapatkan segala sesuatu yang mereka inginkan, dan untuk mendapatkan hal itu terkadang manusia tidak peduli dengan lingkungan dan juga bagaimana hubungannya dengan orang lain baik sesama muslim atau muslimah ataupun juga dengan non-muslim....Contoh konkritnya, jika ada dua orang wanita yang menginginkan satu orang laki-laki yang sama-sama mereka sukai, maka akan besar kemungkinanya dan sering terjadi bahwa dua orang wanita itu bisa saling menjelekan antara yang satu dan yang lainnya. Dan tentunya, hal seperti ini sangat dilarang di dalam islam....Sifat-sifat buruk semacam ini adalah hal yang harus selalu diredam selama bulan ramadhan. Oleh karena itu, jika sifat buruk ini dapat diredam selama bulan ramadhan maka diharapkan persaingan yang dapat menimbulkan sifat-sifat buruk sekaligus dapat menghancurkan hubungan sesama muslim diharapkan tidak ada lagi dalam 11 bulan ke depan”, dj hasbi memberikan contoh yang konkrit sambil mencoba mendamaikan secara tidak langsung “perang dingin” antara Rusia dan Malaysia (dj patma dan dj mela). Ke duanya merasa malu dan hanya manggut-manggut saja.

“Ok...sobat radioppidunia...ini adalah edisi siaran spesial dari radioppidunia karena belum pernah banget selama radio ini berdiri.....radio ini disiarkan dengan 7 dj langsung bersamaan dari tempat yang berbeda.....”, sambung dj aga yang belum habis-habisnya siaran, sambil menjilat-jilat kulit kiwi yang warnanya kini sudah mulai pudar.

“Sobatradioppidunia....kayaknya kita sudah hampir 6 jam yah menemani sobat... di acara spesialnya lebaran radioppidunia....oleh karena itu, kita mau pamit dan undur diri dulu dari ruang dengar sobat radioppidunia semua...”, suara dj aga sudah semakin nampak loyo persis seperti mobil tua yang sudah kehabisan aki dan ngga bisa di charge lagi.

“Akhir kata....kami ATAS NAMA SELURUH PENYIAR RADIOPPIDUNIA ingin mengucapkan kepada seluruh sobatradioppidunia di berbagai pelosok belahan dunia... SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H ....MINAL AIDZIN WALFAIDZIN....MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN....”, suara dj ipon, dj andy, dj aga, dj wonny, dj mella, dj patma, dj hasbi gegap gempita menggetarkan seluruh langit di berbagai belahan dunia. Semakin menambah aroma-aroma ketupat berseliweran di langit biru yang terpantul ke riak-riak air di sungai, tergulung ombak-ombak kecil di muara, bersatu padu di bawa angin, meyelinap diantara batasan-batasan pelangi yang melintang di langit biru.

Duo Penakluk Hantu

Di sebuah perkampungan nelayan terjalinlah sebuah persahabatan yang indah antara Kabul dan Yudi. Meski kampung mereka jauh dari pusat perbelanjaan dan tempat hiburan tapi hari-hari selalu mereka lalui dengan bahagia. Keduanya sering terlihat bermain kapal-kapalan bersama atau kadang mencari ikan menyusuri pantai menggunakan perahu kecil. Biasanya mereka berangkat selepas Dzuhur dan pulang menjelang Ashar. Yudi pun kerap membantu temannya itu saat mendapat tugas dari bapak Kabul mengecat perahu. Sungguh pertemanan yang indah. Bila datang waktu sholat Maghrib Yudi menjemput Kabul yang rumahnya terletak di pinggir jalan menuju Surau. Di surau itu mereka melaksanakan sholat Mahgrib berjamaah diteruskan dengan tadarus bersama.             Sepulang dari surau mereka terlibat dalam sebuah obrolan tentang kabar yang sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang di kampung yang mengeluh karena akhir-akhir ini hasil tangkapan para nelayan menurun drastis. “Bul…tau nggak katanya sekarang bapak-bapak dikampung kita ketakutan melaut” Ujar Yudi mengawali obrolan. “Memangnya mengapa Yud?” Kabul terlihat serius menanggapi cerita sahabatnya. Entah benar apa tidak tapi menurut warga kampung semua itu dikarenakan ada hantu yang sedang mengamuk di laut. Ada pula yang menambahkan bahwa marahnya penunggu laut karena tak pernah diberi sesaji. “Hiii ngeri”.             Benar memang, tangkapan yang berhasil didapat oleh para nelayan hanyalah sedikit itupun kecil-kecil sehingga bila dijual tak laku seberapa. Ikan tuna dan Tongkol yang biasanya mudah didapat kini tak ditemukan lagi. Paling yang tersangkut dijaring para nelayan hanyalah sampah plastik ataupun cangkang kerang yang telah keropos dan tak dihuni lagi. ”Apa yang harus kita lakukan? Kalo begini terus bisa-bisa kita merugi” Gerutu seorang nelayan sembari membenahi jaring yang terkoyak setelah kena karang di dasar lautan. Yudi yang saat itu melintas mencoba bertanya pada nelayan tadi apa memang ada hantu laut “Ini akibat hantu laut ya pak?” Bukannya menjawab pertanyaan si bocah nelayan itu malah membentak Yudi “Pulang saja kamu, keadaan lagi gawat jangan main di pantai dulu”. Yudi berlalu dengan seribu pertanyaan di dadanya.             Rapat para tetua kampung menghasilkan sebuah kesepakatan bahwa yang harus dilakukan untuk membuang sial yang dialami para nelayan adalah melakukan ruwatan dengan cara memberikan sesaji kepada hantu laut. “Kita tak bisa tinggal diam, jalan satu-satunya adalah memberikan sesaji kepada penunggu laut ini” Bicaranya meyakinkan sehingga para nelayan pun manggut-manggut sembari mengiyakan “Setujuuuu”. Ada semacam kekuatan yang didapat oleh para nelayan bahwa kesulitan yang mereka hadapi akan segera berakhir. Selama ini masyarakat yakin bahwa saat malam datang hantu laut itu marah dan membanting batu karang di dasar lautan hingga menimbulkan bunyi keras “Gedebumm” “Tu kan benar hantunya marah lagi” Seorang penjaga malam nampak ketakutan di pos ronda dan tak berani memandang kearah laut.             Suara itu terus saja terdengar setiap malam hingga tak ada nelayan yang berani melaut. Padahal ikan mudah didapat pada waktu malam hari. Sebagai gantinya nelayan melaut pada siang hari dengan alasan lebih aman meski hasilnya tak sebanyak yang didapat jika melaut pada malam hari. Semakin hari laut semakin tak bersahabat dengan nelayan, ikan kini susah didapat ini berarti kelangsungan hidup para nelayan terancam. Imbasnya anak-anak nelayan yang sekolah harus rela jalan kaki saat berangkat menuju tempat belajar mereka karena uang saku yang biasa mereka terima kini berkurang dan hanya cukup untuk jajan ala kadarnya.             Dipicu rasa penasaran Yudi dan Kabul mencoba untuk memecahkan misteri ini. Mereka terus bertanya apakah hantu laut memang ada? Apa benar hantu laut marah karena tak diberi sesaji dan masih banyak pertanyaan di batin mereka yang harus segera terjawab. Pertanyaan itu nampaknya tak hilang meski Yudi dan Kabul sudah berada di tengah-tengah teman sekolahnya. Saat pelajaran agama Yudi memberanikan diri untuk bertanya pada pak guru Mujib. “Pak apa benar kalau di laut itu ada hantunya” mendengar pertanyaan dari muridnya pak guru Mujib menjawab dengan rinci “Dalam Islam memang alam gaib itu ada dan penghuninya yakni Iblis dan Jin, sedangkan hantu itu termasuk dalam jenis Jin tapi yang berwatak jahat”. “Oo...” Yudi nampaknya sedikit mulai mendapat sinar terang tentang hantu tapi ia masih punya pertanyaan lagi “Lalu kalau memberikan sesaji untuk mereka bagaimana pak, agar hantu nggak marah lagi?” “Yud...memberi sesaji itu termasuk penghormatan atau penyembahan terhadap hantu dan itu dalam Islam tidak diperbolehkan karena termasuk dalam perbuatan syirik”. Lebih panjang pak guru Mujib memberikan penjelasan bahwa hasil tangkapan yang didapat oleh bapak Yudi dan warga di kampungnya sama sekali tak ada hubungannya dengan kemarahan hantu.  Sepanjang perjalanan pulang Yudi mengingat pelajaran agama tentang syirik tadi  bahwa menyembah kepada selain Allah adalah dosa besar. “Aku harus mengingatkan bapak-bapak dikampungku....eee..tapi apa mungkin mereka mau dengar penjelasan dari bocah seumurku ya?” Yudi berencana untuk mencegah pemberian sesaji pada hantu laut di kampungnya. Ia pun teringat pada Kabul “Nanti aku ajak Kabul saja”. Berdasar penjelasan dari pak guru Mujib, malam harinya Yudi meluncur menuju rumah Kabul. Kedua sahabat itu mencari cara agar warga kampung terbebas dari kesyirikan dan melakukan perbuatan yang cuma buang-buang duit. “Padahal kalau memberi sesaji itu harus pakai kerbau”  Benar juga apa yang dipikirkan dua sahabat itu sudah dapat dosa besar masih harus kehilangan uang lagi. Malam hari seperti yang sudah dijanjikan Yudi dan Kabul pergi ke pantai dan mengawasi keadaan sekitar. Tak ada nelayan yang melaut, sepi dan dingin. 2 jam pertama mereka tak mendapati tanda akan kemunculan hantu laut hingga keheningan malam pecah oleh suara dari arah laut “Gedebumm” Suara itu terdengar memekakkan telinga dan menimbulkan percikan air yang tinggi. Kabul segera meraih teropong mainan milik adiknya “Wah..lihat Yud di laut ada yang sedang melempar bom”. Teropong itu berpindah tangan dan Yudi pun terbelalak melihat kenyataan bahwa yang ada di laut bukan hantu melainkan pemburu ikan dengan menggunakan bom.  Melihat kenyataan itu Yudi dan kabul bergegas menghampiri pos ronda dan memukul kentongan sekeras mungkin. Suara kentongan membuat warga berduyun-duyun keluar rumah. Sampai di pos ronda Yudi menjelaskan apa yang telah dilihatnya bersama Kabul “Benar pak saya juga lihat kok” Kabul menguatkan keterangan Yudi. Akhirnya warga yang merasa tertipu menuju tempat yang dimaksud kedua bocah tadi dan berhasil menangkap penangkap ikan yang selama ini merusak biota laut dan menggunakan hantu laut sebagai kedok. Berkat keberanian dan pengetahuan dua sahabat ini akhirnya warga kampung terbebas dari syirik serta bisa nyaman lagi mencari nafkah melaut di malam hari.

Demi Kemenangan

Lucas memarkirkan sepeda motornya di samping pohon beringin besar yang ada di lapangan parkir Corypheaus International High School. Lucas memandang sekeliling, megahnya sekolah bertaraf internasional itu semakin meriah dengan banyaknya spanduk dan umbul-umbul yang di pasang di sekitar sekolah tersebut.Lucas datang sendiri, dengan mengenakan jas seragam sekolahnya, anak muda keturunan Austria yang kini tinggal di Indonesia tersebut bermaksud mengikuti lomba pidato yang diadakan sekolah lanjutan tersebut. “Wow! Fantastic!” Lucas tertegun kagum saat memasuki sekolah tersebut, lorongnya bersih tanpa ada sebercak sampahpun. Cat temboknya yang berwarna biru langit sangat sepadan dengan keramik lantainya yang berwarna biru laut. Di sana-sini ramai dengan orang yang lalu lalang karena banyaknya lomba yang sedang diadakan. Beberapa stand makanan dilewatinya, ia menoleh kesana kemari, dilihatnya beberapa lomba yang diadakan di dalam aula-aula yang ada di sepanjang lorong tersebut. Ada lomba drama, band, futsal indoor, sampai kesenian daerah Indonesia seperti Tari Yospan dan Saman.“Permisi, Sir. Apakah anda tahu dimana aula yang mengadakan lomba pidato?” Tanya Lucas kepada pemuda yang memakai pakaian security.“Oh, anda lurus, belok kanan di blok kedua. Nanti di sana ada pintu yang tertulis tanda ‘Speech Competition’. Anda masuk saja, acaranya belum dimulai, kok.” Jawab sang security muda sambil mengayun-ayunkan tongkatnya di samping badannya.“Oh, thank you.” Lucas berterima kasih sambil berlalu dari hadapan sang security.“You’re welcome, young boy!” Lucas segera menuju tempat yang ditunjukkan security tadi. Selama perjalanan, Lucas selalu mendapat tawaran dari beberapa penjaga stand yang dilewatinya. Namun Lucas tidak bergeming, ia terus melanjutkan langkahnya menuju tempat lomba yang harus diikuitnya. “Aduh! Hati-hati, dong!” Kata seorang gadis muda yang tanpa sengaja tersenggol Lucas sehingga hampir menjatuhkan minuman yang sedang dipegangnya.“Oh, sorry.” Ujar Lucas singkat sambil terus mempercepat langkahnya. Lucas akhirnya tiba di depan pintu yang bertuliskan ‘Speech Competition’. Perlahan ia memutar kenop pintu dan membuka pintunya perlahan. Ia mengintip sedikit ke dalam ruangan. Ia pun merasa lega karena ternyata lomba belum dimulai.Lucas masuk ke dalam ruangan tersebut, dapat dilihatnya di sekelilingnya remaja-remaja seusianya yang akan menjadi saingannya dalam lomba nanti.Ia mengenal beberapa dari mereka, terutama seorang gadis remaja berkacamata dengan rambut kuncir kuda yang terlihat sedang berlatih sendiri di pojok ruangan. Gadis cantik berpakaian sederhana tapi rapi itu terlihat sedang cuap-cuap sendiri melatih pidatonya.Yup! Dia adalah Gita. Gita adalah saingan Lucas dalam lomba apapun. Lucas selalu bertemu dengannya setiap ia mengikuti lomba, baik lomba Story Telling, Debating, Simulation of International Conference, hingga sekarang lomba Speech atau pidato. Ia dan Gita seolah sudah ditakdirkan untuk menjadi saingan abadi. Namun, sebagai orang yang lahir di Austria, Lucas justru selalu kalah dalam lomba-lomba berbahasa Inggris tersebut dari Gita yang notabene asli Indonesia.Hal ini membuat Lucas jengah dan bosan. Lucas yang merupakan salah satu murid terpandai di Bezzare International School itu selalu diejek teman-temannya setiap ia pulang lomba hanya membawa piala juara kedua. Kali ini Lucas bertekad tidak akan kalah lagi dari Gita, sehingga ia telah menyiapkan sesuatu untuk dapat mengalahkan Gita. “Hai, Lucas! Kamu ikut lomba ini juga? Kita ketemu terus yah kalo lomba. Hehehe.” Gita tiba-tiba menyapa Lucas yang dari tadi sedang melamun, Lucas pun tersentak kaget.“Oh, yeah. Kamu juga ikut lomba ini ya? Wew! Kali ini aku tidak akan kalah lagi dari kamu, loh!” Ujar Lucas yang telah fasih berbahasa Indonesia itu sambil tertawa. Lucas tidak sadar selama ia melamun tadi Gita sudah memperhatikannya, bahkan Lucas tidak sadar Gita berjalan mendekatinya.“Hehehe. Aku tunggu ya Lucas. Do the best!” Gita hanya tersenyum kepada Lucas, lalu berjalan meninggalkannya sendiri. Lucas terdiam. Gita selalu bersikap baik padanya, namun Lucas sendiri sebenarnya menyimpan sedikit dendam akibat kekalahannya yang terjadi terus-menerus dari Gita. Sekeras apapun usahanya, Gita selalu di atasnya.Kekalahan paling memalukan adalah saat lomba debat di sekolahnya sendiri. Lucas yang tampil dihadapan teman-temannya sendiri tidak berkutik menghadapi argumen Gita yang melayang terus-menerus ke arahnya sehingga Lucas terpaksa menyerahkan piagam juara pertama kepada Gita.Lomba ternyata masih satu jam lagi, para peserta masih dapat berlatih atau mengistirahatkan otaknya agar tidak terlalu stres. “Gita!” Lucas menghampiri Gita yang sedang berjalan sendirian. Gita menoleh ke arah Lucas, terlihat sebuah kartu tanda peserta bertuliskan Ranggita Permatasari terpasang di pakaiannya. Kartu tanda peserta yang sama juga dikenakan Lucas di dadanya.“Ada apa Lucas?” Tanya Gita dengan wajah polos dan heran. Mereka memang sering bertemu di setiap lomba, namun ini pertama kalinya Lucas menyapanya duluan.“Hmm..nothing. A...aku cuma mau ajak kamu ke kantin, kan lombanya masih lama. Kita sering ketemu tapi gak pernah ngobrol. Ya kan? Sekali-kali gitu. Hehehe.” Jawab Lucas dengan sedikit malu-malu. Tangannya menggaruk-garuk kepala belakangnya, dilihatnya Gita berpikir sebentar.“Boleh, tapi kamu yang traktir yah! Hehehe.” Gita akirnya menerima ajakan Lucas sambil tertawa.“As your wish, my queen.” Lucas menanggapi permintaan iseng Gita sambil bercanda, badannya dibungkukkan seolah ia adalah pelayan yang sedang berhadapan dengan ratunya. Mereka pun akhirnya berjalan menuju kantin. Gita dengan polosnya menerima ajakan Lucas, tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya. Di kantin, Lucas memesan sebuah jus alpukat dan Gita memesan sebuah es teh manis. Kantin bercat biru langit itu cukup ramai, sebagian besar pengunjung kantin adalah peserta lomba dan murid-murid dari sekolah tersebut. Terdengar mereka berbicara dengan bahasa Inggris. Lucas dan Gita pun memilih ngobrol dengan bahasa Indonesia saja. “Hoo...jadi kamu itu lahir dan besar di Austria. Kamu sejak kapan di Indonesia?” Tanya Gita sambil meminum es teh manisnya itu.“Baru 5 tahun aku di Indonesia. Keturunan Austria dari ayahku, ia dulu menikah dengan ibuku yang orang Indonesia di Austria.” Jawab Lucas sambil mengaduk jus alpukatnya yang masih mengendap.“Kok bisa ibumu orang Indonesia ada di Austria?”“Ibuku dulu itu mahasiswi Indonesia yang mendapat beasiswa kuliah di Austria. Terus bertemu dengan ayahku yang waktu itu juga mahasiswa di universitas yang sama. Gitu.” Ujar Lucas sambil menyeruput jus alpukatnya. Lucas meminum jusnya tanpa menggunakan sedotan, kebiasaan, katanya. Mereka terus ngobrol dengan asiknya, sehingga tanpa terasa Lucas telah menghabiskan jus alpukatnya. “Lucas sebentar ya, aku tinggal ke belakang dulu.” Gita meminta permisi kepada Lucas untuk meninggalkannya sebentar.“Iya, gapapa.” Gita lalu meninggalkan Lucas yang masih mengaduk-aduk jus alpukat keduanya. Begitu Gita menghilang dari pandangan. Lucas mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya, botol itu lalu dibuka dan dengan gerakan yang hati-hati agar tidak dicurigai orang di sekelilingnya, Lucas memasukkan sedikit isi dari botol hijau itu ke dalam es teh manis Gita yang masih ada setengah gelas. Diaduknya minuman tersebut. Tidak lama Gita kembali ke tempat duduknya. “Maaf ya kelamaan.”“It’s OK. Aku juga baru mau minum jus ini.” Kata Lucas sambil masih mengaduk-aduk jus alpukatnya, lalu diminumnya jus tersebut. Gita meminum es teh manisnya, dan menghabiskannya. Tidak lama setelah itu, Gita merasa pusing dan kantuk yang amat hebat, hingga tanpa sadar Gita roboh dan tertidur di meja kantin tersebut.Lucas hanya melihat saja. Sambil meminum jusnya, remaja berambut hitam highlight pirang ini tersenyum kecil. Lucas mengambil dompet Gita, dan dikeluarkannya secarik kertas berisikan naskah pidato yang akan dilombakan Gita nanti. Lucas melempar kertas itu ke tempat sampah.Lucas brharap tanpa kertas itu Gita akan kesulitan dalam berpidato nanti sehingga nantinya ia yang akan menang. Gita masih tertidur di atas meja kantin tersebut, kedua tangannya dijadikan bantalan untuk kepalanya. Efek obat yang tadi diberikan Lucas ternyata cukup cepat, hanya dalam beberapa detik Gita langsung tertidur setelah meminumnya. Lucas hanya menatap wajah lugu Gita yang sedang tertidur. Wajah yang tanpa dosa. Membuatnya sempat mengurungkan niat untuk mencurangi Gita. Jus alpukat kedua akhirnya telah dihabiskannya. Lucas melirik ke arah jam tangannya. “Gita, Gita. Bangun. Lombanya mau mulai tuh.” Ujar Lucas pelan sambil mengguncang-guncangkan badan Gita.“Eh, oh, iya. Aku ketiduran ya? Aduh, aku agak pusing Lucas.” Gita terbangun dan mencoba menyadarkan dirinya. Wajahnya terlihat sedikit pucat.“Kamu gapapa, Gita?” Tanya Lucas sedikit khawatir, ia takut obatnya berakibat buruk kepada Gita.“Gapapa kok Lucas.” Gita mencoba berdiri sambil berpegangan pada sisi meja. Tangan kanannya memegang kepalanya yang masih agak pusing.“Kamu bisa berjalan?” Lucas mengulurkan tangannya untuk berjaga-jaga takut Gita terjatuh.“Aku bisa kok. Makasih ya.” Gita melepas pegangannya di meja. Perlahan ia coba berjalan menuju westafel dan sedikit mencuci muka. Wajahnya kini telah segar kembali. Lucas yang berdiri di belakangnya merasa lega megetahuii Gita tidak apa-apa. Mereka berdua tiba di tempat perlombaan. Mereka berdiri berjejer dengan peserta lain yang berjumlah kurang lebih 15 orang. Sementara ketua pelaksana membacakan sambutan dan pembukaan lomba ini, Gita sibuk merogoh-rogoh dompet dan kantongnya. “Kamu cari apa Gita?” Bisik Lucas di kuping Gita.“Aku nyari bahan pidatoku. Tanpa itu aku bisa kebingungan nanti pas pidato.. Aduhhh...” Wajah Gita terlihat panik, dirogohnya kantongnya dalam-dalam dan dikeluarkannya semua isi dompetnya itu.Terlintas di hati Lucas untuk mengakui perbuatannya saat melihat Gita yang terlihat panik. Ia tidak bersalah, Gita selalu menang namun ia tidak pernah mencurangimu Lucas, ucapnya pada dirinya sendiri. Namun setan dendam di hati Lucas ternyata lebih hebat dari hati nurani Lucas, sehingga ia pun mengurungkan niat baiknya itu.“Mungkin terselip atau apa mungkin.” Ujar Lucas berusaha menghibur Gita.“Aku gak tau, Lucas. Tadi aku taro dompet, sekarang hilang. Padahal aku harus memenangi lomba ini, Lucas. Aku benar-benar...harus...” Sebutir air mata menggelinding di pipi Gita, namun Gita menghapusnya dengan segera.“Harus apa Gita? Memang kenapa dengan hadiahnya?” Tanya Lucas penasaran.“Gak apa-apa kok, Lucas.” Singkat Gita sambil sedikit terisak. Gita tidak ingin menceritakan yang sebenarnya kepada Lucas, Gita tidak ingin membebani teman barunya itu menjelang lomba.“Kamu tenang Gita. Kamu pasti bisa! Walau tanpa kertas itu aku yakin kamu bisa memenangi lomba ini!” Lucas mencoba meyakinkan Gita dengan wajah penuh semangat. Wajah yang sangat berbeda dengan hatinya kini.“Iya, Lucas. Makasih. Aku pasti bisa! Tapi aku berharap kamu jangan ngalah ya. Aku gak mau.” Pinta Gita.“Oke, Gita. You can trust me, ok?”Tepuk tangan penonton membahana di aula yang luas itu saat sang ketua pelaksana dengan resmi membuka lomba pidato tersebut.Satu per satu peserta maju dan menunjukkan kebolehan mereka dalam berpidato. Lucas pun maju. Ia terlihat paling lancar dan bagus dalam berpidato dibanding pserta lainnya. Beberapa penonton sudah menerka-nerka bahwa pemenangnya adalah Lucas, mereka kagum dengan semangat dan keatraktifan Lucas dalam menyampaikan isi pidatonya.Tiba giliran Gita. Ia terlihat amat gugup saat menaiki tangga panggung. Sesekali ia melihat ke arah Lucas yang terlihat mengatakan sesuatu yang menghiburnya, namun sayang ia tidak dapat mendengarnya.Para penonton memberi tepuk tangan yang meriah. “Ladies and Gentlement. We know that...” Gita mulai pidatonya perlahan. Keringat mengalir deras menyapu wajahnya. Sesekali ia mengelap wajahnya dengan sapu tangan. Gita berbicara cukup lancar meski beberpa kali terhenti. Ia adalah satu-satunya peserta yang tidak membawa alat bantu naskah pidato dalam lomba itu. Setengah jam lamanya Gita berorasi menyampaikan isi pidatonya. Gita pun menutup pidatonya dan mulai melangkah menuruni panggung. Gemuruh tepuk tangan penonton mengiringi kepergian Gita dari atas panggung. “I know you can you do it, my dear!” Sambut Lucas saat Gita datang menghampirinya di balik panggung.“I’ve been so nervous, haven’t I?” Gita bertanya kepada Lucas sambil mengusap peluh di keningnya. Mereka berdua pun duduk di sebuah bangku panjang bersama peserta lain yang telah selesai berpidato.“Tapi kamu hebat! Kamu bisa lancar banget padahal gak pake teks.” Puji Lucas. Hatinya sebenarnya geram. Ia takut ketiadaan teks Gita malah menjadi nilai tambah untuknya.“Ya alhamdulillah sih. Aku sempet macet-macet tadi.”“Itu biasa lah. Yang bawa teks aja berhenti terus, kok.”“Tapi masih kerenan kamu Lucas. Kamu bisa ajak ngobrol penonton, bersemangat banget jadi penonton pada gak ngantuk. Hehehe.”“Ah kamu bisa aja. Kamu juga bagus kok. Hehehe.” Mereka berdua mengobrol mengenai penampilan mereka masing-masing di panggung. Mereka saling melepmar pujian dan rasa kagum masing-masing. ---OOO--- Pengumuman pemenang siap diumumkan. Sang ketua pelaksana naik ke atas panggung dan membuka selembar kertas. Dibetulkannya letak kacamatanya agar dapat membca lebih baik, lalu ia berkata.“According to our consideration. We decide that the first winner is...Lucas Astonished! And followed by the second winner is Ranggita Permatasari and the third is Rizka Aprilianingrum!”“For the winners, please go up to the lectern.” Lanjut sang ketua. Lagi-lagi tepuk tangan penonton menggelegarkan seisi aula. Menyambut para pemenang yang hendak menaiki podium.Yang paling senang tentu adalah Lucas. Ia akhirnya bisa melewati Gita dan berhasil menjadi juara pertama. Lucas berhak atas sebuah piala dan uang tunai sebesar tiga juta rupiah. Sedangkan Gita yang diurutan kedua cukup mendapat sebuah piala dan piagam penghargaan.Lucas terlihat amat gembira. Teman-temannya yang menonton mengeluk-elukkan Lucas seolah ia adalah seorang pahlawan bangsa. Lucas sepintas lupa dengan Gita yang telah lenyap dari podium tingkat dua. “You’re so great, buddy!” Ujar temannya yang ikut naik ke atas panggung menghampiri Lucas. Teman-temannya membanjiri Lucas dengan ribuan pujian, namun Lucas seolah tidak peduli. Matanya menerawang sekeliling mencari seseorang. Seorang gadis berwajah sendu yang sejak tadi menemaninya.Lucas mencoba menghindari kerumunan teman-temannya dan keluar aula. Lucas menengok ke kanan dan kiri, sampai akhirnya ia berhasil menemukan Gita. Bersandar di sebuah loker sambil menangis. Wajahnya sembab oleh air mata. Orang-orang yang melewatinya hanya mendiamkannya begitu sajaLucas berusaha mendekati Gita. Namun dengan segera ia bersembunyi di balik dinding saat ia melihat seorang lelaki paruh baya lebih cepat menghampiri Gita. Lelaki itu merangkulnya dan Gita pun menangis dalam pelukan lelaki paruh baya tersebut.Lucas tanpa sengaja mendengar perbincangan mereka berdua dari balik dinding. “Ayah...aku...aku...” Isak Gita berusaha mengucapkan sesuatu. Namun ternggorokannya seolah tersumbat bola-bola coklat besar yang menghalanginya bicara.“Tak apa, nak. Ayah tahu...kamu udah berusaha, namun ternyata Allah berkehendak lain.” Lelaki paruh baya tersebut ternyata ayah Gita, yang menunggu Gita di luar gedung sekolah sejak awal.“Sekarang bagaimana kita bayar biaya perawatan ibu? Kesempatan ku untuk dapat uang sudah lenyap. Aku kalah, Yah!” Tangis Gita semakin menjadi. Ibu Gita saat ini sedang dirawat setelah koma selama 2 bulan. Gita bukanlah anak orang kaya, ayahnya hanya seorang pedagang keliling dan ibunya tidak bekerja. Kehidupan mereka sangat sederhana namun bahagia, sampai suatu hari Ibu Gita tidak sengaja menginjak genangan air yang membuatnya terjatuh dan koma hingga saat ini. “Tenang saja, Nak. Kini kamu tidak perlu memaksakan diri lagi.” Ujar ayahnya pelan. Ayahnya mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan. Gita menangis semakin keras setelah mendengar bahwa ibunya baru saja meninggal. Dicengkeram baju ayahnya dengan sangat keras. Air matanya yang jernih membasahi wajahnya dan terjatuh ke lantai.“Tidakkkkk! Ibuu...maafin Gita! Gita gak bisa nolong ibu!” Gita menangis dalam pelukan ayahnya. Air mata Gita jatuh deras merantai hujan badai yang amat hebat. Rasa kehilangan kini menyelimuti hatinya, ia takkan bertemu ibunya yang amat disayanginya. Selamanya.Lucas yang mendengar kenyataan pahit itu hanya terdiam. Ia merasa amat menyesal. Hatinya kini luluh. Perasaan dendam yang semula amat menggebu di hatinya kini lenyap tak berbekas, berganti dengan rasa bersalah yang mengendap kini di ulu hatinya.Penyesalan memang selalu belakangan. Hanya karena termakan dendam dan rasa ingin menang ia tega mengotori niat tulus Gita untuk menolong ibunya. Kini tidak ada yang dapat dilakukan Lucas. Ia hanya termenung dan termangu. Meratapi kebodohan dan keegoisannya yang telah memakan korban.

Lima Menit

Siang ini di Jakarta sangat panas.Orang yang tidak sibuk-sibuk banget pasti udah males banget buat keluar rumah.Tapi tidak bagi Anne.Cewek ini tahan banting mo cuaca sepanas apa dan sehujan apa,kalo dia punya mau pasti ia jabanin.Siang ini,sepulang sekolah,Anne and kedua temannya ngumpul di cafe kagome."Hi,obrolan kita hari ini apaan nih?"Joe buka suara."Tentang novel yang baru gue beli ini aja gimana?""Novel siapa?Tentang apa?""Biasa lah Joe,novelnya Andreas jonathan.Ceritanya tentang,yah apaan lagi kalo bukan tentang percintaan yang romantis banget""An,kayaknya lo ngebet banget sama tuh author,gue kenalin ama dia mau gak?""Halah paling lo kenalnya ama tukang bakso depan sekolah.Mana mungkin lo bisa kenal sama tuh novelis?"ledek Wida."Kurang ajar lo!!!Lo gak percaya sama gue?Lo lihat aja ntar.Gue punya nomernya gue telfon sekarang.""Telfon aja.Gue mo tahu apasi Andreas bakalan datang."Anne menantang Joe.Di tempat duduk itu juga,Joe mencoba membuktikan omongannya.Gayanya sih meyakinkan.Tapi entah benerannya ya."Sip!!!Dia mo datang kesini.Oya,Andreas tuh masih jomblo.Dan usahain lo bisa deket ama dia.Siapa tau aja ntar kita bisa masuk di novelnya and bisa jadi inspirasinya.Gue gak bohong.Kalo gue bohong,gue mati sekarang juga"Mendengar ucapan Joe barusan,Anne terkejut.Ia kini benar-benar yakin kalo Joe tampaknya sungguh-sungguh.Tapi Anne tak mau memperlihatkan keterkejutannya itu.Berusaha tetap tenang.Dan,setelah sepuluh menit menunggu,akhirnya si Andreas datang.Ia memakai celana jins dan jaket sport keren.Langsung saja Anne terdiam tak berkutik.Wajahnya merah bak kepiting rebus."Ya ampun,lo bener-bener Andreas.Eh,minta tanda tangannya donk di novel lo."Anne sempat dibuat salah tingkah.Ia tak tahu harus gimana.Harus berbuat apa.Apalagi ketika si Andre menatap wajah Anne,Anne makin terpesona dibuatnya.Dan tak mau ketinggalan,ia pun meminta nomer telfon Andreas sebelum ia pulang.Sejak memiliki nomer itu,Anne mencoba untuk makin dekat dengannya.Dan usahanya tak sia-sia.Malam minggu mereka janjian di cafe yang sama dan Andre menyatakan cintanya.Anne tak bisa menolak harapan yang tak pernah dibayangkannya itu.Itu lebih dari cukup baginya.Sebulan berpacaran,rasanya masih asyik-asyik saja.Tapi berubah menjadi petaka kala ia tak sengaja membaca diary Andreas.Perkenalan mereka ditulis,Anne pun senang.Tapi begitu sampai bawah,Anne merasa dikhianati.Di diary itu tertulis kalimat "HIDUPKU HANYA UNTUK KARYA,CINTA DAN PACAR TAK LEBIH DARI SEBUAH PELARIAN".Andre yang mengetahiu hal itu,lansung merebut diary nya."Jadi gitu,gue cuma sebuah pelarian?""lo gak paham maksud dari ungkapan itu.Biar gue jelasin dulu.""Stop!!!mulai sekarang,kita putus."Anne pergi.Andre tak mengejar karena ingin menenengkannya dulu.Setelah itu,ia kehilangan kontak dengan Anne.Ditelfon tak diangkat,di sms tak dibalas.Seminggu kemudian,Joe datang ke rumah Andre.Ia menonjok Andre karena telah mambuat Anne menangis."Nyesel gue kenalin dia ke lo kalo hasilnya malah lo bikin dia nangis.""Ini salah paham.""Terus yang bener paham tuh gimana.seorang penulis emang pinter bikin skenario kehidupan.Seolah-olah lo bisa ngrencanain hidup.Sekarang,lo mau ketemu sama Anne gak?""Mau.mau banget,Dimana dia?""Di bandara.Dia mau pindah ke Belanda karena tugas papanya yang seorang diplomat.Cepet kita kesana.Atau kita nyesel."Tanpa berganti baju,Andre langsung mengambil mobilnya dan dengan segera menuju bandara yang di maksud."Anne dan keluarganya sudah lepas landas lima menit tadi.Kalian telat lima menit,"ucap pembantu Anne."Apa!!!lima menit tadi?""Sukurin.Terlambat lo minta maaf ke dia."Pembantu Anne dan Joe pergi.Kini tinggal Andre yang berada di bandara menangisi kepergian Anne dan belum sempat menjelaskan masalah serta minta maaf padanya.Dan untuk mengenang kejadian buruk nan mengesankan baginya itu,ia menerbitkan novel berjudul lima menit yang ia ceritakan dari awal diperkenalkan sampai endingya yang pahit dengan tokoh dan tempat kejadian yang sama sekali tidak ia rubah.Dan tiap kali diwawancarai,ia selalu berkata "INI KARENA ANNE KU DAN MOTTO KU YANG MEMBERIKAN INSPIRASI" sambil ia sesekali mengusap matanya yang berkaca-kaca.

Dari Sebuah Es Krim

Oh...apesnya aku hari ini aku dimarahi guru  padahal aku termasuk murid yang jarang di marahi guru di SMP ini. Tapi aku tidak tahu mengapa aku bisa sampai di marahi oleh guru. Besoknya aku tidak mau sampai dimarahi guru lagi aku semalaman belajar dan mengerjakan tugas. Tapi walau begitu, aku ternyata bangun terlambat aku langsung mandi dan memakai seragam dengan sangat buru-buru. Sesampaiku di sekolah aku bertemu dengan Nico dia adalah anak kepsek dan juga cowok yang paling aku suka di sekolah ini. Tapi saat aku bertemu dengan Nico aku di marahi karena datang terlambat jadi aku di beri kartu hukuman dan hukumannya harus aku lakukan nanti sehabis pulang sekolah. Lebih apesnya lagi saat aku masuk kelas, aku dimarahi oleh guru. Lalu waktu aku pulang sekolah aku lupa kalau aku ada hukuman. Aku dengar ada seseorang yang memanggilku,ternyata itu Nico dia langsung marah-marah padaku " hey jangan pergi apakah kau lupa kalau kau harus menjalankan hukuman" . Aku LUPA kalau aku ada hukuman. sepulang dari sekolah aku pergi ke taman.Dan aku bertemu dengan seseorang yang memberikan aku es krim dan dia berkata" es krim ini bisa menghilangkan kesedihanmu dan saat kau memakan es krim ini mohonlah suatu harapan didalam hatimu. dan dia menghilang. aku meminta semoga besok aku tidak apes lagi.Besoknya aku tidak bertemu dengan dia lagi ternyata dia sudah pergi ke Manado.Besoknya saat aku melihat di TV pesawat yang digunakan cowok itu  kecelakaan.Saat di rumah sakit aku melihat mayatnya dan benar itu dia penolongku.Setiap hari aku datang ke makamnya dan berterimakasih karena berkat dia semua impianku akan terjadi.Dan sekarang aku sudah SMA dan aku kini sudah menjadi pacar

Batunya Merah

Hari ini aku berjalan dengan segengam batu yang ada ditanganku, siap untuk kulemparkan tepat ke muka merah yang selalu mempermainkan aku. Hari mulai berubah warna menjadi abu-abu kala aku berjalan menuju kerumah merah. Merah yang tak pernah punya aturan ketika bertemu dengan aku, merah yang selalu meledek aku ketika ada dihadapanku dan merah yang selalu mempermainkan sesuatu yang tak semua orang bisa menyentuhnya….hati. Bagaimana kejadiannya hingga sebuah batu berada ditanganku dan dengan hati yang semakin berubah warna menjadi merah siap untuk kulesakkan di muka merah…begini:  Waktu itu hujan turun ketika aku sedang bergelut dengan dunia ketoprak, dunia penuh tipu daya dihadapan para penonton. Tubuhku merasakan getaran yang sangat ketika angin yang berasal dari orang berjalan menerpa tengkuk ku. Tak biasanya, hembusan angin itu mampu untuk memaksaku melihat siapa gerangan yang menciptakannya.  Kutengok kekanan dan kekiri namun…aku tidak juga bisa menemukannya. Sekali lagi kulakukan hal tersebut namun tetap tak kulihat, kali ini kujinjitkan kakiku kudongakkan kepalaku dan kutajamkan mataku. Tetap…..tak satu pun yang kukira menciptakan angin yang tadi menerpaku dapat kulihat. Adegan selesai, aku bersama beberapa orang pemain menuju kamar ganti untuk segera bersalin dan berkumpul kembali diruang kebersamaan. Mendengarkan evaluasi dan…menunggu honor dibagikan. Sang “prabu” terlihat berkomat kamit dengan kumisnya yang tebal. Memberikan evaluasi-evaluasi yang menurutku hanya untuk menunjukkan kewibawaannya saja. Sang prabu membagikan honor kami dan……masing-masing pulang kerumah. Selesai….. ………………………………  Siang hari, ketika aku membantu ibuku mencuci pakaian, aku menerima sebuah pesan singkat dari HP yang kemarin kubeli. Sebuah tawaran untuk kembali kedunia tipu daya, dunia kebohongan hanya kali ini medianya bukan panggung tapi kamera. Ditengah kegalauan jiwaku tentang materi aku pun mengiyakan ajakan tersebut. Hingga akhirnya kutinggalkan ibuku mencuci sendirian. Aku pamit, aku pergi berjuang…untuk hidup….dengan….kebohongan. Awan tak terlihat abu-abu, kali ini ia cerah secerah harapanku atas sebuah materi yang terbayang dalam pikiranku akan kuterima. Aku berjalan dan segera bertemu dengan wakil komandan sebuah “peperangan” tersebut, peperangan dengan senjata yang takkan saling menyakiti, kebohongan dan olah muka. Beberapa adegan mampu kuselesaikan dengan baik. Beberapa kali mereka harus gigit jari karena mengharapkan aku terjatuh tapi tidak kunjung terjadi. Hingga akhirnya mereka lelah dan menyuruhku untuk istirahat sebentar. Kini giliran pemain kebohongan yang lain yang akan masuk kemedan pertempuran. Aku memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengisi kembali energiku dan menganti bungkus badanku yang sudah mulai basah oleh peluh keringat. Kubaca tulisan demi tulisan dalam sebuah buku yang mengatur adegan di medan pertempuran tersebut. Aku coba untuk konsentrasi agar apa yang mereka harapkan agar aku terjatuh tidak terjadi, caranya? Yah. Imajinasi, menghafal dan mengatur adegan. Kala itulah kembali aku dikejutkan lagi dengan terpaan angin yang menyerang tengkukku. Kali ini lebih dasyat terasa walau aku tahu persis sama seperti yang tempo dulu kurasakan. Kupejamkan mataku untuk bersiap mencari siapa pencipta angin tersebut, kutarik nafas dalam-dalam hingga…..kutengok kekiri dan…..aku menemukan, aku menemukan siapa pencipta angin tersebut. Aku tersenyum puas, aku tersenyum menang untuk diriku sendiri.  Kuulurkan tanganku untuk berjabat tangan….halus, dan membuat bagian terdalam dari diriku tersentuh…hatiku…yang selama ini telah berubah menjadi tuli dan terus tergambar siapa pelakunya berubah melunak dan mendengar dan….lebih dasyatnya lagi gambar tersebut perlahan namun pasti, sekali lagi perlahan namun pasti menghilang dan….oh, celakanya atau harus kusyukuri terganti oleh pelaku yang baru, pencipta angin tersebut. Aku ya aku, aku si empunya hati yang tuli dan kau merah si pencipta angin tersebut. ……………………… Beberapa hari aku harus istirahat dalam rumahku untuk menunggu giliran kembali kemedan pertempuran tersebut. Beberapa hari itu pulalah merah selalu menggangu otak dan hatiku. Kenapa? Aku coba, aku coba hilangkan rasa itu, tidak mungkin dalam sekejap saja pelaku yang telah membuat tuli hatiku terganti dan terasing tak berbekas hilang oleh karena si merah, tidak….tidak….akkhhhh!!! Tak kuasa kubendung lagi, tidak. Kali ini ia masuk atas ijinku untuk menorehkan gambar mukanya di hatiku. Namun….mungkinkah aku juga telah menorehkan hal yang sama, mengingat….. Ia adalah merah yang telah lahir dari merah terdahulu yang begitu bersinar terang bahkan sangat terang bagiku. Si merah yang hampir seluruh bumi tempatku berpijak mengenalnya kecuali mereka yang memang makan untuk hidup saja. Mungkinkah…. …………………………..  Lima hari tepat seperti yang telah disepakati oleh komandan “pertempuran” aku menyelesaikan misiku, dan aku menang. Aku menang atas medan tersebut dan menang atas materiku… Lima hari itu pulalah aku terus berhubungan dengan merah, ada harapan untuk ku, ada harapan untuk ku lebih mengenal merah yang telah membuat tengkukku terpanah angin. Kuhidupkan motorku, kupejamkan mataku dan….blasstt !!! Kini merah menjadi bagian dari hidupku. Ini adalah jawaban dari kecamuknya pikiranku atas mungkin dan tidak mungkin. Merah. Merah. Biru…. Kini hari-hariku terisi oleh si merah. Kini harapan-haraoan dan cita-cita serta perjuanganku kutumpahkan untuk dan dengan si merah. Merah pun demikian, merah pun mengiyakan dan menyatakan hal yang sama. Merah mengenalkan aku pada dunia dan harapan-harapan baru, merah mengangkatku terbang tinggi setinggi pepatah yang mengatakan kejarlah cita-citamu setinggi langit. Merah..aku cinta kamu. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan merah terus memerahkan kembali hatiku. Merah menusuk tajam pada hatiku dan kini jantungku untuk terus berdetak, berdetak lebih kencang lagi seolah aku harus semakin tinggi terbang.  Hitam….. Hitam kini hari didepanku. Percaya atau tidak hitam itu menghampar lebar tepat didepanku. Hati dan otakku kini seolah kembali tuli oleh sebuah bisikan tulus, bisikan “surga”, nuraniku. Rupanya ketinggian telah membuat hati ini mengantikan otak, dan hati serta harapan duniawi menjadi panglima untuk hidupku.  Yah, merah secara perlahan namun pasti telah samar tinggi dalam hatiku sampai aku tidak bisa lagi mengenali mana merah ku dan mana merah hatiku. Mengapa? Mengapa semua orang, semua benda, semua perilaku, semua logika tidak mau memberitahuku. Mereka semua diam membisu. Mereka semua memalingkan muka untukku. Aku ingin bertanya….Kemana si merah…kemana merah yang telah menciptakan hatiku tidak tuli lagi, kemana merahnya hatiku, kemana pendengaran hatiku, kemana pencipta gambar hatiku, kemana hatiku….kemana logikaku… Seiring berjalannya awan yang telah sekian lamanya jatuh untuk membasahi bumi tempatku berpijak, seiring itu pulalah hatiku menjadi semakin tuli, mataku buta untuk melihat logika. Ohh……Tuan yang maha besar, kemana, mengapa, kenapa dengan aku??!! Bencana kelaparan dengan tak sengaja aku ciptakan, bencana kecurigaan dengan tak sengaja aku hembuskan, bencana kemarahan dengan tak sengaja aku lontarkan, dan…..akkhhhh!!! aku hancur, aku tidak dapat lagi menemukan hatiku, hatiku pergi tidak lagi menjadi merah, tidak lagi dapat mendengar, tidak lagi menjadi pintar….kini bodoh sebodoh-bodohnya. Hingga sebuah pesan singkat kembali aku terima, sebuah petunjuk atas merah. Aku berlari menyambutnya, aku siapkan diriku untuk memaksanya menjadi merah, aku siapkan senjata pamungkasku untuk memerahkan hatiku kembali untuk merah. Hingga……. …………………………. Kini : Aku berjalan menyusuri tepian kerikil tajam dengan alas kaki yang sekedarnya, aku berjalan dengan batu ditanganku yang kugenggam erat,mencari merah.  Dimana? Disitu..!! Dimana?? Disana..!! Dimana?? Ini..!! Mana?? Itu..!! Lari..!! tunggu!!! Mana?? Diatas..!! Atas mana?? Kepalamu..!! dan…buughhh!!! Merah keluar dari dalam rambut kepalaku, merah diam membisu, sakit…perih…pusing…gelap…kemana kau pergi…..merah ??!! Merah menjawab:……..aku disini….merah…!!

Air Sumur Kehidupan

Kehidupan memang penuh dengan perjuangan untuk mencapai suatu cita cita, angan dan harapan. Sehingga kita kadang menjadi manusia yang buas dengan harta, kita menjaga bagai harimau menjaga santapan dikala kelaparan. Itu bukanlah munafik, tapi suatu realita sifat manusia yang lebih buas akan harta dan kemewahan.Kita tidak tau mana batasan sukses, mana batasan berhasil, mana tingkat kaya, mana tingkat miskin, bahkan untuk menentukan level miskin saja dunia kebingungan. Semua dibatasi dengan benang semu. Kalau benang merah kita masih bisa melihat jelas, tapi disini kita tak dapat melihat lagi mana batasan benang tersebut, benangnya saja kita tidak dapat lihat, apalagi batasannya.Namun kita tidak bisa memungkiri bahwa manusia butuh kebersamaan untuk berhasil, tidak ada satu orangpun di dunia ini dapat hidup tanpa bantuan orang lain, apalagi untuk mencapai tingkat sukses, atau bahagia, ataupun berhasil. Dengan kata lain manusia adalah makhluk sosial.Sebagai makhluk sosial, manusia pasti berinteraksi satu sama lain, saling kerja sama, saling bantu, saling menolong, atau saling apapun itu namanya adalah untuk kepentingan bersama atau kepentingan orang lain ataupun untuk kepentingan diri sendiri, yang mana ketiganya saling keterkaitan atau saling ketergantungan.Saling tolong menolong untuk kepentingan diri sendiri, sudah pasti semua orang mau, walau memang masih ada orang nyentrik tidak mau ditolong dengan alasan mandiri, hingga kewalahan sendiri. Dan tipe ini sangat sulit untuk maju, dan biasanya kurang senang dengan kesuksesan orang lain.Saling tolong untuk kepentingan bersama, nah disini sudah mulai muncul watak watak asli manusia, yang mempunyai sejuta alasan untuk menghindar, tapi kita tetap percaya masih banyak orang yang sangat ikhlas hingga ke level ini. Dimana sangat sulit sekali untuk merealisasikan suatu kegiatan bersama dalam mencapai tingkat keberhasilan sukses. Kecuali kalau digabung dengan saling tolong untuk bersama terutama untuk sendiri.Nah ini dia nih, Saling tolong untuk kepentingan orang lain, waduh gimana ya manusia sebagai makhluk sosial kadang menganggap ini menjadi hal sial, misalnya untuk bantu orang lain kebanyakan diantara kita akan keberatan dan kadang merasa menjadi terganggu. Yah katanya sih hal itu lumrah, sehingga kita tak siap untuk bantu orang lain. Sebagai contoh kita lihat saja di acara acara televisi sebagai reality show, dimana untuk memperoleh suatu bantuan pertolongan akan sangat sulit di dapat.Untuk itu aku ingin menyampaikan suatu makna kehidupan, yang mungkin anda sepakat, atau mungkin ragu, atau mungkin no comment, atau bahkan tak sepakat, Nah agar tidak sulit untuk beragumentasi, pandangan ini tidak saya tujukan bagi yang tidak sepakat, saya hanya menyampaikan bagi yang tidak sepakat, atau ragu atau no comment, agar direnungkan saja.Makna kehidupan bagaikan air sumur, yang saya sebut AIR SUMUR KEHIDUPAN, dimana setiap orang sudah mempunyai sumur masing masing, dimana besar sumur setiap orang adalah berbeda beda, dan bahkan besar mata airnya juga pasti tidak sama ada yang menetes dan bahkan ada yang mumbul mumbul, kita tahu bahwa sumur itu mempunyai level tertentu, dimana dia mempunyai batas tertinggi dan juga batas terendah. Hal ini akan silih berganti antara musim hujan dan musim kemarau.AIR SUMUR apabila dipakai oleh satu orang, air nya tidak akan meluber sampai ke atas, dan apabila tidak dipakai juga dia akan tetap segitu. Dan apabila dipakai oleh satu kampung, mungkin dia akan menurun tetapi pada pagi hari dia telah kembali seperti semula, seperti tidak pernah dipakai, demikian juga dengan AIR SUMUR KEHIDUPAN, apabila kita memakai sendiri kekayaan kita akan tetap segitu, tidak akan mungkin sampai meluber, kecuali yang mempunyai sumber air umbul, yang sudah pasti mengalir seperti sungai, dimana darma sosialnya mengalir kemana mana tanpa terbendung, ini tidak masalah.Nah kembali pada yang mempunyai sumber sumur, perlu kita ingat bahwa apabila kita bersosial dengan royal, yakinlah bahwa kekayaan Anda tidak akan terkuras, dia akan kembali kelevel mana kita telah dipersiapkanNya, tapi ingat sumur Anda jangan Anda jebol untuk bantu orang lain sehingga sumur Anda jadi rusak dan tak berfungsi lagi. Contohnya, Anda membantu orang yang tidak mau bekerja, sehingga apapun bentuk pertolongan Anda akan sia sia adanya. Tapi bantulah yang pantas dibantu.Jadi sebagai seorang dermawan tidak akan jatuh miskin karena ke dermawanannya, karena begitu banyak yang mendoakan kesuksesannya. Atau tidak ada orang yang kaya raya karena kekikirannya, tapi karena kegigihannya. Mungkin ini tidak dapat dimaklumi bila Anda tidak merenungkan, sekali lagi menjadi bersifat sosial bukan berarti memberikan sumur Anda pada orang lain ataupun menjebol sumur Anda. Tapi berikanlah porsi sesuai dengan mata air dalam sumur kehidupan anda

Pohon Pinang Terakhir

Langkah tegap dulu, kini tak ada lagi. Tertatih-tatih dan dibantu tongkat, kaki gemetaran milik lelaki berambut putih itu melangkah satu-satu. Gerimis senja tak menghalanginya. Sorak-sorak anak-anak di kampungnya seakan memangil-manggil di telinganya yang telah mulai menuli.Sorakan itu seakan jeritan teman seperjuangannya yang butuh bantuan karena disiksa serdadu Belanda. Semakin kencang suara itu, kian cepat tongkatnya bergerak. Dan gemetaran di kakinya pun bertambah getarannya.Lima puluh meter lagi, matanya yang rabun dan telah dua kali dioperasi katarak samar-samar melihat sebuah pohon pinang terpancang. Hadiah bergelantungan di atasnya.Penglihatannya, di sana ada fotonya bertelanjang dada dengan peluh mengucur di keningnya. Lalu, senapan kebanggaannya diacungkan ke atas. Dia yakin sekali, itu fotonya.Tetapi ketika matanya dikucek dengan tangan kirinya yang telah buntung hingga ke pergelangan, foto itu berubah dengan wajah lelaki muda. Tampak rapi mengenakan jas dengan nomor urut di bawahnya.Dari jeritan anak-anak diketahuinya, foto itu adalah calon pemimpin yang ikut pilkada. Tak yakin, sekali lagi, dia mengucek matanya, lalu kacamatanya dipasang dari sakunya yang telah berbulu.Kini bahkan berganti seorang tokoh masyarakat yang dulu zaman perjuangan sering membantu dan memberi informasi kepada tentara Belanda, namun di zaman kemerdekaan justru sempat dua kali menjadi anggota dewan kehormatan.Hatinya masgul, kok kini fotonya malah tak ada lagi. Dan memang, seminggu lalu, panti jompo yang ditempatinya didatangi ketua panitian peringatan HUT kemerdekaan yang membawa list. Para penghuni termasuk dirinya memang tak membuat panitia tersenyum.Karena memang tak ada lagi yang bisa diberikan. Penjelasan yang disampaikan pun tak bisa ditangkap dengan jelas. Mereka hanya mengangguk-angguk. Hanya pengurus panti yang ikut tersenyum melihat Roman terkantuk-kantuk menghadapi sang panitia.Rona wajahnya terlihat bersih, sama dengan wajah panitia yang membawa map berisi daftar list.Bedanya, beberapa menit kemudian, rona wajah Roman yang kiniberumur 70 tahun tetap putih dan berkeriput karena tua, sementara panitia wajahnya sedikit memerah karena tak puas tugasnya tak berhasil menggelitik penghuni panti untuk menyumbang.Padahal, dari banyak pihak lainnya, dana yang terkumpul untuk penyelenggaraan HUT Kemerdekaan di kampungnya jauh dari cukup. Bahkan berlebih.Jangankan untuk sekali peringatan. Sampai lima kali lagi peringatan dengan mengundang organ tunggal pun cukup. Apalagi, beberapa calon gubernur memnberikan respon baik terhadap proposal yang dibuat. Termasuk calon anggota dewan yang mencoba mencari simpati. Alhasil memang panjat pinang di kampung itu sangat meriah.Anak-anak ramai bersorak setelah selesai lomba lari kelerng dan makan kerupuk. Mereka menyemangati jagoannya yang mencoba menaklukan pohon pinang yang dilumuri minyak gemuk.Ada yang sudah mencapai separoh dengan menginjak bahu kelompoknya. Tetapi kemudian terperosok dan melorot lagi kebawah. Bahkan ada yang sampai robek celananya.Roman makin mendekat. Dan dia ingat bahwa di dekat pohon pinang yang dijadikan objek lomba itu, dulu ada pohon besar. Dia sempat menghabisi lima orang tentara Belanda. Dan dia menyelematkan dua orang rekannya yang nyaris tertembak.Oleh komandanya kemudian, dia sanjung-sanjung. Meski dalam persitiwa itu, dia harus merelakan pergelangan tangannya putus ditebas sangkur musuh.Teriakannya ketika itu membahana ketika musuh terjungkal dan rekannya selamat. Pas, di tempat yang ditegaki pohon pinang itu, kemudian dia angkat teman-nya karena menjadi pahlawan.50 tahun kemudian, dia tak dikenali lagi., Apalagi, dia takpernah menyumbang dan mengisi list yang diedarkan panitia. Mereka yang menyumbang lebih besar jauh lebih dihargai panitia dibanding Roman.Para penyumbang itu saat pembukaan oleh Ketua RT duduk di barisan paling depan. Dan mendapat bagian kudapan lebih dahulu. Sementara Roman yang dulu ikut berjuang, tak dikenal.Satupun tak ada warga yang menyapa lelaki yang berkain dan kakinya gemetaran melihat pohon pinang terus digoyang puluhan warga yang merebut kesempatan menjadi pemenang.Calon kepala daerah dan calon anggota dewan pun berkeliling melihat warga bergembira atas sumbangannya. Dan mereka bisa berharap, warga tak lupa dengan wajahnya saat di dalam bilik suara.Sementara, dalam langkah-langkahnya mengeliling lomba panjat pinang , mereka tak menegur Roman yang sesungguhnya pahlawan. Mereka tak tahu lagi, yang mestinya dihormati.Roman sendiri, semakin gemetar melihat pohon pinang sudah semakin tipis minyak gemuknya. Dan para pemanjat pun nyaris mencapai puncak.Semestinya, dia tak boleh berjalan terlalu jauh. Asam urat dan kencing manis yang menderanya ditambah stroke yang diperamnya dalam tubuh membuat dirinya sebenarnya memang sudah terpenjara. Hanya karena daya tarik sorak-sorai anak-anak dan pengurus panti yang libur, dia punya kesempatan keluar agak jauh.Tak lama kemudian, pinag itupun ditaklukkan. Hadiahnya berhasil direbut. Tiba-tiba pohon pinang itu roboh. Ujungnya persis jatuh di atas kening Roman yang tak sempat menyelamatkan diri. Kini dia terjepit diantara jeritan. Tubuhnya juga terinjak-injak. Lelaki itu kemudian disemayamkan di hari kemerdekaan. Jasanya tak dikenang, tetapi Tuhan pasti telah mencatatnya.

Pelajaran Hidup Darinya...

Sahabat itu bisa datang dari mana saja tanpa pernah kita kira. Orang yang sebelumnya tak punya arti apa-apa,ternyata juga bisa menjadi orang yang memberi inspirasi bagimu. Orang yang selalu ada untukmu disaat senang, maupun susah. Orang yang akan selalu mendorong dan memberimu semangat hidup.
Sahabat bisa kau temukan dimanapun. Yang perlu kau lakukan hanyalah membuka mata dan hati lebih lebar lagi. Lihatlah dunia yang ada disekitarmu. Maka kau akan menemukan semua yang telah kau anggap hilang…
***

Maafkan Aku Waraz

Aku sangat senang memiliki teman seperti mereka. Awal mula pertemanan kami sejak guru bahasa Indonesia ku memberi tugas berkelompok. Mereka adalah sri wulansari (wawa), shara fauziah (shara), dan anindya putri deyanti (anindya). ***Dulu masih jaman-jamannya fs (friendster) kamu mencoba untuk membuat fs untuk pertemanan kami. Nah..disitulah kami memberi nama untuk kami semua
dengan warasz. Warasz terdiri dari wawa, shara, aku, dan anindya. Pasti bingung ya? Huruf z-nya siapa? Z nya itua adalah zhie, itu si anindya, dia kepengen disebut zhie.Sewaktu SMP kita selalu bareng, dan waktu sekelas di kelas 8 setiap membentuk kelompok, teman-teman kami selalu bilang gini, ah mereka mah selalu begitu. Hahaha... disitu aku merasa tidak enak dengan yang lain, tapi karena wawa, shara, anindya cuek saja jadi tidak aku hiraukan teman-teman sekelasku yang lain. ***Kebersamaan kami agak berkurang ketika kami kelas 9, kami sudah tidak sekelas lagi. Tapi entah kebetulan atau apa kelas kami berurutan. Shara di kelas E, aku di kelas F, wawa di kelas G, dan anindya di kelas H. Yang masuk kelas unggulan diantara kami adalah wawa. Wawa memang pintar dari kelas 7 dia selalu rengking di kelas, sampai-sampai aku merasa iri. Dulu sewaktu kelas 7. dulu aku mengaagap wawa adalah saingan terberatku. Tapi..tak kusangka kini dia adalah sahabatku. Shara dan Anindya juga sahabat terbaik yang pernah aku miliki.          ***Tapi, aku menodai persahabatan kami dengan sebuah kebohongan. Aku berbohong kepada mereka bahwa aku sudah berpacaran 1kali. Aku bilang pacar aku waktu itu bernama Iqbal. Padahal semua itu hanya khayalanku belaka. Aku berbohong kala itu, karena aku merasa malu dan iri sebab waraz sudah pernah berpacaran.           Sampai kamiSMA pun aku belum pernah mengaku sama mereka kalau selama ini aku telah membohongi mereka. Aku takut mereka malah membenciku dan malah tidak mau lagi berteman denganku. ***Awalnya begini.Mula aku berbohong si kelas 8. waktu itu shara minta ditemenin untuk bertemu ka Agung di Smabel. Itu tu .. sekolahnya anak-anak pinter dam tajir. Lucunya disitu setelah mereka bertemu, habis itu udah selesai. Ka Agungnya pun pulang. Nah, kami sepakat untuk duduk sebentar di De’Jhon. Ditempat itulah mulanya aku berbohong. Sebenarnya kala itu aku ga mau berbohong, tapi karena terpancing oleh cerita Anindya dan Shara, jadilah aku menjadi seorang pembohong. Aku bilang sama mereka begini, hmm sebenernya gue udah ditembak sama cowo waktu gue dirumah sodara gue di Pasar Minggu anaknya si cakep putih pake kacamata dia nembak gue pake surat anaknya si pemalu, tapi gue belom jawab gue bingung. Lalu shara dan anindya menanggapi, sayangnya wawa sudah pulang untuk pergi ke Ragunan bersama teman-teman rumahnya.           Hari Seninnya di sekolah,shara dan anindya bilang ke wawa bahwa aku sudah ada yang nembak. Wawa pun kaget dan ikut merasa senang. Wawa juga lagi menjalani masa percobaannya pacaran dengan Panji teman rumahnya.           Berbohongku berakhir ketika aku dan wawa janjian untuk mutusin pacar-pacar kami. Tapi aku bilang aku duluan yang telah putus dengan Iqbal, beda sehari doang si bedanya. Aku takut kebohonganku terbongkar karena mereka menanyakan terus wajah pacarku dan mereka meminta untuk bertemu dengan pacarku. Gimana mau ketemu orangnya aja gue ga tau, kata ku dalam hati. ***Aku tak tahan berbohong terus sama mereka. Mereka terlalu baik untuk aku bohongi. Sampai akhirnya aku mengaku jika selama ini aku tidak pernah memiliki pacar atau bahkan berpacaran. Tersentak mereka yang sedang minum terhenti. Mereka masih berkata bahwa aku hanya bercanda. Setelah aku menjelaskan semuanya, mereka baru percaya. Semuanya menjadi diam tanpa terdengar satu katapun keluar dari mulut mereka. Akupun berlari menuju teras rumah shara dengan menangis. Wawa menghampiriku dan berkata kepada ku dengan nada kesal dan marah bahwa, aku telah tega membohongi kami semua dan mereka pun jadi tidak percaya lagi kepadaku. Aku mengambil tas dan pulang.           Wawa, shara, dan anindya masih dirumah shara dan masih membahas masalah tadi. Wawa dan shara masih terlihat kesal, tapi Anindya menengahi dan berkata bahwa, kita jangan ngmbil keputusan sepihak dulu kita tanya dulu ke dia dari hati ke hati. Tapi mereka masih belum setuju. Hubungan persahabatan kami menjadi renggang karena aku telah mengaku.          Di sekolah shara selalu menyindirku dengan kata-kata pedas setiap aku melewati kelasnya. Aku terima kareana semua ini karena ulahku.            Hari ulang tahunku tinggal beberapa hari lagi. Aku berharap mereka mengucapkan Happy Birthady kepadaku. Sampai aku tak tidur semalaman dan memendangi layar hpku berharap mereka ingat hari ini adalah hari spesial untukku. Di kelas aku dimarahi oleh guruku karena tidur dikelas. Aku merasa hari spesialku malah hari burukku. ***Aku heran sama perasaanku, entah kenapa aku semangat sekali untuk pulang ke rumah. Tidak seperti biasanya. Sesampainya di rumah aku terkejut karena ada sebuah kejutan pesta kecil untukku. Setelah membuka pintu, wawa yang masih mengenakan seragam sekolah membawakan aku sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka 15diatasnya. Mereka menyanyikan lagu Happy birthday untukku. Aku menangis dan terharu bahagia karena mereka masih mengingat dan memberiku sebuah pesta kecil untukku. Mereka berkata bahwa mereka telah memaafkan kesalahanku dan melupakan apa yang sudah terjadi. Aku bahagia sekali karena mereka telah memaafkan aku, padahal aku sudah jahat sama mereka. Dan aku berjanji kepada mereka dan diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Karena aku akan kehilangan sahabat-sahabat terbaik yang aku punya selama ini. ***Thanks waraz, itu adalah hadiah terbaik yang ku punya selama ini. Bahwa aku harus bersyukur dengan apa yang aku miliki.

Cara ampuh amankan facebook

Cara Ampuh Amankan Account Facebook
Sesuaikan ukuran huruf:
Akhir-akhir ini marak kita dengar usaha pembobolan account Facebook di sekitar kita. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Padahal sebagian besar dari kita telah sangat mempercayai layanan social networking ini dalam komunikasi sehari-hari. Kemudian, pertanyaan berikutnya setidaknya adalah bagaimana cara mengamankan account Facebook kita dari ancaman ini.
Berikut in merupakan langkah-langkah antisipasi yang bisa diambil untuk mengamankan account Facebook kita.
1. Hindari Login melalui http://www.facebook.com , karena halaman ini tidak dienkripsi. Informasi Login Anda memang dienkripsi, namun karena form login ini berada dalam sebuah frame, user tidak dapat melihat apakah semuanya terenkripsi atau tidak.
2. Lakukan proses login Anda dari halaman https://login.facebook.com/login.php?login_attempt =1. Anda dapat memastikan bahwa login yang Anda lakukan aman dengan mengecek sebelah kanan bawah browser yang menampilkan ’lock sign’.
3. Jangan melanjutkan proses Login jika terdapat peringatan bahaya (security alert). Anda dapat segera menghentikan proses yang ’tidak aman’ tersebut dengan tombol ’Esc’.
4. Jangan lupa untuk selalu melakukan Logout setelah selesai mengakses account Facebook Anda. Dengan hanya mematikan browser tanpa proses Logout, berarti Anda telah meninggalkan ’session’ Anda untuk diakses orang lain. Oleh karenanya sangat penting untuk Anda selalu melakukan Logout.
5. Jangan terbiasa bekerja dengan hak sebagai system administrator. Akan sangat berbahaya jika Anda membuka email, gambar maupun dokumen dengan mempergunakan account administrator, karena hal ini akan membuka kemungkinan bagi penjahat cyber untuk mengambilalih komputer Anda.
6. Waspada terhadap Malicious Facebook Widget. Widget atau aplikasi tambahan dapat memberikan kesempatan bagi pembuatnya untuk menyelipkan coding program untuk mengakses informasi penting dari komputer target. Hingga saat ini ada dua macam Malicious Facebook Widget yang dilaporkan menyerang pengguna Facebook, yaitu Secret Crush dan Error Check System.
7. Hati-hati dalam memilih komputer untuk dipakai. Jika Anda terbiasa memakai komputer umum atau berganti-ganti komputer, seperti di rental atau pun warung Internet (warnet), maka Anda harus berhati-hati dalam memilih dan mempergunakan. Hal ini disebabkan tidak adanya jaminan update security yang maksimal dari komputer tersebut. Padahal komputer yang telah terinfeksi Koobface Worm, atau keylogger dapat mencuri data user beserta passwordnya.
8. Hati-hati dalam memilih jaringan koneksi Wi-Fi Internet. Hanya proses login Facebook yang dienkripsi mempergunakan SSL/TLS (https). Sementara itu cookies Facebook akan dengan sangat mudah diambil dari udara (melalui sinyal koneksi Wi-Fi Internet). Wi-Fi diproteksi enkripsi WEP yang dengan mudah dipatahkan dalam waktu 10 menit. Saat ini setiap orang dapat saja dengan mudah membuat hotspot dan memberikan free-access kepada Anda. Tapi yang harus Anda waspadai adalah tingkat keamanan akses yang ditawarkan, karena dengan mengakses Facebook di jaringan koneksi yang tidak terlindungi, sama saja memberikan data private Anda secara cuma-cuma.
9. Pikirkanlah masalah keamanan sebelum Anda melakukan click pada ’Wall’. Posting pada Wall merupakan salah satu cara penyebaran Koobface ataupun malware lainnya, oleh karenanya Anda harus berhati-hati mengaksesnya.
10. Yang terakhir adalah cara bagaimana kita meningkatkan kepedulian akan bahaya keamanan Facebook ini pada orang-orang sekitar kita. Karena dengan meningkatnya kewaspadaan orang-orang di sekitar kita juga akan mendukung keamanan kita.

Kelestarian Lingkungan hidup

ARTIKEL
Kerangka Tulisan:
1.     Menentukan Latar Belakang Materi,
  1. Uraian Materi Pokok,
  2. Permasalahan,
  3. Cara Penanggulangan Permasalahan,
  4. Kesimpulan.

Kelestarian Lingkungan Hidup

     Tidak bisa disanggah lagi kalau saat ini, segala aktifitas yang di lakukan masyarakat modern sangat tergantung pada ketersediaan energi. Hampir di semua sektor kegiatan, energi menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu, kemajuan suatu Negara akan sangat terkait dengan kecukupan ketersediaan energi di Negara tersebut. Sebut saja Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Negara-negara Eropa lainya, bahkan Korea. Ketersediaan energi di Negara-negara tersebut sangat menandai untuk melakukan kegiatan di berbagai bidang yang bisa di andalkan untuk pembangunan bangsa dan negaranya. Namun, dalam pengadaan energi tentu saja harus memerhatikan faktor kelestarian lingkungan hidup. Karena lingkungan tempat mahluk hidup ini bernaung tidak kalah pentingnya dari kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Merusak lingkungan hidup sama saja dengan mencelakakan diri sendiri. Lingkungan hidup suatu Negara akan sangat berkait dengan  Negara lain karena kita tinggal di bumi yang sama. Oleh sebab itu, setiap Negara sangat berkewajiban untuk sungguh-sungguh memerhatikan dan mencegah hal-hal yang bisa menjadi penyebab kerusakan lingkungan hidup.
     Dampak kerusakan lingkungan hidup seperti pemanasan global saat kini sudah mulai di rasakan di berbagai belahan bumi ini. Seperti terjadinya peningkatan suhu udara, permukaan air pasang, yang bisa menenggelamkan pulau-pulau kecil, dan daratan di sekitar pantai, terjadinya perubahan iklim, mata air mulai tercemar yang kini sudah terjadi di beberapa tempat termasuk di negeri ini. Semua itu karena lingkungan tempat manusia dan mahluk hidup lainnya sudah tercemar. Bahkan, menurut sumber-sumber yang bisa dipercaya, keganasan topan yang akhir-akhir ini suka melanda salah satu bagian di daratan Amerika, diprediksi oleh para ahli sebagai efek dari pemanasan global. Ancaman lain yang tidak kalah bahayanya bagi kehidupan manusia adalah terjadinya hujan asam.
     Di Indonesia sendiri, memasuki tahun 2006 telah terjadi angin badai di beberapa perairan yang mengakibatkan banjir di daerah sekitar pantai hingga berhari-hari. Akibatnya para nelayan tidak bisa turun ke laut untuk mencari ikan sehingga mereka mengalami masa-masa paceklik. Belum lagi lebatnya curah hujan mengakibatkan banjir dan tanah longsor di beberapa daerah. Kejadian-kejadian seperti ini tentu masih punya kaitan dengan pemanasan global akibat kerusakan lingkungan. Jika penyebab-penyebab kerusakan global ini tidak ditanggulangi untuk ditekan sekecil mungkin, tentu kerusakan lingkungan yang sudah terjadi ini akan semakin parah. Akibatnya, akan merugikan semua mahluk hidup termasuk kita.
penyumbang terbesar kerusakan lingkungan hidup secara menyeluruh adalah polusi yang ditimbulkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Seperti batu bara, bahan bakar minyak, dan gas alam secara besar-besaran. Dari pembakaran itu berakibat terjadinya emisi rumah kaca sebagai penyebab pemanasan global.
Masalah lingkungan hidup memang bukan persoalan salah satu Negara saja, tetapi sudah menjadi tanggung jawab seluruh bangsa dan Negara. Oleh karena itu, kita harus mengusahakan diri untuk mencegah rusaknya lingkungan hidup. Beberapa Negara yang masih memanfaatkan bahan bakar fosil berusaha mengurangi efek rumah kaca dengan menggunakan bahan bakar gas alam yang secara ekonomis sangat kompetitif bila dibandingkan dengan penggunaan minyak bumi dan batu bara. Hanya sebenarnya gas alam juga tetap menimbulakan karbon dioksida, tetapi lebih sedikit bila di bandingkan dengan penggunaan minyak bumi dan batu bara. Di samping itu, gas alam juga menimbulkan methan selama proses penyediaannya, yang kesemua itu dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan. Akhir-akhir ini sering muncul teori tentang efek rumah kaca. Pariset Amerika mengatakan bahwa variabel aktivitas mataharilah yang berpengaruh pada naik turunya suhu global. Namun, mengurangi pembakaran bahan bakar fosil bagi pemenuhan kebutuhan energi tentu mempunyai manfaat yang besar, paling tidak sebagai langkah penghematan cadangan sumber daya alam yang ada untuk dipergunakan oleh anak cucu kita nanti.

LOVE